TRITANGTU

AKTUALISASI TRITANGTU DI BUMI

PADA KEHIDUPAN ORANG SUNDA DEWASA INI.

Oleh : Otong Toyibin Wiranatakusumah

*materi seminar yang diberikan pada Dinas Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional,jalan Sumbawa, Bandung.

Bila kita berbicara mengenai Hukum Tilu (tiga), maka kita akan membicarakan hal yang sangat tua (kuno) dan berdimensi luas. Hal ini disebabkan karena hukum tiga telah dikenal ribuan tahun yang lalu dan menyangkut berbagai aspek dalam kehidupan manusia, baik itu mengenai hal-hal yang konkrit atau perilaku-perilaku nyata serta hal-hal yang bersifat spiritual ataupun agama.

Banyak sekali contoh-contoh mengenai hukum tiga yang kiata dapatkan, diantaranya ;

*Ribuan tahun yang lalu dalam agama Hindu dikenal adanya dengan apa yang disebut TRI MURTI, Tiga Dewa Utama yakni Wishnu, Siwa dan Brahma, tiga dewa ini merupakan unsur utama dan pokok dalam ajaran Hindu, karena tiga dewa inimerupakan simbol dari cikal bakal segala eksistensi di semesta ini.

*Agama Katolik mengenal pula konsep tiga ini dalam ajarannya yaitu yang disebut TRINITAS, tiga unsur Tuhan yaitu Roh Kudus, Tuhan Ibu dan Tuhan Bapak.

*Agama Budha pada ajarannya banyak sekali kita dapatkan patokan-patokan tiga, diantaranya;

-AUM yang disebut TRI RATNA, yaitu A=Budha , U=Dharma dan M=Sangha

Tri Ratna yang disebut sebagai kalam keramat yang memanifestasi takala alam dalam keadaan kosong dan ini pula yang menjadi dasar ajaran Budha.

-TRI KAYA atau tiga tubuh,yakni Nirmayakaya=tubuh perubahan, Sambhogakaya=tubuh cahaya dan Dharmakaya=tubuh keabadian.

-TRI LAKHANA, TRIPITAKA,dll.

*Didalam ajaran Islam pun kita dapatkan prinsip tiga ini yaitu dalam surat Al-Baqoroh, menyatakan bahwa ALIF-LAM-MIM adalah kitab yang sebenarnya, walaupun ini belum terungkap maknanya sampai saat ini.

*Plato ( Tahun 427 SM ) dalam bukunya POLITEA, menyatakan bahwa negara ideal jika tersusun dari tiga golongan masyarakat secara harmonis ;

-Golongan 1 = Gol. Pemimpin : harus berada di tangan filsuf, para filsuf mewakili unsur rasional dan kebijaksanaan.

-Golongan 2 = Gol. Tentara   : tentara mewakili unsur hati utamanya unsur keberanian.

-Golongan 3 = Gol. Petani dan Tukang : petani dan tukang mewakili unsur perut alias mewakili urusan ekonomi.

*Montesquieu dengan konsep TRIAS POLITICA yang diadopsi oleh hampir semua negara di dunia saat ini walaupun tidak secara murni. Menyatakan pembagian kekuasaan didalam kehidupan bernegara atas tiga bagian yaitu ; Legislatif, Yudikatif dan Eksekutif.

Prinsip ini sudah sangat umum kita ketahui dan pahami, begitu pun hukum tiga ini terdapat dalam filosofi dan tatanan kehidupan suku-suku bangsa di nusantara ini,terutama dalam tatanan kehidupan orang Sunda banyak terdapat patokan-patokan tiga, diantaranya ada yang disebut Tri Tangtu Di Bumi yang menjadi pokok bahasan kita selanjutnya.

 

TRI TANGTU

Istilah Tri Tangtu ini membawa kita kepada pertanyaan ;

1. Kenapa Tri atau tiga ?

2. Apa yang disebut atau yang dimaksud dengan Tangtu ?

Namun sebelum menjawab 2 pertanyaan diatas, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu mengenai apa ayng disebut BUDAYA, oleh karena Tri Tangtu ini sangat erat melekat dengan Budaya Sunda.

Kita ketahui , bahwa banyak sekali cerita dan pengertian mengenai apa yang disebut budaya, namun tidak ada salahnya kalau saya mencoba menambahkan satu lagi kriteria budaya ini, mudah-mudahan bisa diterima oleh semua.

Menurut saya pengertian Budaya ini harus ditarik secara makro dan jangan dipersempit,agar dapat mewadahi segala aspek dan dimensi.

Apabila kita berandai-andai tatkala seorang individu mempertanyakan tentang eksistensinya sendiri dalam pertanyaan ; Siapa aku ?, darimana aku ?, dan hendak kemana aku ?, ini merupakan pencarian jati diri. Proses pencarian jati diri sangat dipengaruhi oleh alam dan lingkungan hidupnya, sehingga dari apa yang dilihat dan dirasakannya akan sampai pada kesimpulan bahwa semua ini ada yang menciptakannya yaitu TUHAN. Apa dan Siapa Tuhan ini, itulah Konsep Ketuhanannya.

Dari konsep ketuhanan ini akan melahirkan pengertian-pengertian filosofis dan agama,saya tidak tahu mana yang lebih dulu antara falsafah atau agama. Namun dari falsafahdan agama akan melahirkan disiplin-disiplin atau sistem-sistem, sistem akan melahirkan berbagai subsistem dan seluruh aspek, mulai dari pencarian jati diri sampai sub sistem , inilah yang disebut Budaya atau adab yang dalam perjalanannya menghasilkan peradaban.

( maaf,skema blm bisa tampil disini,Red. ) 😉

Dalam kaitan 2 pertanyaan mengenai Tri Tangtu diatas ,kita ambil sebagai contoh Konsep Budaya diatas pada budaya Sunda.

Budaya Sunda tentulah sangat erat kaitannya dengan alam dan lingkungan hidupnya.

Dalam pencarian jati diri seorang manusia Sunda yang hidup dalam alam yang Kaya ,Subur Makmur,Gemah Ripah Loh Jinawi, dimana Cai Cur-cor ,Pasir jeung Lebak hejo ngemploh, dimana beratus gunung tinggi yang menyediakan Ribuan macam Tumbuh-tumbuhan dan Ribuan macam Satwa, memberikan Kemudahan dan Kenikmatan hidup bagi manusia Sunda, maka kenikmatan dan kemudahan ini akan dipandang sebagai Anugrah dari sesuatu yang menghendaki dan menciptakannya oleh penuh rasa Kasih dan Suci  dan alam yang sempurna ini tentulah diciptakan oleh sesuatu yang sempurna dan maha.

Maka kesimpulan sang pencipta inilah yang disebut Tuhan atau Gusti, Gusti Anu Maha Asih,Anu Maha Suci,Anu Maha Agung dan Asih-lah yang menjadi energi utama dari kehendak Tuhan itu.

Dalam proses penciptaan yang penuh asih ini Tuhan lebih dulu menciptakan jagat atau alam. Yang disebut alam ini adalah terdiri dari 5 unsur yakni Udara atau angkasa,Bumi,Air,Tumbuhan dan Satwa.

Manusia yang hidup dalam suatu lingkungan mau tidak mau akan sangat kuat dibentuk baik fisiknya maupun mental spiritualnya oleh lingkungan alamnya itu.  Ini bagi Ki Sunda melahirkan pengertian bahwa alam-lah yang meng-asah dirinya.

Ki Sunda didalam rasa rumasa dan tumarimanya akan anugrah nikmat hidup ini,sadar bahwa segala sesuatu bukanlah miliknya, sekalipun dirinya sendiri adalah milik Tuhan, semua adalah titipan Tuhan dan semua akan terpulang kepada-Nya, kepada kehendak-Nya dan semua akan kembali kepada-Nya, ini yang disebut dengan Wiwitan, yaitu konsep kembali ke asal.

Kesadaran diatas menumbuhkan pengertian bahwa manusia wajib menjaga semua milik dan titipan Tuhan ini , dengan kata lain manusia wajib mengasuh, baik dirinya sendiri,sesamanya maupun lingkungan hidupnya.

Singkatnya pengertian-pengertian diatas menjadi..

– Gusti Anu Asih

– Alam anu Ngasah

– Manusa anu Ngasuh,ngasuh Kujur ,Batur jeung Lembur.

 

Asih-Asah-Asuh ini kita kenal sebagai dasar dari kehendak Tuhan atau hukum alam adalah hukum Tuhan,inti dari hukum alam adalah hukum pasti atau Tangtu.

Pasti atau Tangtu ini terkandung didalam proses wiwitan dan didalam hukum sebab akibat yang dalam istilah Sunda disebut hukum Pepelakan.

Didalam pantun-pantun dan mantra-mantra Sunda kerap kita dengar ada tiga unsur di alam kahiangan atau alam gaib yaitu Wenang,Kala,Wening.

Wenang: sesuatu yang hanya dimiliki Tuhan atau otoritas Tuhan ,sehingga semesta ini disebut alam pawenangan.

 

Kala      : adalah proses dalam penciptaan yang berisi kehendak atau program dari sang pencipta, perjalanan proses ini perlu waktu atau saat, oleh karena itu kala sering disebut waktu.

Wening : adalah segala sesuatu yang diciptakan dan ia adalah yang menerima dan diam dalam arti Tauhid atau Tuhu kepada kehendak pencipta.

Tiga unsur tadi dimanifestasikan menjadi Tuhan ,Alam ,dan Manusia yang merupakan 3 unsur utama semesta.

Mungkin .. dari pengertian-pengertian diatas lahirnya ungkapan Tri Tangtu.

 

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Tri Tangtu merupakan dasar dari akar falsafah Sunda, oleh karena  ternyata Tri Tangtu ini merefleksi dan direpresentasikan pada segala sistem dan sub sistem didalam Budaya Sunda seperti pada sistem Negara, sistem Sosial, sistem Hukum,sistem Seni dan lain sebagainya tidak terlepas dari prinsip Tri Tangtu ini, dan ini merupakan tugas kita semua untuk meneliti dan mengungkap keberadaan Hukum Tiga in sebagai dasar dari Budaya Sunda.

 

Kita ambil contoh bahwa 3 unsur tadi yaitu Wenang Kala Wening beremanasi sehingga di simbolkan sebagai 3 warna cahaya yaitu Putih,Kuning,dan Merah, Tiga warna ini kita dapati pada Tumpeng, putih didalamnya yaitu telur atau ikan teri putih, kuning pada nasi atau badannya, serta merah yaitu pada cabai merah sebagai puncak manik.

 

Tri Tangtu juga di simbolkan didalam bentuk yaitu Segitiga. Segitiga adalah dasar dari segala bentuk. Bentuk segitiga ini kita dapati pada atap rumah tradisi Sunda serta ornamen puncaknya yang disebut Cagak Gunting yang merupakan 2 segitiga yaitu segitiga tak berbatas dan segitiga berbatas sebagai simbol alam gaib dan alam nyata tempat kita hidup. Rumah itu sendiri terdiri dari 3 bagian yaitu Tatapakan dan kolong, bagian tengah serta atap. Disamping itu kita kenal ada Tri Tangtu yang lain yaitu Tri Tangtu Salira , tiga titik pusat dari tiga bagian tubuh yaitu Dada,Perut dan Kepala disebut titik-titik  DA,SA,RA.

 

DA : titik pusat bagian dada yaitu pada jantung yang meruapakan representasi dari unsur Tuhan ,Ini dijelaskan karena jantung adalah pusat hidup atau pusat tempat masuknya energi yang menghidupkan yang berasal dari Tuhan yang disebut Daha. Wilayah dada ini adalah wilayah Asih dan wilayah Ketuhanan.

SA : titik pusat bagian perut yaitu pada pusar atau udel, sebagai titik pusat proses perwujudan ; bahwa kita diwujudkan didalam perut ibu melalui tali ari-ari yang menyambungkan Bali dan pusar kita. Wilayah Perut ini merupakan representasi dari unsur Alam yang mengasah atau membentuk wujud diri.

RA : titik pusat Otak, titik RA adalah suatu kelenjar yang merupakan pusat syaraf dan pusat otak yang merupakan pula pusat pengendali Badan dan Kehidupan. Wilayah RA ini mewakili unsur Manusia karena kepala inilah yang membedakan manusia dengan mahluk lain ,dengan kata lain kepala adalah wilayah kemanusiaan atau wilayah Asuh.

 

Titik RA ini dilambangkan sebagai matahari ( atau Dewa Matahari ), Manik Maya atau Rajawali atau Singha atau titik Jenar ( Merah ).

Titik RA yang merupakan pusat segala syaraf yang terdapat pada sum-sum tulang belakang yang berjumlah 25 ruas ditambah 7 ruas tulang leher dilambangkan sebagai Naga  ( naga kuning atau emas ) atau Ular berkepala 7  (didalam cerita Hindu) , jadi Naga-Ra adalah badan kita sendiri.

25+7+1 (RA)= 33.  Mungkin inilah yang disebut Nu satelu puluh telu oleh orang Kanekes (Baduy), dan menurut cerita ,tinggi tiang utama istana Pajaran adalah 33 depa.

Hitungan 33 juga dipakai sebagai patokan pada Tarawangsa, yaitu dari gong ke gong adalah 33 ketukan . RA sebagai pusat pengendali kehidupan dimana wujud kehidupan ini merupakan Tri Tangtu yaitu Tri Karma yang terdiri dari Bayu,Sabda, Hedap atau Pikir,Ucap dan Lampah ( perbuatan ). Tiga unsur tadi mempunyai Energi dan tiap manusia mempunyai Frekwensinya masing-masing. Akumulasi dari 3 energi ini disebut RAHA (Roh).

 

Tri Karma atau Pikir ,Ucap,Lampah ini juga ditentukan oleh Galuh,Galeuh dan Galih atau menurut istilah sekarang Naluri,Nurani dan Nalar (bandingkan dengan istilah SQ,EQ dan IQ).

Istilah Tri Tangtu Salira ini sebenarnya ada dihampir semua bangsa di dunia , mungkin pada kesempatan lain akan kita bahas mengenai itu.

(skema blm bisa ditampilkan, Red.)

================

TRI TANGTU DI BUMI

Literatur mengenai Tri Tangtu ini sangat minim, diantaranya terdapat dalam naskah amanat Galunggung dan Siksa Kandang Karesian. Drs. Aca, didalam kata pengantar terjemahan naskah amanat Galunggung menyatakan bahwa amanat Galungung-Kropak 632 menjelaskan tentang kedudukan Tri Tangtu Di Bumi yaitu, Rama-Resi-Ratu. Ketiga-tiganya mempunyai tugas yang berbeda ,akan tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan ,tidak ada diantara mereka yang berkedudukan lebih tinggi dari yang lainnya. Tugasnya setara dan sama-sama mulia, ketiga pemimpin tersebut harus bersama-sama menegakan kebajikan dan kemuliaan melalui ucap dan perbuatan.

Dunia kemakmuran tanggung jawab sang Rama,Dunia kesejahteraan hidup tanggung jawab sang Resi, Dunia pemerintahan tanggung jawab sang Prabu/Ratu.

Jagat Palangka di sang Prabu, jagat Daranan di sang Rama, jagat Kreta di sang Resi.

Sedangkan masyarakat yang masih mempergunakan sistem ini adalah masyarakat adat.

Diantaranya masyarakat Kanekes atau Baduy dan di sebut tangtu telu yakni Cibeo-Puun Ponggawa,Cikertawana-Puun Rama, Cikeusik-Puun Pandita disertai 7 jaro.

Dengan literatur yang sangat minim ini tentulah sangat sulit untuk memahami dan mendalami konsep Tri Tangtu Di Bumi ini.

Namun apabila kita membandingkan dengan tatanan masyarakat di Kanekes yang menurut saya adalah masyarakat Sunda yang Origin, sangat jelas bahwa TriTangtu Di Bumi merupakan suatu sistem sosial sekaligus merupakan sistem pemerintahan dan politik.

Berbeda dengan Trias Politica nya Montesquieu yang membagi kekuasaan menjadi 3 bagian atau unsur, maka Tritangtu Di Bumi merupakan pembagian peran didalam tatanan sosial dan negara, dimana masing-masing bagian mempunyai wilayah teritorial sendiri.

Bila kita bandingkan tugas masing-masing unsur, maka seperti Tritangtu yang lain, Tritangtu Di Bumi juga merupakan refleksi dan representasi dari 3 unsur Tuhan,Alam dan manusia.

Rama :  Representasi dari unsur Tuhan yang dimanifestasikan dalam tugas Rama yaitu bidang Spritual, dimana seorang rama ini adalah manusia yang sudah meninggalkan kepentingan yang bersifat duniawi dan lahiriah, sehingga bisa menjaga rasa asih yang tinggi dan bijaksana.

Resi :  Representasi dari unsur alam yang merupakan penyedia bagi kepentinagn kehidupan , maka para Resi merupakan ahli-ahli atau guru-guru didalam bidang-bidang diantaranya pendidikan,militer,pertanian,seni,perdagangan,dan lain sebagainya. Misinya adalah Asah.

Ratu :  Representasi unsur manusia yang bertugas untuk mengasuh seluruh kegiatan dan kekayaan negara. Karena misinya adalah Asuh, maka didalam tatanan Sunda para pemimpin ini disebut Pamong atau Pangereh dan bukan Pemerintah.

Adanya pembagian wilayah teritorial bagi masing-masing unsur tentulah tidak lazim bagi pengertian jaman sekarang serta sering membingungkan kita oleh karena banyak istilah-istilah seperti Kabuyutan,Kadaton yang berbeda dengan Karaton dan Pakuan sebagai pusat pemerintahan.

Kesimpulan :

Bila kita bandingakan paparan diatas dengan keadaan kenyataan masyarakat Sunda masa kini, maka dengan sangat sedih kita harus mengakui bahwa tatanan Tritangtu Di Bumi pada masa dekat Sunda kini telah punah, kecuali pada masyarakat-masyarakat adat.

Hal ini disebabkan karena Tatar Sunda yang sangat strategis ,baik secara Geografi maupun secara Geopolitik telah menjadi arena masuknya segala pengaruh asing yang secara penuh diadopsi oleh masyarakat Sunda Modern, oleh karena itu otomatis dan perlahan namun pasti Budaya Sunda tersingkir dan terbunuh dari masyarakatnya sendiri dan tidakmungkin lagi menerapkan tataran asli Sunda pada situasi yang demikian.

Apabila kita pahami,Tritangtu adalah benang merah dalam Budaya Sunda dan merupakan akar serta roh dari budaya Sunda atau disebut Pakem.  Bila kita kaitkan dengan konsep budaya yang saya ajukan diatas, maka jelas Titik Awal lepasnya pakem ini dimulai dari mana.

Ki Sunda sudah meninggalkan dan menanggalkan serta tidak mengenal falsafah dan agama atau Ageman hidupnya sendiri,sehingga otomatis lepaslah pakem yang menjadi roh dan benang merah dari segala sistem dan subsistemnya, lalu orang Sunda berimprovisasi dalam keterluntaannya, Sukleuk Leuweung Suklek Lampih Jauh Ka Sintung Kalapa, Lieuk deungeun Lieuk Lain Jauh  Indung Ka Bapa.

Itulah silokanya manusia Sunda sekarang yang jauh dari asalnya,satu sama lain bagaimana orang asing satu dengan orang asing yang lainnya yang berjalan tanpa tujuan dan tanpa akhir.

Namun bila ada keinginan bersama yang kuat serta bila ada kesempatan,terdapat celah untuk mereaktualisasi tatanan Tritangtu Di Bumi ini. Apabila kita lihat kekacauan negara kita saat ini yang disebabkan oleh kekacauan politik berdampak kepada ekonomi dan sosial serta aspek-aspek lainnnya, mungkin patut kita pertanyakan apakah kita tidak salah memilih ? ,kita memakai konsep-konsep yang berasal dari Budaya Asing, yang mungkin tidak cocok dengan masyarakat kita sendiri. Bila jawabannya YA, maka mereaktualisasi Tritangtu Di Bumi ini merupakan konsep alternatif bagi tatanan masa depan Indonesia.

Kita tidak usah takut atau mengharamkan untuk kembali kepada konsep-konsep leluhur kita , karena  Menurut prinsip Wiwitan yang berarti siklus, maka sesuatu yang berada dibelakang kita suatu saat akan berada didepan kita.

Leluhur kita telah berpesan ; TEUDEUN DI HANDEULEUM SIEUM, TUNDA DI HANJUANG SIANG, TUNDA ALAEUN SAMPEUREUN JAGA.

Lalu bisa juga kita ambil contoh bahwa nabi Muhammad SAW mereformasi masyarakat Arab yang Jahiliah dengan kembali pada ajaran leluhurnya yaitu Ibrahim A.S. sehingga menghasilkan masyarakat yang sejahtera yaitu masyarakat madani.

Tinggal kita menyesuaikan ajaran-ajaran leluhur ini kepada keadaan jaman sekarang.

Bila kita telaah bahwa prinsip Tritangtu Di Bumi ini adalah  pembagian peran didalam kehidupan sosial dan bernegara, maka peran hidup dijaman sekarang bisa diartikan sebagai Profesi.

Saat ini sisitem politik kita diatur dengan sistem kepartaian yang katanya Demokratis, namunpada kenyataannyasebagian besar rakyat kecil di Indonesia yang hidup di desa-desa tidak mengerti apa itu afiliasi politik,sehingga jika terjadi PEMILU, maka terjadilah proses demokrasi yang semu dan manipulistik !

Kalau Tritangtu Di Bumi yang diaplikasikan dalam pengertian sekarang,dimana para profesi yang dalam pengertian sekarang adalah para profesi yang tergabung dalam asosiasi-asosiasi profesi yang menggantikan partai-partai didalam pengisian anggota MPR/DPR, saya kira hal itu sangat demokratis, karena profesi adalah hajat hidup tiap individu, serta hal ini sangat alamiah, alamiah berarti fitrah qudrati, fitrah Qudrati berarti sesuai kehendak Tuhan.

Sistem profesi akan menciptakan masyarakat yang harmonis, karena setiap profesi akan membutuhkan profesi yang lainnya. Tidak seperti partai-partai yang berbeda kepentingan dan ideologi yang mengakibatkan disharmoni dalam kehidupan bernegara.

Sistem profesi akan secara otomatis menghilangkan pengangguran, oleh karena apa yang disebut massa mengambang atau floating mass adalah orang-orang yang belum bekerja atau berprofesi.

Sistem profesi merupakan aktualisasi dari interaksi antar 3 unsur yaitu Tuhan ,Alam dan Manusia. Alam yang terdiri dari 5 unsur yaitu Udara ,Bumi,Air,Tumbuhan dan Satwa merupakan penyedia beratus ribu profesi, belum lagi profesi yang menagani manusia itu sendiri serta profesi yang berkaitan dengan keberadaan Tuhan.

Sistem profesi akan bisa diterima dimanapun juga karena bersifat universal dan terutama akan diterima oleh suku-suku bangsa di Indonesia.

Kita mengenal apa yang disebut “Dalihan Na Tolu” di Batak, Tiga Tungku Sajarangan di Minang,Tiga Tiang Tungku di Lampung, Tri Soko di Jawa serta Watu Tolu di Lombok,entah di suku-suku lain,hal ini perlu penelitian lebih lanjut.

Sekali lagi ini hanya sekedar usulan atau ide alternatif yang sangat elementer dan perlu pengkajian lebih dalam, disaat kita hendak mewujudkan Indonesia baru yang berjiwa nusantara.

Sekian dan Terima Kasih.

 

 

Rampess,,,

Published in: on 18 Oktober 2010 at 02:55  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://boedaksatepak.wordpress.com/2010/10/18/tritangtu/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: