KERBAU di dalam KEBUDAYAAN NUSANTARA

(CENTRUM VAN BUFFECULTUS – ALS MASGISCHE KRACHBRON)

 

Kerbau merupakan jenis hewan ternak yang memiliki peran dalam kehidupan masyarakat Nusantara, sejak Megalithicum. Periode (Megalitik) yang menandai tumbuh dan berkembangnya suatu konsepsi keyakinan terhadap kerbau dan binatang suci dan sumber kekuatan magis yang mampu mengusir dan menolak kekuatan jahat, sehingga kerbau banyak digunakan sebagai kurban hubungannya dengan berbagai upacara. Mengingat peran dan fungsinya yang sangat meluas di seluruh Nusantara dan sangat penting dalam kedudukan sosial-ekonomi dan religius kulturil Nusantara, Nusantara pernah dijuluki sebagai “Centrum van Buffecultus”.

Kecuali dianggap sebagai binatang suci yang kerap bertaut dengan upacara kurban dalam upacara keagamaan, penyembelihan kerbau dimaksudkan sebagai binatang kurban dalam upacara-upacara tertentu khususnya pada upacara kematian, dan upacara2 suci lainnya yang berhubungan dengan peristiwa perubahan tanah khususnya hidup pada budaya Agraris di Nusantara.

Kurban kerbau dipandang sebagai sumber magis (als magische krachbron) juga dihubungkan dengan kultur untuk menghormati nenek moyang dan upacara kesuburan (kemakmuran). Bersamaan dengan keadaan itu, maka mulailah dididrikan bangunan-bangunan Megalitik seperti yang kerap dijumpai pada upacara-upacara trdisional etnis Nusantara, seperti di Nias, Flores, Sumba dan lainnya yang meyakini bahwa kerbau merupakan binatang suci dan keramat.

Sebagai sumber kekuatan magis, sekaligus pula, kerbau dianggap mengandung kekuatan penolak terhadap gejala-gejala kekuatan jahat. Kemudian kerbau dianggap pula sebagai kendaraan bagi arwah nenek moyang yang telah meninggal dunia. Dalam kaitan ini kerbau termasuk pula sebagai suatu unsure di dalm system dualisme (bipartite system), dimana alam semesta itu dibagi atas dua yaitu dua golongan yang saling berhubungan satu sama lainnya – dunia atas dan dunia bawah; laki2 dan perempuan, tanah dan air dan lain sebagainya. Konsep kepercayaan kerbau telah berkembang di dalam cita-ciata Nusantara dan sangat mempengaruhi upacara keagamaan dari masa ke masa.

Di Bali, misalnya, yang mengenal upacara Panca Yadnya (5 macam upacara utama). Diantaranya pada peristiwa Ngaben disertai upacara titimamah, berbgai sesajen(upakara)nya menyertakan kulit, kepala, organ kaki dan organ tangan kerbau yang dibiarkan utuh, maksudnya tiada lain sebagai titian (jembatan) atau tumpuan upacara Sekah, simbol sang Atma dari yang telah meninggal – sebelum dinaikkan ke balai-balai yag membawa Sekah untuk dihanyutkan ke laut.

Demikian pula pada peristiwa upacara besar “Manca-wali-krama” bagi Pura Agung Besakih disertai pula serangkaian upacara “Mapulang-pakolem” ke laut, dan ke danau dengan memaka kerbau; selain itu di Bali ada jimat untuk menjaga keselamatan tanh dan ladang disebut “Kebomakale”. Jimat itu dibuat dari lempengan logam yang di dalamnya telah dipahatkan seekor kerbau beserta mantra-mantra magis selanjut-nya di tanam dalam tanah – lading yang bersangkutan.

Kerbau juga dipakai dalam upacara Piodalan (ulang tahun Pura) diantaranya di Pura Tegeh Koripan di Sukawana – Kintamani, selalu mempergunakan kerbau pada piodalan biasa yang diperingati setahun sekali cukup diberi sajen seekeor kerbau; sedangkan pada upacara piodalan besar yang dilaksanakan 10 tahun sekali biasanya menyertakan kurban empat ekor kerbau. Selanjutnya pada akhir upacara piodalan yang disebut upacara “Mekelem” atau “Bakti penyineb” – tulang belulang kerbau dan kepala kerbau ditanam di halaman pura penerajon dilengkapi dengam sesajn keben-kebenan (palawija).

Sejumlah prasasti-prasasti Jawa Kuno khususnya masa Mataram Kuno Jawa Tengah (abad 8-11 Masehi), yang berkaitan dengan memperingati peristiwa Sima. Peristiwa sacral sehubungan perubahan status tanah dengan seluruh kandungan (penduduk, tanah dan isinya), diresmikan melalu upacara keagamaan dan diantara sesajen persaratan resmi adalah menanam kepala kerbau; yang didalam prasasati kepala kerbau ini disebut “hadangan”.

Selain di Bali, paling mencolok peranan kerbau hingga kini masih lekat dijumpai di Tana Toraja. Kerbau, selain dianggap sebagai pokok harta benda (karena tremasuk jenis hewan ternak itu) yang menjadi pangkal penilaian dalam pembagian warisan juga untuk keperluan upacara-upacara keagamaan. Sesuai kepada fungsi dan peran kerbau tersebut, maka masyarakat kebudayaan Toraja membedakan jenis-jenis kerbau yang bisa dikurbankan, antara lain disebutkan, bahwa:

– untuk upacara yang bersifat persembahan Aluk Rambu Tuka (=Aluk Rampe Mataallo) yaitu mengormati Puang Matua (leluhur) hanya dipergunakan jenis kerbau yang hitam pekak yang dijuluki Tedong (kerbau) Puduk atau Tedong Pesuruh Aluk
– untuk upacara kematian/penguburan (Rambu Solok) digunakan jenis kerbau yang disebut Tedong Penuka

Pilihan dasar atas kerbau-kerbau yang dipilih dan ditetapkan untuk keperluan upacara tersebut disertai ketentuan tanda-tanda yang terdapat pada tubuh kerbau. Diantaranya warna kulit, ukuran berat, umur dan bentuk tanduk kerbau adalah yang paling penting. Masyarakat Tana Toraja menentukan bahwa kerbau yang dianggap bernilai terbaik yang kulitnya belang-belang putih seluruh tubuhnya; sedangkan kerbau dengan nilai terendah adalah kerbau bule. Jenis kerbau berkulit bule ini samasekali dilarang (pantang) dipergunakan dalam upacara apapun.

Dasar penilaian terhadap kerbau sebagai binatang kurban bagi upacara keagamaan tersebut dilatari kepercayaan setempat yang telah berlangsung turun temurun, dengan dasar anggapan tadi bahwa kerbau selain merupakan binatang suci dalam upacara-upacara juga dianggap memiliki unsure magis yang sangat kuat sekaligus merupakan kendaraan bagi perjalanan roh leluhur menuju alam arwah.

Pengaruh konsep kepercayaan tersebut juga ditampilkan secara nyata ked ala, berbagai aspek dan perangkat budaya masyarakat Tana Toraja. Pada bagian banguna rumah Toraja – Tongkonan – terutama bagian atap dihiasi susunan tanduk-tanduk kerbau, jumlah tanduk yang disusun tersebut menggambarkan “prestige” keluarga Tongkonan yang memilikinya. Tanduk kerbau juga dipakai sebagi hiasan pada gerbang pemamakan (Batu Tumoga).

Kerbau juga masih dipergunakan pada kelompok masyarakat Kalang (Yogyakarta) untuk upacara kematian dengan dasar kepercayaan yang sama yaitu menghormati dan sebagai kendaraan si mati menuju alam arwah.

Keyakinan tentang kerbau juga hingga kini terpatri sebagai sebutan masyarakat Sumatra Barat – Minangkabau” tetapi bukan artinya “menang adu kerbau” melainkan harus diterjemahkan dengan MA INANG KERBAU > beribu kepada kerbau adalah ungkapan simbolis – kognitif bahwa masyarakat kebudayaan Sumatra Barat menghormati DEWI IBU (inang-ibu-bunda – mande) yaitu Tanah tumpah darah tempat mereka lahir khas sifat masyarakat AGRARIS! hingga kini pun sifat dan konsep masyarakat M-inang – kerbau berpangkal pada keluarga ibu (matrilineal) – Ninik Mamak!

 

Cag heula
AMBU

Published in: on 31 Januari 2012 at 18:24  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://boedaksatepak.wordpress.com/2012/01/31/kerbau-di-dalam-kebudayaan-nusantara/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: