AJISAKA PURWAWISESA

 

 

oleh : Lucky Hendrawan


Sama halnya legenda Sangkuriang, masyarakat di Jawa-Barat mengenal kisah Ajisaka Purwawisesa dan seperti biasanya legenda ini mengundang banyak versi (sudut pandang) dalam soal pemaknaan, dilain pihak ada sebagian masyararakat yang menganggap bahwa legenda ini hanyalah tuturan dongeng tanpa makna (hiburan biasa) seperti karya-karya para sastrawan Barat sekelas Hans Christian Andersen atau William Shakespeare.

Sesungguhnya sebutan Ajisaka Purwawisesa itu adalah nama lain atau sandi ajaran Sunda milik bangsa Galuh Agung yang disampaikan oleh Sang Sri Rama Mahaguru Ratu Rasi Prabhu Shindu La-Hyang atau Sang Hyang Watugunung Ratu Agung Manikmaya atau sering disebut sebagai Aji Tirem (Aki Tirem).

Ringkasan kisah legenda Ajisaka Purwawisesa adalah sebagai berikut;

Dikisahkan bahwa Ajisaka adalah penguasa Majati, ia memiliki dua ponggawa yang bernama Dora dan Sembada. Dora diajak menemani Ajisaka berkelana dan Sembada diperintahkan menjaga pusaka di Majati agar tidak diambil oleh siapapun kecuali oleh Ajisaka.

Lalu, Ajisaka dan Dora bertemu dengan Prabhu Dewata Cengkar penguasa Medang Kamulan yang gemar memakan manusia. Pada awalnya Dewata Cengkar adalah orang baik, ia jadi menyukai manusia karena Juru Masak istana terpotong telunjuknya dan masuk ke dalam makanan yang disajikan kepada Dewata Cengkar.

Ajisaka ‘menawarkan’ diri untuk dimakan oleh Dewata Cengkar dengan imbalan diberi tanah seluas dan sepanjang ikat kepalanya. Ikat kepala ditarik oleh Dewata Cengkar dan terus memanjang hingga ke tepi jurang di bibir laut. Ajisaka mengalahkan Dewata Cengkar oleh ikat kepalanya hingga penguasa Medang Kamulan itu terjerumus ke dalam laut dan berobah menjadi Buaya Putih.

Setelah Ajisaka menggantikan Dewata Cengkar sebagai Raja Medang Kamulan ia memerintahkan Dora untuk mengambil pusaka di Majati yang dijaga oleh Sembada. Sesuai perintah Ajisaka Sembada tidak memberikan kepada Dora hingga keduanya saling bertempur hingga tewas. Lalu untuk mengabadikan kedua ponggawanya Ajisaka Purwawisesa menciptakan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka atau sering disebut sebagai huruf Palawa.

Berdasarkan legenda di atas setidaknya dapat ditelusuri dan dikaji beberapa hal yang berkaitan dengan objek serta penamaan yang tercantum dalam cerita tersebut, yaitu :

 

1. Ajisaka Purwawisesa

–          Aji = Ajar / Ajaran

–          Saka = Pusat Inti/ Pilar Utama/ Inti Utama (“Matahari”)

–          Purwa = Purba/ Masa lalu yang sangat lama/ Jaman dahulu sekali …atau boleh jadi maksudnya adalah “Leluhur” (?)

–          Wisesa = Kuasa/ Penguasa/ Kekuasaan/ Yang berkuasa

Maka, “Ajisaka Purwawisesa” itu kira-kira mengandung beberapa makna sebagai berikut:

–          Pilar utama ajaran para penguasa jaman dahulu

–          Ajaran utama (para) penguasa masa lalu

–          Inti ajaran para Leluhur yang berkuasa

–          atau boleh jadi artinya “Ajaran Matahari” (Sunda)

 

2. Majati

–          Ma = Ibu / Ambu / Indung

–          Jati = Sejati

–          Atau bisa jadi artinya Ra-Ma-Jati (Ibu Matahari ‘yang’ Sejati)

Maka, sebutan “Majati” mengandung makna “Ibu Sejati”. Dalam hal ini masyarakat Nusantara khususnya Jawa Barat meyakini/ menganggap bahwa ibu yang sejati itu adalah “Ibu Pertiwi” (Tanah Air), kadang mereka menyebutnya juga sebagai Indung Jati atau Indung Agung yaitu “Tanah para Leluhur” tempat bersemayamnya para “Hyang” (Eyang/ Biyang/ Moyang) di kawasan Bandung Utara – Jawa Barat.

3. Dora dan Sembada

–          Dora = Dora ka….., berbohong, tidak jujur, menipu, berdusta

–          Sembada = Makmur, sentausa, berkecukupan (kaya), kuat

 

Dengan demikian dalam kisah ini menunjukan bahwa Ajisaka membawa berita buruk tentang “kebohongan” (Dora), sedangkan yang ditinggalkan untuk menjaga “Pusaka Ibu Pertiwi (Ma-Jati)” adalah kebaikan “kemakmuran/ kesentausaan” (Sembada).

4. Medang Kamulan

–          Medang / Madang (Ma-Da-Hyang) = Ibu Agung, Lumbung Padi, boleh jadi maksudnya adalah “Ibu Kota” (Jawa).

–          Kamulan = Kemuliaan

 

“Medang Kamulan” berasal dari kata Ma (Ibu) – Da (Agung/ Besar) – Hyang (Leluhur) – Kamuliaan. Jadi makna keseluruhan dari istilah Medang Kamulan itu adalah “(yang) Mulia Ibu Hyang Agung” atau Ibu Negeri (Ibu Kota) Kemaharajaan Nusantara di Pulo Jawa. Dalam catatan sejarah wilayah Keraton (Keratuan/ Pusat Pemerintahan) Nusantara disebut Ka-Lingga, kelak di jaman Ra-Hyang Sanjaya berganti menjadi Bumi Mataram (abad ke VIII).

Maka cerita Ajisaka telah menunjukan letak kejadian atas peristiwa yang sesungguhnya, yaitu di “Mataram Kuno” sebagai representasi atas pulo Jawa sebagai wilayah Ibu Kota dan Nusantara secara keseluruhan.

5. Juru Masak

–          Juru = Ahli (mis : juru pantun = ahli pantun), ‘pemimpin’ (mis : juru mudi, juru selamat), namun bisa juga artinya “sudut” (yang tersudutkan/ terdesak).

–          Masak = Matang, Tua.

 

Dengan demikian “Juru Masak” merupakan silib-siloka dari “Tetua yang tersudutkan” atau “Ketua yang terdesak”. Pada prinsipnya ia adalah “penguasa gudang makanan”. Di dalam legenda ini tampaknya ‘istilah’ sang “Juru Masak” ditujukan untuk menyembunyikan status Penguasa Medang Kamulan (Maharaja Nusantara di Pulo Jawa).

6. Telunjuk

–          Telunjuk = silib-siloka “pemerintah penguasa”

 

“Telunjuk” adalah silib-siloka “kekuasaan” maka dalam legenda Ajisaka Purwawisesa pada bagian “telunjuk Juru Masak” terpotong dan dimakan oleh Dewata Cengkar itu menyiratkan tentang hilangnya kekuasaan penguasa negara (Maharaja Nusantara di Pulo Jawa) ‘disantap’ oleh Dewata Cengkar.

  1. Rakyat Medang Kamulan

Rakyat (manusia) dimakan oleh Dewata Cengkar, hal ini tentu saja menunjukan bahwa masyarakat Medang Kamulan sebagai representasi Ibu kota Nusantara di Pulo Jawa dalam keadaan ditindas dan dijajah oleh Dewata Cengkar atau maksudnya berada dalam kekuasaan ‘Dewata Cengkar’.

  1. Ikat Kepala

Pola bentuk ikat kepala yang terbanyak di dunia hanyalah di Nusantara. Ikat kepala bukan sekedar fungsi ataupun identitas, ia mengandung filosofi yang sangat dalam. Ikat kepala adalah perlambang “leluhur” maka dalam legenda Ajisaka ini menunjukan bahwa Dewata Cengkar dikalahkan oleh “ilmu para leluhur” hingga ia terusir dari Medang Kamulan – Bumi Mataram.

9. Dewata Cengkar

–          Dewa = Cahaya (*bukan Sinar/ bukan Matahari)

–          Ta = Gerak Hidup

–          Cengkar = Tempat yang luas tandus dan gersang, tempat kering berpasir dan berbatu (padang pasir).

 

Jika ditelaah berdasarkan kata-perkata tampaknya sosok “Dewata Cengkar” ini adalah simbol “penguasa” yang datang dari wilayah gersang dan tandus (padang pasir) lalu menguasai Negeri Lumbung Padi (Medang Kamulan) Ibu Kota Mataram kuno di Pulo Jawa atau representasi dari Nusantara.

  1. Buaya Putih

Tentu saja di dunia ini tidak pernah ada buaya yang ‘berwarna’ putih, apalagi ia jenis mahluk yang biasa tinggal di lumpur (‘kotor’). Dalam sudut pandang masyarakat pulo Jawa (dan Nusantara) pada umumnya sosok “Buaya” merupakan perlambang “keburukan” misalnya; Air mata buaya, Buaya Darat, Bajul buntung, dll. Dengan demikian makna yang terkandung dalam kisah Dewata Cengkar berobah menjadi “Buaya Putih” itu maksudnya adalah; terbongkar penyamaran Dewata Cengkar dan terkuak keburukannya namun demikian ia masih juga ada di “tanah-air” dengan berkedok kesucian.

  1. Aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka

Perihal ini merupakan simbol tentang “ajaran” para Leluhur Nusantara (Agama Sunda) yang dibawa dari Majati oleh Ajisaka Purwawisesa, yaitu ajaran lokal/ nilai-nilai lokal/ ‘bahasa’ lokal, atau boleh jadi mengandung makna tentang “datang dan kembalinya jati diri bangsa Nusantara setelah dirusak/ ditipu/ dijajah oleh Dewata Cengkar”.

Kesimpulan dari legenda Ajisaka Purwawisesa dan Dewata Cengkar ini adalah memberitakan tentang kejadian di masa lalu, yaitu:

–          Melihat runtun kejadian sejak datangnya ‘Dewata Cengkar’ ke pulo Jawa hingga ‘Ajisaka’ (Sanjaya) menjadi raja Medang Kamulan (Raja Bumi Mataram ke I) maka dapat diartikan (di duga) bahwa kejadian itu berlangsung pada jaman Kerajaan Ka-Lingga masa pemerintahan Ra-Hyang Sena / Sanna / Bratasenawa putra Ra-Hyang Ta Mandiminyak (Sang Amar / Sang RAMA).

–          “Medang Kamulan” atau pulo Jawa sering diartikan / disetarakan sebagai Bumi Mataram (kuno) yaitu Ibu Kota Kemaharajaan Nusantara. Kerajaan Mataram (I) / Mataram ‘Hindu’ / Mataram Jati / Mataram pra-Islam dibangun pada abad ke VIII Masehi oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya atau sering disebut sebagai “Sang Taraju Jawadwipa” menggantikan kerajaan Ka-Lingga.

–          Aji Saka Purwa Wisesa, adalah simbol “inti ajaran” paling tua di dunia yang menjadi pilar utama Bumi Nusantara, yaitu ajaran Matahari (Sunda) bangsa Galuh yang dibawa oleh Ra-Hyang Sanjaya dari wilayah Rama yang pada saat itu dipimpin oleh Ra-Hyang Ta Mandiminyak Sang Amara / ‘S(e)mar’ / Sang Rama beliau berkedudukan di pusat Ibu Pertiwi (Ka-Ambu-Uyut-an = Kabuyutan) yaitu Pa-Ra-Hyang (wilayah RAMA)

–          Di jaman Mataram Kuno pulo Jawa merupakan gudang makanan atau lumbung padi yang sangat besar (Medang Kamulan). Rakyat hidup tentram dan damai sebelum kedatangan ‘Dewata Cengkar’.

–          Pusaka Ibu Pertiwi (di Majati) sesungguhnya adalah “AJARAN MATAHARI (Sunda)” yang menjadi pilar penjaga Kesuburan dan Kemakmuran (Sembada) yang harus dijaga dan tidak boleh diserahkan kepada siapapun, apalagi kepada “pembohong” (Dora).

–          Pulo Jawa (dan Nusantara) pada awalnya diperintah oleh Maharaja (RATU) yang bijaksana (Juru Masak), di duga sejak jaman Ratu Sima (kerajaan Ka Lingga), namun setelah kedatangan ‘tamu’ dari negeri gersang (Dewata Cengkar) kekuasaan RATU diambil alih (telunjuk terpotong).

–          Ajisaka Purwawisesa dari Pa-Ra-Hyang (Majati) datang membawa kabar kebohongan / penipuan (Dora) tentang ‘tamu’ dari padang pasir itu (Dewata Cengkar) yang sebenarnya gemar memangsa manusia (suka berperang).

–          Keberadaan ‘Dewata Cengkar’ yang masih ‘menetap’ di Tanah Air pada prinsipnya disimbolkan dengan “Buaya” yang hidup di lumpur (Tanah-Air) dan menyamar / berkedok “kesucian” (Putih).

–          Medang Kamulan (representasi dari Nusantara) dapat diselamatkan dari kehancuran jika masyarakatnya ‘kembali’ kepada ajaran para leluhur Negara, kembali mempelajari nilai-nilai luhung yang dianut oleh leluhur Ibu Pertiwi, yaitu ajaran Sunda / agama Negeri Matahari.

–          HA-NA-CA-RA-KA ialah simbol nilai-nilai ajaran leluhur yang bertujuan untuk “mengingatkan” bangsa Nusantara tentang adanya “kebohongan” yang kelak berakibat kehancuran di negeri maha subur (DORA dan SEMBADA).

 

Berdasarkan kajian tanda pola perlambangan yang termaktub pada legenda Ajisaka Purwawisesa di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kisah tersebut sesungguhnya bukan cerita tanpa makna yang sekedar dongeng hiburan, melainkan dokumentasi penting atas sebuah peristiwa kejadian yang diberitakan secara simbolik dan dikemas dalam bentuk cerita berjudul AJISAKA PURWAWISESA.

Ahuuung,,,

Published in: on 30 Juli 2010 at 01:09  Comments (3)  

The URI to TrackBack this entry is: https://boedaksatepak.wordpress.com/2010/07/30/ajisaka-purwawisesa/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 KomentarTinggalkan komentar

  1. Mohon ijin artikel saya copas. Terima kasih.

  2. […] Berdasarkan kajian tanda pola perlambangan yang termaktub pada legenda Aji Saka Purwawisesa di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kisah tersebut sesungguhnya bukan cerita tanpa makna yang sekedar dongeng hiburan, melainkan dokumentasi penting atas sebuah peristiwa kejadian yang diberitakan secara simbolik dan dikemas dalam bentuk cerita berjudul AJI SAKA PURWAWISESA. (Sumber […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: