Wadah yang BENING

Tampak ada tiga cara pendekatan yang mendasar di dalam mempelajari suatu ajaran. Pendekatan mana tergantung pada “pandangan-awal” kita tentangnya. Pandangan-awal ini sendiri dibentuk oleh kesan-kesan awal, citra-awal yang berhasil dibentukkan oleh pengalaman-pengalaman kita terkait dengan ajaran itu.

 

Mereka adalah:
– yang didorong oleh hasrat untuk mengetahui, mengerti dan memahami secara lebih mendalam.
– yang didorong oleh hasrat untuk mengkritisi, mencari-cari sisi lemah dan juga sisi kuatnya —kalaupun ada, yang ini biasanya dihindari— dan menganalisisnya secara rasional, sesuai dengan dasar pijakan pandangan-awalnya. dan
– kombinasi dari keduanya, yang juga tampak seperti bukan keduanya.

 

Pendekatan pertama, umumnya, cenderung akan menggiring kita pada sebentuk konformitas, yang nyaris tanpa-syarat. Kalaupun ditemukan sesuatu yang meragukan, sulit dipahami dari ajaran itu, kita akan berupaya mengentaskannya. Apakah melalui bertanya pada mereka yang kita anggap punya pemahaman lebih, ataupun mendiskusikannya dengan yang lainnya.

 

Dalam berusaha mecapai konformitas pengertian dan pemahaman inilah seringkali dirasakan terjadi konflik demi konflik di dalam. Namun secepat pengertian itu diperoleh, pemahaman itu didapat, maka konflikpun akan sirna dengan sendirinya, secara spontan dan di tempat itu juga. Dalam pendekatan ini, derajat independensi terasa agak lemah.

 

Pendekatan kedua, tampak mempunyai derajat independensi yang lebih tinggi ketimbang yang pertama; namun ini hanya ditujukan atau terhadap ajaran yang hendak dipelajari itu. Disini tidak terjadi sebentuk upaya menuju konformitas, kendati konformitas yang kemudian terjadi tidaklah samasekali ditolak, melainkan hanya yang bersesuaian dengan pandangan-awalnya tadi. Segala aspek dari ajaran yang dipelajarinya itu selalu akan diperbandingkan, dinilai, ditera dan dianalisis mengunakan pandangan-awalnya itu. Jadi independensi yang ditunjukkan di sini, bukan saja diterapkan secara sepihak saja, akan tetapi juga semu. Kekritisan yang tampil di permukaan, dari adanya independensi semu ini, tentu semu juga adanya. Disini mungkin teramati digunakannya cara-cara yang sangat selektif, dimana ada penerimaan secara parsial dan selektif, demikian juga penolakan.

Bila pada cara pendekatan pertama masih ditemukan sebentuk keberpihakan —betapa haluspun ia adanya, maka pada cara pendekatan kedua justru sebaliknya, ada penolakan —betapa haluspun ia adanya. Baik keberpihakan maupun penolakan tidak mencerminkan independensi pandangan yang utuh; ia menjadi independensi semu.

 

Ibarat sebuah wadah, kendati telah kosong, tapi belum benar-benar bersih dan dipaksakan guna menampung air besih; betapa bersihpun air yang kita tampung, ia tetap akan terkontaminasi oleh kekotoran wadahnya. Wadahnyalah yang harus dibersihkan terlebih dahulu, agar kita dapat benar-benar menampung air yang benar-benar bersih bukan?

 

bilamana kekritisan dan independensi dari pendekatan kedua bisa terkombinasikan dengan hasrat yang kuat untuk memahami dengan baik suatu ajaran, maka konflik internal akan jauh berkurang, dan hasil akhirnyapun lebih dapat dipertanggung-jawabkan, dapat diharapkan lebih objektif. Ini mungkin terjadi pada mereka yang memang benar-benar menganut sikap-batin terbuka, dimana mereka telah “terbuka mata dan telinga-batin”-nya. Pada mereka inilah kejernihan visi bisa diharapkan.

 

 

Salam Bening,,,

Published in: on 6 Maret 2010 at 11:50  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://boedaksatepak.wordpress.com/2010/03/06/wadah-yang-bening/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: