KAMUS Indonesia ~ Sunda

silahkan klik tulisan dibawah,,,

KAMUS INDONESIA – SUNDA

***

Published in: on 6 Februari 2011 at 19:53  Tinggalkan sebuah Komentar  

TRITANGTU

AKTUALISASI TRITANGTU DI BUMI

PADA KEHIDUPAN ORANG SUNDA DEWASA INI.

Oleh : Otong Toyibin Wiranatakusumah

*materi seminar yang diberikan pada Dinas Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional,jalan Sumbawa, Bandung.

Bila kita berbicara mengenai Hukum Tilu (tiga), maka kita akan membicarakan hal yang sangat tua (kuno) dan berdimensi luas. Hal ini disebabkan karena hukum tiga telah dikenal ribuan tahun yang lalu dan menyangkut berbagai aspek dalam kehidupan manusia, baik itu mengenai hal-hal yang konkrit atau perilaku-perilaku nyata serta hal-hal yang bersifat spiritual ataupun agama.

Banyak sekali contoh-contoh mengenai hukum tiga yang kiata dapatkan, diantaranya ;

*Ribuan tahun yang lalu dalam agama Hindu dikenal adanya dengan apa yang disebut TRI MURTI, Tiga Dewa Utama yakni Wishnu, Siwa dan Brahma, tiga dewa ini merupakan unsur utama dan pokok dalam ajaran Hindu, karena tiga dewa inimerupakan simbol dari cikal bakal segala eksistensi di semesta ini.

*Agama Katolik mengenal pula konsep tiga ini dalam ajarannya yaitu yang disebut TRINITAS, tiga unsur Tuhan yaitu Roh Kudus, Tuhan Ibu dan Tuhan Bapak.

*Agama Budha pada ajarannya banyak sekali kita dapatkan patokan-patokan tiga, diantaranya;

-AUM yang disebut TRI RATNA, yaitu A=Budha , U=Dharma dan M=Sangha

Tri Ratna yang disebut sebagai kalam keramat yang memanifestasi takala alam dalam keadaan kosong dan ini pula yang menjadi dasar ajaran Budha.

-TRI KAYA atau tiga tubuh,yakni Nirmayakaya=tubuh perubahan, Sambhogakaya=tubuh cahaya dan Dharmakaya=tubuh keabadian.

-TRI LAKHANA, TRIPITAKA,dll.

*Didalam ajaran Islam pun kita dapatkan prinsip tiga ini yaitu dalam surat Al-Baqoroh, menyatakan bahwa ALIF-LAM-MIM adalah kitab yang sebenarnya, walaupun ini belum terungkap maknanya sampai saat ini.

*Plato ( Tahun 427 SM ) dalam bukunya POLITEA, menyatakan bahwa negara ideal jika tersusun dari tiga golongan masyarakat secara harmonis ;

-Golongan 1 = Gol. Pemimpin : harus berada di tangan filsuf, para filsuf mewakili unsur rasional dan kebijaksanaan.

-Golongan 2 = Gol. Tentara   : tentara mewakili unsur hati utamanya unsur keberanian.

-Golongan 3 = Gol. Petani dan Tukang : petani dan tukang mewakili unsur perut alias mewakili urusan ekonomi.

*Montesquieu dengan konsep TRIAS POLITICA yang diadopsi oleh hampir semua negara di dunia saat ini walaupun tidak secara murni. Menyatakan pembagian kekuasaan didalam kehidupan bernegara atas tiga bagian yaitu ; Legislatif, Yudikatif dan Eksekutif.

Prinsip ini sudah sangat umum kita ketahui dan pahami, begitu pun hukum tiga ini terdapat dalam filosofi dan tatanan kehidupan suku-suku bangsa di nusantara ini,terutama dalam tatanan kehidupan orang Sunda banyak terdapat patokan-patokan tiga, diantaranya ada yang disebut Tri Tangtu Di Bumi yang menjadi pokok bahasan kita selanjutnya.

 

TRI TANGTU

Istilah Tri Tangtu ini membawa kita kepada pertanyaan ;

1. Kenapa Tri atau tiga ?

2. Apa yang disebut atau yang dimaksud dengan Tangtu ?

Namun sebelum menjawab 2 pertanyaan diatas, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu mengenai apa ayng disebut BUDAYA, oleh karena Tri Tangtu ini sangat erat melekat dengan Budaya Sunda.

Kita ketahui , bahwa banyak sekali cerita dan pengertian mengenai apa yang disebut budaya, namun tidak ada salahnya kalau saya mencoba menambahkan satu lagi kriteria budaya ini, mudah-mudahan bisa diterima oleh semua.

Menurut saya pengertian Budaya ini harus ditarik secara makro dan jangan dipersempit,agar dapat mewadahi segala aspek dan dimensi.

Apabila kita berandai-andai tatkala seorang individu mempertanyakan tentang eksistensinya sendiri dalam pertanyaan ; Siapa aku ?, darimana aku ?, dan hendak kemana aku ?, ini merupakan pencarian jati diri. Proses pencarian jati diri sangat dipengaruhi oleh alam dan lingkungan hidupnya, sehingga dari apa yang dilihat dan dirasakannya akan sampai pada kesimpulan bahwa semua ini ada yang menciptakannya yaitu TUHAN. Apa dan Siapa Tuhan ini, itulah Konsep Ketuhanannya.

Dari konsep ketuhanan ini akan melahirkan pengertian-pengertian filosofis dan agama,saya tidak tahu mana yang lebih dulu antara falsafah atau agama. Namun dari falsafahdan agama akan melahirkan disiplin-disiplin atau sistem-sistem, sistem akan melahirkan berbagai subsistem dan seluruh aspek, mulai dari pencarian jati diri sampai sub sistem , inilah yang disebut Budaya atau adab yang dalam perjalanannya menghasilkan peradaban.

( maaf,skema blm bisa tampil disini,Red. )  ;-)

Dalam kaitan 2 pertanyaan mengenai Tri Tangtu diatas ,kita ambil sebagai contoh Konsep Budaya diatas pada budaya Sunda.

Budaya Sunda tentulah sangat erat kaitannya dengan alam dan lingkungan hidupnya.

Dalam pencarian jati diri seorang manusia Sunda yang hidup dalam alam yang Kaya ,Subur Makmur,Gemah Ripah Loh Jinawi, dimana Cai Cur-cor ,Pasir jeung Lebak hejo ngemploh, dimana beratus gunung tinggi yang menyediakan Ribuan macam Tumbuh-tumbuhan dan Ribuan macam Satwa, memberikan Kemudahan dan Kenikmatan hidup bagi manusia Sunda, maka kenikmatan dan kemudahan ini akan dipandang sebagai Anugrah dari sesuatu yang menghendaki dan menciptakannya oleh penuh rasa Kasih dan Suci  dan alam yang sempurna ini tentulah diciptakan oleh sesuatu yang sempurna dan maha.

Maka kesimpulan sang pencipta inilah yang disebut Tuhan atau Gusti, Gusti Anu Maha Asih,Anu Maha Suci,Anu Maha Agung dan Asih-lah yang menjadi energi utama dari kehendak Tuhan itu.

Dalam proses penciptaan yang penuh asih ini Tuhan lebih dulu menciptakan jagat atau alam. Yang disebut alam ini adalah terdiri dari 5 unsur yakni Udara atau angkasa,Bumi,Air,Tumbuhan dan Satwa.

Manusia yang hidup dalam suatu lingkungan mau tidak mau akan sangat kuat dibentuk baik fisiknya maupun mental spiritualnya oleh lingkungan alamnya itu.  Ini bagi Ki Sunda melahirkan pengertian bahwa alam-lah yang meng-asah dirinya.

Ki Sunda didalam rasa rumasa dan tumarimanya akan anugrah nikmat hidup ini,sadar bahwa segala sesuatu bukanlah miliknya, sekalipun dirinya sendiri adalah milik Tuhan, semua adalah titipan Tuhan dan semua akan terpulang kepada-Nya, kepada kehendak-Nya dan semua akan kembali kepada-Nya, ini yang disebut dengan Wiwitan, yaitu konsep kembali ke asal.

Kesadaran diatas menumbuhkan pengertian bahwa manusia wajib menjaga semua milik dan titipan Tuhan ini , dengan kata lain manusia wajib mengasuh, baik dirinya sendiri,sesamanya maupun lingkungan hidupnya.

Singkatnya pengertian-pengertian diatas menjadi..

- Gusti Anu Asih

- Alam anu Ngasah

- Manusa anu Ngasuh,ngasuh Kujur ,Batur jeung Lembur.

 

Asih-Asah-Asuh ini kita kenal sebagai dasar dari kehendak Tuhan atau hukum alam adalah hukum Tuhan,inti dari hukum alam adalah hukum pasti atau Tangtu.

Pasti atau Tangtu ini terkandung didalam proses wiwitan dan didalam hukum sebab akibat yang dalam istilah Sunda disebut hukum Pepelakan.

Didalam pantun-pantun dan mantra-mantra Sunda kerap kita dengar ada tiga unsur di alam kahiangan atau alam gaib yaitu Wenang,Kala,Wening.

Wenang: sesuatu yang hanya dimiliki Tuhan atau otoritas Tuhan ,sehingga semesta ini disebut alam pawenangan.

 

Kala      : adalah proses dalam penciptaan yang berisi kehendak atau program dari sang pencipta, perjalanan proses ini perlu waktu atau saat, oleh karena itu kala sering disebut waktu.

Wening : adalah segala sesuatu yang diciptakan dan ia adalah yang menerima dan diam dalam arti Tauhid atau Tuhu kepada kehendak pencipta.

Tiga unsur tadi dimanifestasikan menjadi Tuhan ,Alam ,dan Manusia yang merupakan 3 unsur utama semesta.

Mungkin .. dari pengertian-pengertian diatas lahirnya ungkapan Tri Tangtu.

 

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Tri Tangtu merupakan dasar dari akar falsafah Sunda, oleh karena  ternyata Tri Tangtu ini merefleksi dan direpresentasikan pada segala sistem dan sub sistem didalam Budaya Sunda seperti pada sistem Negara, sistem Sosial, sistem Hukum,sistem Seni dan lain sebagainya tidak terlepas dari prinsip Tri Tangtu ini, dan ini merupakan tugas kita semua untuk meneliti dan mengungkap keberadaan Hukum Tiga in sebagai dasar dari Budaya Sunda.

 

Kita ambil contoh bahwa 3 unsur tadi yaitu Wenang Kala Wening beremanasi sehingga di simbolkan sebagai 3 warna cahaya yaitu Putih,Kuning,dan Merah, Tiga warna ini kita dapati pada Tumpeng, putih didalamnya yaitu telur atau ikan teri putih, kuning pada nasi atau badannya, serta merah yaitu pada cabai merah sebagai puncak manik.

 

Tri Tangtu juga di simbolkan didalam bentuk yaitu Segitiga. Segitiga adalah dasar dari segala bentuk. Bentuk segitiga ini kita dapati pada atap rumah tradisi Sunda serta ornamen puncaknya yang disebut Cagak Gunting yang merupakan 2 segitiga yaitu segitiga tak berbatas dan segitiga berbatas sebagai simbol alam gaib dan alam nyata tempat kita hidup. Rumah itu sendiri terdiri dari 3 bagian yaitu Tatapakan dan kolong, bagian tengah serta atap. Disamping itu kita kenal ada Tri Tangtu yang lain yaitu Tri Tangtu Salira , tiga titik pusat dari tiga bagian tubuh yaitu Dada,Perut dan Kepala disebut titik-titik  DA,SA,RA.

 

DA : titik pusat bagian dada yaitu pada jantung yang meruapakan representasi dari unsur Tuhan ,Ini dijelaskan karena jantung adalah pusat hidup atau pusat tempat masuknya energi yang menghidupkan yang berasal dari Tuhan yang disebut Daha. Wilayah dada ini adalah wilayah Asih dan wilayah Ketuhanan.

SA : titik pusat bagian perut yaitu pada pusar atau udel, sebagai titik pusat proses perwujudan ; bahwa kita diwujudkan didalam perut ibu melalui tali ari-ari yang menyambungkan Bali dan pusar kita. Wilayah Perut ini merupakan representasi dari unsur Alam yang mengasah atau membentuk wujud diri.

RA : titik pusat Otak, titik RA adalah suatu kelenjar yang merupakan pusat syaraf dan pusat otak yang merupakan pula pusat pengendali Badan dan Kehidupan. Wilayah RA ini mewakili unsur Manusia karena kepala inilah yang membedakan manusia dengan mahluk lain ,dengan kata lain kepala adalah wilayah kemanusiaan atau wilayah Asuh.

 

Titik RA ini dilambangkan sebagai matahari ( atau Dewa Matahari ), Manik Maya atau Rajawali atau Singha atau titik Jenar ( Merah ).

Titik RA yang merupakan pusat segala syaraf yang terdapat pada sum-sum tulang belakang yang berjumlah 25 ruas ditambah 7 ruas tulang leher dilambangkan sebagai Naga  ( naga kuning atau emas ) atau Ular berkepala 7  (didalam cerita Hindu) , jadi Naga-Ra adalah badan kita sendiri.

25+7+1 (RA)= 33.  Mungkin inilah yang disebut Nu satelu puluh telu oleh orang Kanekes (Baduy), dan menurut cerita ,tinggi tiang utama istana Pajaran adalah 33 depa.

Hitungan 33 juga dipakai sebagai patokan pada Tarawangsa, yaitu dari gong ke gong adalah 33 ketukan . RA sebagai pusat pengendali kehidupan dimana wujud kehidupan ini merupakan Tri Tangtu yaitu Tri Karma yang terdiri dari Bayu,Sabda, Hedap atau Pikir,Ucap dan Lampah ( perbuatan ). Tiga unsur tadi mempunyai Energi dan tiap manusia mempunyai Frekwensinya masing-masing. Akumulasi dari 3 energi ini disebut RAHA (Roh).

 

Tri Karma atau Pikir ,Ucap,Lampah ini juga ditentukan oleh Galuh,Galeuh dan Galih atau menurut istilah sekarang Naluri,Nurani dan Nalar (bandingkan dengan istilah SQ,EQ dan IQ).

Istilah Tri Tangtu Salira ini sebenarnya ada dihampir semua bangsa di dunia , mungkin pada kesempatan lain akan kita bahas mengenai itu.

(skema blm bisa ditampilkan, Red.)

================

TRI TANGTU DI BUMI

Literatur mengenai Tri Tangtu ini sangat minim, diantaranya terdapat dalam naskah amanat Galunggung dan Siksa Kandang Karesian. Drs. Aca, didalam kata pengantar terjemahan naskah amanat Galunggung menyatakan bahwa amanat Galungung-Kropak 632 menjelaskan tentang kedudukan Tri Tangtu Di Bumi yaitu, Rama-Resi-Ratu. Ketiga-tiganya mempunyai tugas yang berbeda ,akan tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan ,tidak ada diantara mereka yang berkedudukan lebih tinggi dari yang lainnya. Tugasnya setara dan sama-sama mulia, ketiga pemimpin tersebut harus bersama-sama menegakan kebajikan dan kemuliaan melalui ucap dan perbuatan.

Dunia kemakmuran tanggung jawab sang Rama,Dunia kesejahteraan hidup tanggung jawab sang Resi, Dunia pemerintahan tanggung jawab sang Prabu/Ratu.

Jagat Palangka di sang Prabu, jagat Daranan di sang Rama, jagat Kreta di sang Resi.

Sedangkan masyarakat yang masih mempergunakan sistem ini adalah masyarakat adat.

Diantaranya masyarakat Kanekes atau Baduy dan di sebut tangtu telu yakni Cibeo-Puun Ponggawa,Cikertawana-Puun Rama, Cikeusik-Puun Pandita disertai 7 jaro.

Dengan literatur yang sangat minim ini tentulah sangat sulit untuk memahami dan mendalami konsep Tri Tangtu Di Bumi ini.

Namun apabila kita membandingkan dengan tatanan masyarakat di Kanekes yang menurut saya adalah masyarakat Sunda yang Origin, sangat jelas bahwa TriTangtu Di Bumi merupakan suatu sistem sosial sekaligus merupakan sistem pemerintahan dan politik.

Berbeda dengan Trias Politica nya Montesquieu yang membagi kekuasaan menjadi 3 bagian atau unsur, maka Tritangtu Di Bumi merupakan pembagian peran didalam tatanan sosial dan negara, dimana masing-masing bagian mempunyai wilayah teritorial sendiri.

Bila kita bandingkan tugas masing-masing unsur, maka seperti Tritangtu yang lain, Tritangtu Di Bumi juga merupakan refleksi dan representasi dari 3 unsur Tuhan,Alam dan manusia.

Rama :  Representasi dari unsur Tuhan yang dimanifestasikan dalam tugas Rama yaitu bidang Spritual, dimana seorang rama ini adalah manusia yang sudah meninggalkan kepentingan yang bersifat duniawi dan lahiriah, sehingga bisa menjaga rasa asih yang tinggi dan bijaksana.

Resi :  Representasi dari unsur alam yang merupakan penyedia bagi kepentinagn kehidupan , maka para Resi merupakan ahli-ahli atau guru-guru didalam bidang-bidang diantaranya pendidikan,militer,pertanian,seni,perdagangan,dan lain sebagainya. Misinya adalah Asah.

Ratu :  Representasi unsur manusia yang bertugas untuk mengasuh seluruh kegiatan dan kekayaan negara. Karena misinya adalah Asuh, maka didalam tatanan Sunda para pemimpin ini disebut Pamong atau Pangereh dan bukan Pemerintah.

Adanya pembagian wilayah teritorial bagi masing-masing unsur tentulah tidak lazim bagi pengertian jaman sekarang serta sering membingungkan kita oleh karena banyak istilah-istilah seperti Kabuyutan,Kadaton yang berbeda dengan Karaton dan Pakuan sebagai pusat pemerintahan.

Kesimpulan :

Bila kita bandingakan paparan diatas dengan keadaan kenyataan masyarakat Sunda masa kini, maka dengan sangat sedih kita harus mengakui bahwa tatanan Tritangtu Di Bumi pada masa dekat Sunda kini telah punah, kecuali pada masyarakat-masyarakat adat.

Hal ini disebabkan karena Tatar Sunda yang sangat strategis ,baik secara Geografi maupun secara Geopolitik telah menjadi arena masuknya segala pengaruh asing yang secara penuh diadopsi oleh masyarakat Sunda Modern, oleh karena itu otomatis dan perlahan namun pasti Budaya Sunda tersingkir dan terbunuh dari masyarakatnya sendiri dan tidakmungkin lagi menerapkan tataran asli Sunda pada situasi yang demikian.

Apabila kita pahami,Tritangtu adalah benang merah dalam Budaya Sunda dan merupakan akar serta roh dari budaya Sunda atau disebut Pakem.  Bila kita kaitkan dengan konsep budaya yang saya ajukan diatas, maka jelas Titik Awal lepasnya pakem ini dimulai dari mana.

Ki Sunda sudah meninggalkan dan menanggalkan serta tidak mengenal falsafah dan agama atau Ageman hidupnya sendiri,sehingga otomatis lepaslah pakem yang menjadi roh dan benang merah dari segala sistem dan subsistemnya, lalu orang Sunda berimprovisasi dalam keterluntaannya, Sukleuk Leuweung Suklek Lampih Jauh Ka Sintung Kalapa, Lieuk deungeun Lieuk Lain Jauh  Indung Ka Bapa.

Itulah silokanya manusia Sunda sekarang yang jauh dari asalnya,satu sama lain bagaimana orang asing satu dengan orang asing yang lainnya yang berjalan tanpa tujuan dan tanpa akhir.

Namun bila ada keinginan bersama yang kuat serta bila ada kesempatan,terdapat celah untuk mereaktualisasi tatanan Tritangtu Di Bumi ini. Apabila kita lihat kekacauan negara kita saat ini yang disebabkan oleh kekacauan politik berdampak kepada ekonomi dan sosial serta aspek-aspek lainnnya, mungkin patut kita pertanyakan apakah kita tidak salah memilih ? ,kita memakai konsep-konsep yang berasal dari Budaya Asing, yang mungkin tidak cocok dengan masyarakat kita sendiri. Bila jawabannya YA, maka mereaktualisasi Tritangtu Di Bumi ini merupakan konsep alternatif bagi tatanan masa depan Indonesia.

Kita tidak usah takut atau mengharamkan untuk kembali kepada konsep-konsep leluhur kita , karena  Menurut prinsip Wiwitan yang berarti siklus, maka sesuatu yang berada dibelakang kita suatu saat akan berada didepan kita.

Leluhur kita telah berpesan ; TEUDEUN DI HANDEULEUM SIEUM, TUNDA DI HANJUANG SIANG, TUNDA ALAEUN SAMPEUREUN JAGA.

Lalu bisa juga kita ambil contoh bahwa nabi Muhammad SAW mereformasi masyarakat Arab yang Jahiliah dengan kembali pada ajaran leluhurnya yaitu Ibrahim A.S. sehingga menghasilkan masyarakat yang sejahtera yaitu masyarakat madani.

Tinggal kita menyesuaikan ajaran-ajaran leluhur ini kepada keadaan jaman sekarang.

Bila kita telaah bahwa prinsip Tritangtu Di Bumi ini adalah  pembagian peran didalam kehidupan sosial dan bernegara, maka peran hidup dijaman sekarang bisa diartikan sebagai Profesi.

Saat ini sisitem politik kita diatur dengan sistem kepartaian yang katanya Demokratis, namunpada kenyataannyasebagian besar rakyat kecil di Indonesia yang hidup di desa-desa tidak mengerti apa itu afiliasi politik,sehingga jika terjadi PEMILU, maka terjadilah proses demokrasi yang semu dan manipulistik !

Kalau Tritangtu Di Bumi yang diaplikasikan dalam pengertian sekarang,dimana para profesi yang dalam pengertian sekarang adalah para profesi yang tergabung dalam asosiasi-asosiasi profesi yang menggantikan partai-partai didalam pengisian anggota MPR/DPR, saya kira hal itu sangat demokratis, karena profesi adalah hajat hidup tiap individu, serta hal ini sangat alamiah, alamiah berarti fitrah qudrati, fitrah Qudrati berarti sesuai kehendak Tuhan.

Sistem profesi akan menciptakan masyarakat yang harmonis, karena setiap profesi akan membutuhkan profesi yang lainnya. Tidak seperti partai-partai yang berbeda kepentingan dan ideologi yang mengakibatkan disharmoni dalam kehidupan bernegara.

Sistem profesi akan secara otomatis menghilangkan pengangguran, oleh karena apa yang disebut massa mengambang atau floating mass adalah orang-orang yang belum bekerja atau berprofesi.

Sistem profesi merupakan aktualisasi dari interaksi antar 3 unsur yaitu Tuhan ,Alam dan Manusia. Alam yang terdiri dari 5 unsur yaitu Udara ,Bumi,Air,Tumbuhan dan Satwa merupakan penyedia beratus ribu profesi, belum lagi profesi yang menagani manusia itu sendiri serta profesi yang berkaitan dengan keberadaan Tuhan.

Sistem profesi akan bisa diterima dimanapun juga karena bersifat universal dan terutama akan diterima oleh suku-suku bangsa di Indonesia.

Kita mengenal apa yang disebut “Dalihan Na Tolu” di Batak, Tiga Tungku Sajarangan di Minang,Tiga Tiang Tungku di Lampung, Tri Soko di Jawa serta Watu Tolu di Lombok,entah di suku-suku lain,hal ini perlu penelitian lebih lanjut.

Sekali lagi ini hanya sekedar usulan atau ide alternatif yang sangat elementer dan perlu pengkajian lebih dalam, disaat kita hendak mewujudkan Indonesia baru yang berjiwa nusantara.

Sekian dan Terima Kasih.

 

 

Rampess,,,

Published in: on 18 Oktober 2010 at 02:55  Tinggalkan sebuah Komentar  

SANGHIYANG SIKSA KANDANG KARESIAN

 

 

PIWEJANG KARUHUN SUNDA (SANGHIYANG SIKSA KANDANG KARESIAN)

Oleh: Richadiana Kartakusumah


Naskah Sangyang Siksakanda ng Karesian berjumlah 30 lembar, ditulis pada tahun 1440 Saka (1518 M). Naskah ini disimpan di Museum Pusat dengan nomor kode Kropak 630 (Mansukrip Sunda B) Sebagian isi dari naskah dapat diuraikan sebagai berikut :

 

1. Dasakerta

Kesejahteraan hidup dapat dicapai bila kita mampu memelihara 10 bagian tubuh yaitu :

[*]Telinga

[*]Mata

[*]Kulit

[*]Lidah

[*]Hidung

[*]Mulut

[*]Tangan

[*]Kaki

[*]Tumbung (Dubur)

[*]Alat kelamin (Purusa)

Jika 10 bagian tubuh tersebut tidak dijaga dapat mendatangkan musibah (dora bancana) tetapi bila digunakan dengan benar dapat membawa kesejahteraan (dasa kereta). Dahulu para paraji (dukun bayi) selalu membisikan wejangan pada telinga kiri bayi sesudah dimandikan “Ulah sadengena mun lain dengekeunana” (janganlah mendengar apa apa yang tidak pantas di dengar)

2. Dasa Prebakti

Ajaran ini menuntut ketataan seseorang pada orang lain karena kedudukannya, seperti : anak taat pada orangtua, istri taat pada suami, murid taat pada guru. Ini dimaksudkan agar kehidupan bermasyarakat dan bernegara dapat berjalan dengan baik dan lancar.

3. Pancaaksara Guruning Janma

Dalam Siksakandang dituturkan : “Pancaaksara ma byakta nu katongton kawreton, kacakeuh ku indriya” (Pancaaksara adalah kenyataan yang terlihat dan teralami, serta tertangkap oleh indera). Artinya : “Pengalaman harus dijadikan sebagai pelajaran bagi manusia” dimana melalui pengalaman itu akan diperoleh hakikat dari diri manusia dan lingkungannya

4. Darma Mitutur

Wejangan ini berkaitan dengan keharusan untuk seorang untuk belajar dari pengalaman dan dalam menuntut ilmu sesepramg harus memiliki penyikapan untuk tidak memandang waktu, guru dan yang harus digurui dan harus bersikap teliti dan selektif. Darma Pitutur tersebut diuraikan melalui suatu siloka sunda kuno sebagai berikut

Tadaga kang carita hangsa (Ingin tahu tentang telaga, tanyalah angsa 

Gajendra carita banen (Ingin tahu tentang hutan, tanyalah gajah)

Matsyanem carita sagarem (Ingin tahu tentang laut, tanyalah ikan)

Puspanen carita bangbarem (Ingin tahu tentang bunga, tanyalah kumbang)

5. Ngawakan Tapa di Nagara

Setiap orang harus memiliki kemampuan dan keahlian, mulai dari seorang penggembala hingga pembesar kerajaan. Pada Naskah ini, disebutkan : “Sing sawatek guna, aya na satya diguna kahuluan; eta kehna turutaneun, kena eta ngawakan tapa di nagara” (Segala keahlian yang dengan setia dilakukan untuk negara, harus ditiru, karena itu berartu melakukan tapa di negara)

Contoh dari pekerjaan dan keahlian yang bermanfaat bagi negara antaralain adalah mentri, bayangkhara, pengalasan, pelukis, pandai emas, pandai besi, penyadap, prajurit, pemanah, pemungut pajak, penangkap ikan, penyelam dll.

6. Tritangtu Di Nu Reya

Merupakan tiga sendi kemenangan dalam masyarakat yang meliputi sikap “teguh, pageuh, tuhu” dalam kebenaran, Sikap ini mutlak dilakukan demi tercapainya kesejahteraan hidup. Bila setiap orang jujur dan benar dalam menjalan tugasnya maka sejahtera di utara-selatan-barat-timur dan dimanapun yang ada dibawah langit.

7. Hidup yang pantas dan bersahaja

Setiap orang dianjurkan untuk selalu berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya yaitu : 

pakeun nu tiwas kala manghurip,

emat-imeut rajeun leukeun, peda predana”

(agar tidak sengsara selama hidup, haruslah hemat dan rajin, cukup pakaian)

Sikap hidup yang bersahaja dan tidak berlebihan ini diuraikan :

“Jaga rang hees tamba tunduh,

nginum twak tamba hanaang,

nyatu tampa ponyo,

ulah urang kajongjonan.

Yatnakeun maring ku hanteu”

(Hendaknya kita tidur sekadar penghilang kantuk, minum tuak sekadar penghilang haus, makan sekadar penghilang lapar, jangan berlebihan. Inatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa apa)

8. Jangan gila pujian

Dinyatakan, “lamun aya nu muji urang, suita, maka geuning urang guminta pulangkeun ka nu muji, pakeun urang nu kapentingan kku pamuji sakalih. Lamun urang daek dipuji na kadyanggantang galah dawa minambungan tuna”yang artinya : Jika ada orang yang memuji kita, lalu sadarlah, kembalikan kepada pemuji, janganlah sekali kali mengharapkan pujian orang lain. Bila kita senang dipuji, sama halnya dengan galah panjang diberi sambungan sampai tidak dapat digunakan karna terlalu panjang

9. Panca Parisuda

Panca Parisuda memiliki arti Lima Obat Penawar. Ini kaitannya dengan sikap menerima kritik “Lamun aya nu meda urang, aku sapameda sakalih” (Bila ada yang mengkritik kita, terimalah kritik orang lain itu). Anggaplah ibarat kita sedang dekil menemukan air untuk mandi, ibarat sedang lapar ada yang memberi nasi, ibarat sedang dahaga ada yang memberikan minuman. Dengan sikap tersebut dikatakannya

“Kadyangga ning galah cedek tunugalan teka” (Sama halnya dengan sodok dipapas menjadi runcing). Dengan kritik, akal budi kita akan makin kukuh dan tajam.

10. Hidup yang penuh berkah

Pelengkap hidup agar selamat dalam kehidupan dan mendapat berkah dalam hidup harus :

[*]Cermat

[*]Teliti

[*]Rajin

[*]Tekun

[*]Cukup Sandang

[*]Bersemangat

[*]Berpribadi pahlawan

[*]Bijaksana

[*]Berani Berkorban

[*]Dermawan

[*]Gesit

[*]Cekatan

11. Parigeuing dan Dasa pasanta

Dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat tradisional ada 3 posisi yang menjadi tonggak kehidupan, yaitu Rama (Pendiri kampung dan Pemimpin masyarakat) Resi (Ulama atau Pendeta) Prabu (Raja yang memiliki kekuasaan) Dalam naskah, dianjuran agar orang berusaha memiliki wibawa seorang prabu, ucapan seorang rama dan tekad seorang resi

Published in: on 21 September 2010 at 16:26  Tinggalkan sebuah Komentar  

Sunda JATI


Bewara kahiji

Nu ngagem Urang Sunda Kanekes (ngaran topna: Baduy).Kanekes teh ngaran hiji tempat di Banten.

Ngaran Agama & Kapercayaan: Sunda Wiwitan. Wiwitan teh hartina mimiti, asal, poko, jati.Ngaran sejen: Sunda Asli, Jatisunda (jati, sanes mahoni)

Ngaran Pangeran:

Sang Hiyang Keresa (Nu Maha Kuasa), Nu ngersakeun (Yang Maha Menghendaki).Sebutan sejen:Batara Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa),Batara Jagat (Tuhan Penguasa Alam)Batara Seda Niskala (Tuhan Yang Maha Gaib)

 

Tempat Pangeran: Buana Nyungcung Kabeh dewa dina konsep agama Hindu (Brahmana, Syiwa, Wisnu, Indra, Yama,jrrd) tunduk ka Batara Seda Niskala.

Konsep Alam ceuk mitologi atawa kosmologi urang Kanekes aya tilu: 1.Buana Nyungcung, tempat linggih Sang Hiyang Keresa, pangluhurna 2.Buana Panca Tengah, tempat jelema, sato, tatangkalan (kaasup tangkal jengkol jeung peuteuy) jeung sadaya mahluk sejena (sireum, tongo, tumbila,jeung sajabana) 3.Buana Larang , naraka. Panghandapna.

Antara Buana Nyungcung jeung Buana Panca Tengah, aya 18 lapisan (langit tea meureun). Lapisan pangluhurna, ngarana Buana Suci Alam Padang, nu ceuk koropak 630 (sigana nomer lomari paranti nunda naskah kuno di Arsip Nasional Jakarta) disebut Alam Kahiyangan atawa Mandala Hiyang, tempat linggihna Nyi Pohaci Sanghiyang Asri jeung Sunan Ambu. (Sunan Ambu ieu ayeuna dijadikeun ngaran gedong teater di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung (STSI) Buah Batu.

Sang Hiyang Keresa nurunkeun tujuh batara di Sasaka Pusaka Buana. Nu pangkolotna, Batara Cikal, dianggap karuhun urang Kanekes (Baduy). Turunan batara sejenna marentah di daerah Karang, Jampang, Sajra, Jasinga, Bongbang, Banten.

Kapangaruhan Hindu Saeutik Mun noong ngaran2 batara (‘utusan’ Sang Hiyang Keresa: Wisawara, Wisnu, Brahma), tetela aya pangaruh ti Hindu kana ieu sistem kapercayaan urang Kanekes. Tapi kapercayaan Urang Kanekes ieu lain Hindu.

Buana Panca Tengah Ieu wilayah jelema jeung mahluk sejenna, dibagi numutkeun tingkat kasucianana: 1.Sasaka Pusaka Buana, dianggap paling suci, ampir ngarendeng jeung Sasaka Domas (atawa Salaka Domas). Ieu pusat dunya. 2.Kampung Jero, Pusat lingkungan Desa Kanekes 3.Kampung Luar/panamping/penyangga/bumper, Desa Kanekes, jadi pusat Banten 4.Banten, jadi pusat Sunda 5.Tanah Sunda 6.Luar Tanah Sunda

Aturan Hirup: Titahan jeung Pamali (basa urang dinya, Buyut) ti karuhun. Kabuyutan, tempat nu ngandung rupa-rupa pamali. (Teu meunang anu, teu meunang anu tea….)

Ritual/Upacara: ngukus, muja, ngawalu, ngalaksa.

Muja

Muja diayakeun di Sasaka Pusaka Buana jeung Sasaka Domas dina waktu nu beda. Di Sasaka Pusaka Buana sataun sakali, lilana tilu poe, tiap tanggal 16, 17, 18 bulan Kawolu (bulan kalima numutkeun sistim kalender Urang Kanekes. US boga sistem kalender sorangan tah!). Muja dipingpin ku Puun (sigana sarupaning kepala adat) Cikeusik, jeung jalma2 kapercayaanana (baris kolot-sesepuh meureun). Poe kahiji, rombongan upacara angkat ka ranggon (Talahab- saung). Ngendong di dinya. Isukna, mandi jeung karamas, terus angkat ka ka Sasaka Pusaka Buana ti arah kaler. Upacara muja dilakukeun di undakan kahiji, ngadep ka pasir/bukit SPB, nepi ka tengah poe. Terus mersihan salira, bari memeres palataran undakan. Beres kitu, ngumbah leungeun jeung suku ti batu Sang Hiyang Pangumbahan. Terus naek ka puncak pasir/bukit. Di dinya rombongan ngala lukut nu napel dina batu. Lukut (lumut) eta disebut komala (permata), dibawa mulang jeung dipercaya bisa ngadatangkeun berkah jang nu merlukeun.

Buyut/Pamali Aya dua jinis: 1.Buyut Adam Tunggal, pamali nalian urang Tangtu (warga kampung jero). Buyut ieu pamali nu nalian hal poko jeung nu sejenna/rinci 2.Buyut Nuhun, pamali nu berlaku jang orang Panamping jeung Dangka (warga Kanekes Luar). Buyut ieu mah ngan jang nu poko. Jadi nu di Panamping atawa Dangka kaci dilakukeun, tapi di daerah Tangtu/Kampung Jero mah teu kaci.

Pamali bin buyut ieu ngandung udagan: a.melindungi kasucian jeung kamurnian suka manusa b.melindungi kamurnian mandala/tempat cicing c.melindungi tradisi

Buyut atawa pamali (tabu) diayakeun bisa jadi jang melindungi mandala Kanekes, karena ti samet Karajaan Sunda ancur (1579 Masehi), teu aya deui karajaan nu ngalindungi. Malah sok aya pertentangan kapentingan antara urang Kanekes jeung Kasultanan Banten oge pamarentah kolonial. Tah, ceunah, cara jang melindungi diri sendiri teh make eta pamali atawa buyut! Teu kawasa, ucapan nu kaluar mun kudu ngarempak buyut.

Hukuman atawa sanksi jang nu ngarempag buyut: dikaluarkeun/dipiceun/ditamping ti lingkungan asal dina jangka waktu nu tangtu, biasana 40 poe. Upacara pelaksanaan hukuman disebut Panyapuan.

Konsep Daur Hirup Sukma atawa roh jelema asalna ti Kahiyangan, mun hirup di Buana Panca Tengah angges, sukma balik deui ka Kahiyangan (ngahiyang tea meureun!). Waktu sukma turun ti Kahiyangan ka Buana Panca Tengah, kondisina rahayu, alus, balik oge kudu kitu. Mun henteu beresih tapi kotor alatan loba buyut/pamali nu dirempag, nya ka naraka. Alus gorengna sukma waktu rek mulang gumantung kana amal perbuatan di Buana Panca Tengah saluyu jeung tugas hidup masing2. Dina raraga mancen tugas, sukma dibekelan 10 indra.

Bewara Kadua

Masyarakat Baduy yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Kontak mereka dengan dunia luar telah terjadi sejak abad 16 Masehi, yaitu dengan Kesultanan Banten. Sejak saat itu berlangsunglah tradisi sebasebagai puncak pesta panen dan menghormati kerabat non Baduy yang tinggal di luar Kanekes. Bagi Kesultanan Banten tradisi Seba tersebut diartikan sebagai tunduknya orang Baduy terhadap pemerintahan kerajaan setempat (Garna,1993). Sampai sekarang upacara Seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten. Di bidang pertanian penduduk Baduy Luar berinteraksi erat dengan masyarakat lain yang bukan Baduy, misalnya dalam sewa menyewa tanah, dan tenaga buruh. Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Baduy menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Baduy terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Disamping itu, orang Baduy di Kanekes, sejak para karuhun memiliki syair-syair atau pantun-pantun. Syair ataupun pantun tersebut menggunakan bahasa yang dipergunakan sebagai media utama dalam lisan sehari-hari Baduy tapi mengandung pituah, perintah, adalah Bahasa Sunda dialek Baduy yang telah meninggalkan Kanekes beserta segala pranata masyarakatnya. Dalam hal ini seperti adat kepercayaan, kebiasaan, yang bertumpu pada akar keklasikan serta banyaknya kata-kata dan untaian kalimat Sunda Kuno. Dikalangan masyarakat Baduy Kanekes, unsur Sunda Kuno itu lebih banyak dibanding yang terdapat dikalangan masyarakat Sunda luar Kanekes. Hal itu dikarenakan sangat gugon tuhonnya mereka memelihara peninggalan karuhun termasuk didalamnya bahasa. Hal itu ditopang pula oleh sangat jarangnya persentuhan mereka dengan budaya luar. Terutama di Tangtu Telu, Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Karenanya, merekapun sangat tidak mengenal undak usuk basa. Bagi orang Tangtu undak usuk basa sangat asing. Contoh, untuk orang pertama dengan siapapun mereka berbicara mempergunakan sebutan aing, untuk orang kedua dipergunakan sebuatan sia. Orang Baduy Kanekes, sangat demokratis dalam berbahasa.

Mantra

Bentuk-bentuk mantera sastera lisan yang terdapat di Baduy Kanekes, diantaranya Mantera, Pantun, Pikukuh, Pitutur, Susuwalan, Riwayat, Cerita Rakyat dan Legenda. Adapun bentuk yang tertua dilihat dari segi bahasa, kandungan isi dan falsafah, serta nafas, ialah Mantera. Aki Puun Djainte dari Baduy Jero Cikeusik, menuturkan bahwa mantera, jauh lebih tua dari pantun serta Sastera Bambu. Mantera terdiri dari beberapa tingkat. Tua, pertengahan dan muda. Mantera ini juga ditentukan peruntukannya, seperti halnya untuk apa mantera diucapkan, tahun berapa keberadaan dari mantera tersebut, serta bahasa yang dipergunakannya. Namun betapapun mudanya usia sesuatu Mantera, fungsinya dalam kehidupan ritual masyarakat Baduy, menempati urutan yang teratas. Hal ini sejajar dengan kedudukan serta wibawa pikukuh. “Bisina kagetrak kagetruj, mangkana kudu nyanybla ku omong” (untuk menjaga ada yang tergores, kita harus pamit terlebih dahulu). Ujar Jaro Inas tahun 1980, Dukun Pantun dari Baduy Jero Cikeusik, tentang mantera.

Berikut salah satu contoh mantera maysrakat Baduy :

Sapun awaking reuk make pasang panjang pasadun pok sablapun

Meunag Ahung tujuh kali

Ahung deui

Ahung deui

Ahung malungga

Ahung malingga

Ahung mangdegdeg

Ahung mangandeg

Ahung manglindu asih

Ka Ambu aing Sira mangambung

Ka Bapa aing Sira mangumbang

Pangjungjungkeun panglawungkeun

Ku Ambu aing sira manglaung

Ku Bapa aing sira mangumpang

Pangnyambungkeun aing saur pangngapakeun aing saba

Ka luhur ka mega beureum

Ka mega hideung

Ka mega si karambangan

Ka mega si kareumbingan

Ka mega si karenten

Ka mega si kalambatan

Ka mega si kaleumbitan

Ka mega ssi antrawela

Ka kocapna

Ka ucapna

Ka Puncakning ibun

Ka guru putra hiyang bayu

Ka nu weang nyukcruk ibun

Ahung…….

Tingkatan mantra yang dikutip dari mantera yang dipakai dalam Pasundan Pantun Baduy tersebut, termasuk Mantera tingkat pertengahan. Berikut adalah kutipan dari Mantera yang lebih muda, diambil beberapa bait dari Mantera pada upacara Ngareremokeun (mengawinkan) Nyai Pohaci dengan Bumi. Suatu upacara yang dinamakan pula Ngaseuk. Dalam tradisi Adat sunda Wiwitan, masa Ngaseuk adalah masa Ngareremokeun padi yang diberi nama sangat indah, agung dan puitis; Nu Geulis Nyai Pohaci Sri Dangdayang Tresnawati, dengan Tanah atau Bumi yang bergelar sangat perkasa:

Weweg sampeg, Mandala pageuh

Mangka tetep mangka langgeng

Mangka langgeng tunggal tineung

Datang hiji datang dua

Datang tilu nungku nungku

Datang opat ngawun ngawun

Datang lima lingga emas

Datang genep nguren nguren

Datang tujuh lilimbungan

Puluhan tanpa wilangan

Sedang dalam Mantera mengundang kehadiran Nyai Pohaci Dangdayang Tresnawati pada acara Tari Baksa untuk memeriahkan Ngeslamkeun anak anak Baduy Kanekes, antara lain berbunyi:

Calik calik nu geulis

Nyai Sri calik di dieu

Unggah ka pasaran lega

Geusan sia gagayahan

Geusan sia gagayahan

Di gedong manik mandala pageuh

Lemut teuing ku buruanana

Lesang teuing ku bojana

Nu geulis ranggeuy mirikiniknik

Bar ngampar ku samak metruk

Gasan bujang kasangna bagus

Gasan Nyai tes netepan

Ngajepret palisir bodas

Mantra dalam jenis tinggi berusia tua, hanya di sablakan pada upacara sakral seperti pada jarah ke Sasaka Domas atau Sasaka Mandala, satu tahun sekali. Pengsablaannya (pembacaan mantera) Hanya dilakukan oleh Girang Puun dari Tangtu Padaageung (Baduy Jero Cikeusik). Sedangkan pengsablaan mantera tua pada upacara sakral Ngalaksa dan Ngawalu tersebut, hanya dapat dilaksanakan Baris Kolot (tertua) tertentu dari Baduy Jero (Tangtu) atau Baduy Luar (Panamping). Karenanya, wajarlah jika Sastera Lisan Baduy berbentuk Mantera tersebut, hanya dikuasai oleh beberapa Baris Kolot saja. Sehingga dikawatirkan keadaan atau kelestariannya akan cenderung menghadapi kepunahan. Paling tidak ada generasi penerusnya. Bahasa yang dipergunakan Mantera yang biasa dipakai para Girang Puun, waktu Jarah atau Muja ke Sasaka Pusaka Mandala atau Sasaka Domas, ialah bahasa Sunda Kuno.

Pikukuh, adalah Hukum Adat Baduy Kanekes, yang menyumber pada keyakinan Sunda Wiwitan. Diturunkan dengan lisan turun temurun sejak kurun tahun tidak terhitung. Terjalin dalam untaian kata dan kalimat, berbentuk puisi serta prosa lirik. Seperti: Lonjor teu beunang dipotong, pondok teu beunang disambung (panjang tak dapat dipotong, pendek tak dapat disambung).

Arca domas

Objek terpenting dalam kaitannya dengan sistem religi Orang Baduy adalah Sasaka Domas. Objek itu sangatlah bersifat rahasia dan sakral, karena merupakan objek pemujaan paling suci bagi Orang Baduy. Bahkan Orang Baduy sendiri hanya setahun sekali yaitu pada bulan Kalima (upacara muja) dan orang terpilih oleh puun saja yang boleh ke sana. Tempat pemujaan itu merupakan sebuah bukit yang membentuk punden berundak sebanyak tujuh tingkatan, makin ke selatan undak-undakan tersebut makin tinggi dan suci.

Dinding tiap-tiap undakan terdapat hambaro (benteng) yang terdiri atas susunan batu tegak (menhir) dari batu kali. Pada bagian puncak punden terdapat menhir dan arca batu. Arca batu inilah yang dikenal dengan sebutan Sasaka Domas (kata ?domas? berarti keramat/suci). Sasaka Domas digambarkan menyerupai bentuk manusia yang sedang bertapa. Arca ini terbuat dari batu andesit dengan pengerjaan dan bentuk yang sangat sederhana (seperti arca tipe polinesia atau arca megalitik). Sasaka Domas ini terletak di tengah hutan yang sangat lebat tidak jauh dari mata air hulu sungai Ciujung. Kompleks Sasaka Domas ini meliputi areal sekitar 0,5 hektar dengan suhu yang sangat lembab, sehingga batu-batu yang ada di sana semuanya berwarna hijau ditumbuhi lumut.

Objek religi terpenting bagi Masyarakat Baduy adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Baduy mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setiap tahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya puun yang merupakan ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi Masyarakat Baduy itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen.



<span>kalau boleh dikatakan Kanekes atau Baduy merupakan :Kaum berdikari yang seharusnya menjadi contoh </span><span>Indonesia</span>

CINTA warisan nenek moyang dan alam, berdikari dan jauh daripada hidup moden. Begitulah kaum Baduy di Banten, wilayah baru di Indonesia (sejak dipisahkan secara rasmi daripada wilayah Jawa Barat pada 2000). Banten juga terkenal sebagai wilayah ‘seribu pendekar’ kerana pernah mempunyai para wira yang hebat. Suku Baduy terdapat di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Mereka telah menarik perhatian luas pelancong ke Indonesia. Hukum adat mereka melarang masyarakat Baduy berhubungan dengan dunia luar termasuk hal-hal yang berbau kemodenan. Jika ada yang melanggar peraturan ini, orang itu akan disingkirkan.

Baduy Dalam sangat ketat menghormati warisan nenek moyang dan mereka sangat patuh terhadap peraturan agar tidak berhubung secara aktif dengan luar dan kalau ada yang melanggar hukum, mereka akan disingkirkan. Baduy Luar pula sudah mula berinteraksi dengan budaya luar dan kemodenan.

Untuk menegakkan peraturan adat ini, suku Baduy Dalam mempunyai upacara tahunan yang disebut Pun Sapun yang memuja alam.

Setelah upacara, ia dilanjutkan dengan pemeriksaan dari rumah ke rumah untuk memastikan bahawa tiada keluarga yang mempunyai barang-barang dari luar seperti televisyen, radio atau barangan yang menandakan kemodenan. Jika ditemui, anggota Baduy Dalam akan dikenakan tekanan menurut peraturan adat termasuk disingkirkan.

Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar akan jelas terpapar pada pakaian berdasarkan status sosial, tingkat umur dan peranan. Umumnya, Baduy Dalam berpakaian putih atau cerah dan Baduy Luar berpakaian hitam atau gelap.

Masyarakat Baduy sangat patuh kepada pemimpin adat mereka yang digelar Puun.Puun mempunyai tugas untuk melestarikan hukum adat dan mengatur tatacara kehidupan suku. Apa pun yang dikatakan ketua adat akan dipatuhi oleh anggota masyarakat Baduy. Puun juga memerhati peredaran bintang untuk mengatur penanggalan (kalendar) yang berfungsi, terutamanya, untuk mengetahui masa bercucuk tanam. Ciri lain yang menonjol daripada suku Baduy ialah pola hidupnya yang sangat sederhana dan tidak mengharapkan bantuan daripada luar.

Masyarakat ini sangat berdikari dengan berladang. Mereka menanam pelbagai jenis tanaman, termasuk kapas. Aktiviti berdagang dilakukan secara tukar ganti (barter).Untuk keperluan seperti pakaian, mereka menenun kain sendiri (pekerjaan utama kaum wanitanya). Suku Baduy sangat kreatif dalam menghasilkan tenunan dan kerja tangan seperti Koja dan Jarog (beg yang diperbuat daripada kulit kayu).

Selain patuh kepada ketua adat atau Puun, mereka juga masih menghargai ketua pemerintah setempat di luar seperti camat (penghulu) atau bupati (pegawai daerah). Bukti hormat jelas terpapar pada upacara tahunan, Seba kepada Bapak gede. Upacara ini ditanda dengan penyerahan (ufti) hasil tuaian masyarakat Baduy kepada camat Leuwidamar dan Bupati Lebak.

Suku Baduy sangat menghargai alamnya. Mereka menjaga, melindungi dan melestarikan tanaman dan pohon serta hutan di sekitar mereka dengan sangat ketat. Bahkan, mereka mempunyai larangan yang sangat ketat untuk tidak memasuki ‘hutan larangan’ yang dikatakan terdapat di daerah di beberapa hulu sungai di Banten.

Arca Domas yang biasa disembah di hutan larangan. Kononnya, arca itu diperbuat daripada emas tulen. Apakah arca ini merupakan dongeng atau betul-betul ada. Yang pasti, tiada seorang pun dapat sampai ke tempat ini tanpa izin Puun.

Baduy menyambut Ngalaksa yang dikatakan serupa dengan Hari Raya Puasa (atau Lebaran menurut Muslim Indonesia) sebagai tanda rasa syukur kepada Tuhan. Ia disambut setelah masyarakat Baduy berpuasa tiga bulan atau Kawalu. Ketika Kawalu, Baduy Luar atau Baduy Dalam dilarang keras daripada berhubung dengan masyarakat luar. Masyarakat Baduy patuh kepada pemimpin. Ketika krisis ekonomi melanda kenaikan harga makanan, Baduy dapat dijadikan contoh dari segi daya berdikari dan kreativitas.

Pun Sapun ka Luluhuran sakabeh Aing Menta panjang nya pangampurna!

 

Ahuuung,,, !!!

Published in: on 21 September 2010 at 07:11  Komentar (2)  

AJISAKA PURWAWISESA

 

 

oleh : Lucky Hendrawan


Sama halnya legenda Sangkuriang, masyarakat di Jawa-Barat mengenal kisah Ajisaka Purwawisesa dan seperti biasanya legenda ini mengundang banyak versi (sudut pandang) dalam soal pemaknaan, dilain pihak ada sebagian masyararakat yang menganggap bahwa legenda ini hanyalah tuturan dongeng tanpa makna (hiburan biasa) seperti karya-karya para sastrawan Barat sekelas Hans Christian Andersen atau William Shakespeare.

Sesungguhnya sebutan Ajisaka Purwawisesa itu adalah nama lain atau sandi ajaran Sunda milik bangsa Galuh Agung yang disampaikan oleh Sang Sri Rama Mahaguru Ratu Rasi Prabhu Shindu La-Hyang atau Sang Hyang Watugunung Ratu Agung Manikmaya atau sering disebut sebagai Aji Tirem (Aki Tirem).

Ringkasan kisah legenda Ajisaka Purwawisesa adalah sebagai berikut;

Dikisahkan bahwa Ajisaka adalah penguasa Majati, ia memiliki dua ponggawa yang bernama Dora dan Sembada. Dora diajak menemani Ajisaka berkelana dan Sembada diperintahkan menjaga pusaka di Majati agar tidak diambil oleh siapapun kecuali oleh Ajisaka.

Lalu, Ajisaka dan Dora bertemu dengan Prabhu Dewata Cengkar penguasa Medang Kamulan yang gemar memakan manusia. Pada awalnya Dewata Cengkar adalah orang baik, ia jadi menyukai manusia karena Juru Masak istana terpotong telunjuknya dan masuk ke dalam makanan yang disajikan kepada Dewata Cengkar.

Ajisaka ‘menawarkan’ diri untuk dimakan oleh Dewata Cengkar dengan imbalan diberi tanah seluas dan sepanjang ikat kepalanya. Ikat kepala ditarik oleh Dewata Cengkar dan terus memanjang hingga ke tepi jurang di bibir laut. Ajisaka mengalahkan Dewata Cengkar oleh ikat kepalanya hingga penguasa Medang Kamulan itu terjerumus ke dalam laut dan berobah menjadi Buaya Putih.

Setelah Ajisaka menggantikan Dewata Cengkar sebagai Raja Medang Kamulan ia memerintahkan Dora untuk mengambil pusaka di Majati yang dijaga oleh Sembada. Sesuai perintah Ajisaka Sembada tidak memberikan kepada Dora hingga keduanya saling bertempur hingga tewas. Lalu untuk mengabadikan kedua ponggawanya Ajisaka Purwawisesa menciptakan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka atau sering disebut sebagai huruf Palawa.

Berdasarkan legenda di atas setidaknya dapat ditelusuri dan dikaji beberapa hal yang berkaitan dengan objek serta penamaan yang tercantum dalam cerita tersebut, yaitu :

 

1. Ajisaka Purwawisesa

-          Aji = Ajar / Ajaran

-          Saka = Pusat Inti/ Pilar Utama/ Inti Utama (“Matahari”)

-          Purwa = Purba/ Masa lalu yang sangat lama/ Jaman dahulu sekali …atau boleh jadi maksudnya adalah “Leluhur” (?)

-          Wisesa = Kuasa/ Penguasa/ Kekuasaan/ Yang berkuasa

Maka, “Ajisaka Purwawisesa” itu kira-kira mengandung beberapa makna sebagai berikut:

-          Pilar utama ajaran para penguasa jaman dahulu

-          Ajaran utama (para) penguasa masa lalu

-          Inti ajaran para Leluhur yang berkuasa

-          atau boleh jadi artinya “Ajaran Matahari” (Sunda)

 

2. Majati

-          Ma = Ibu / Ambu / Indung

-          Jati = Sejati

-          Atau bisa jadi artinya Ra-Ma-Jati (Ibu Matahari ‘yang’ Sejati)

Maka, sebutan “Majati” mengandung makna “Ibu Sejati”. Dalam hal ini masyarakat Nusantara khususnya Jawa Barat meyakini/ menganggap bahwa ibu yang sejati itu adalah “Ibu Pertiwi” (Tanah Air), kadang mereka menyebutnya juga sebagai Indung Jati atau Indung Agung yaitu “Tanah para Leluhur” tempat bersemayamnya para “Hyang” (Eyang/ Biyang/ Moyang) di kawasan Bandung Utara – Jawa Barat.

3. Dora dan Sembada

-          Dora = Dora ka….., berbohong, tidak jujur, menipu, berdusta

-          Sembada = Makmur, sentausa, berkecukupan (kaya), kuat

 

Dengan demikian dalam kisah ini menunjukan bahwa Ajisaka membawa berita buruk tentang “kebohongan” (Dora), sedangkan yang ditinggalkan untuk menjaga “Pusaka Ibu Pertiwi (Ma-Jati)” adalah kebaikan “kemakmuran/ kesentausaan” (Sembada).

4. Medang Kamulan

-          Medang / Madang (Ma-Da-Hyang) = Ibu Agung, Lumbung Padi, boleh jadi maksudnya adalah “Ibu Kota” (Jawa).

-          Kamulan = Kemuliaan

 

“Medang Kamulan” berasal dari kata Ma (Ibu) – Da (Agung/ Besar) – Hyang (Leluhur) – Kamuliaan. Jadi makna keseluruhan dari istilah Medang Kamulan itu adalah “(yang) Mulia Ibu Hyang Agung” atau Ibu Negeri (Ibu Kota) Kemaharajaan Nusantara di Pulo Jawa. Dalam catatan sejarah wilayah Keraton (Keratuan/ Pusat Pemerintahan) Nusantara disebut Ka-Lingga, kelak di jaman Ra-Hyang Sanjaya berganti menjadi Bumi Mataram (abad ke VIII).

Maka cerita Ajisaka telah menunjukan letak kejadian atas peristiwa yang sesungguhnya, yaitu di “Mataram Kuno” sebagai representasi atas pulo Jawa sebagai wilayah Ibu Kota dan Nusantara secara keseluruhan.

5. Juru Masak

-          Juru = Ahli (mis : juru pantun = ahli pantun), ‘pemimpin’ (mis : juru mudi, juru selamat), namun bisa juga artinya “sudut” (yang tersudutkan/ terdesak).

-          Masak = Matang, Tua.

 

Dengan demikian “Juru Masak” merupakan silib-siloka dari “Tetua yang tersudutkan” atau “Ketua yang terdesak”. Pada prinsipnya ia adalah “penguasa gudang makanan”. Di dalam legenda ini tampaknya ‘istilah’ sang “Juru Masak” ditujukan untuk menyembunyikan status Penguasa Medang Kamulan (Maharaja Nusantara di Pulo Jawa).

6. Telunjuk

-          Telunjuk = silib-siloka “pemerintah penguasa”

 

“Telunjuk” adalah silib-siloka “kekuasaan” maka dalam legenda Ajisaka Purwawisesa pada bagian “telunjuk Juru Masak” terpotong dan dimakan oleh Dewata Cengkar itu menyiratkan tentang hilangnya kekuasaan penguasa negara (Maharaja Nusantara di Pulo Jawa) ‘disantap’ oleh Dewata Cengkar.

  1. Rakyat Medang Kamulan

Rakyat (manusia) dimakan oleh Dewata Cengkar, hal ini tentu saja menunjukan bahwa masyarakat Medang Kamulan sebagai representasi Ibu kota Nusantara di Pulo Jawa dalam keadaan ditindas dan dijajah oleh Dewata Cengkar atau maksudnya berada dalam kekuasaan ‘Dewata Cengkar’.

  1. Ikat Kepala

Pola bentuk ikat kepala yang terbanyak di dunia hanyalah di Nusantara. Ikat kepala bukan sekedar fungsi ataupun identitas, ia mengandung filosofi yang sangat dalam. Ikat kepala adalah perlambang “leluhur” maka dalam legenda Ajisaka ini menunjukan bahwa Dewata Cengkar dikalahkan oleh “ilmu para leluhur” hingga ia terusir dari Medang Kamulan – Bumi Mataram.

9. Dewata Cengkar

-          Dewa = Cahaya (*bukan Sinar/ bukan Matahari)

-          Ta = Gerak Hidup

-          Cengkar = Tempat yang luas tandus dan gersang, tempat kering berpasir dan berbatu (padang pasir).

 

Jika ditelaah berdasarkan kata-perkata tampaknya sosok “Dewata Cengkar” ini adalah simbol “penguasa” yang datang dari wilayah gersang dan tandus (padang pasir) lalu menguasai Negeri Lumbung Padi (Medang Kamulan) Ibu Kota Mataram kuno di Pulo Jawa atau representasi dari Nusantara.

  1. Buaya Putih

Tentu saja di dunia ini tidak pernah ada buaya yang ‘berwarna’ putih, apalagi ia jenis mahluk yang biasa tinggal di lumpur (‘kotor’). Dalam sudut pandang masyarakat pulo Jawa (dan Nusantara) pada umumnya sosok “Buaya” merupakan perlambang “keburukan” misalnya; Air mata buaya, Buaya Darat, Bajul buntung, dll. Dengan demikian makna yang terkandung dalam kisah Dewata Cengkar berobah menjadi “Buaya Putih” itu maksudnya adalah; terbongkar penyamaran Dewata Cengkar dan terkuak keburukannya namun demikian ia masih juga ada di “tanah-air” dengan berkedok kesucian.

  1. Aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka

Perihal ini merupakan simbol tentang “ajaran” para Leluhur Nusantara (Agama Sunda) yang dibawa dari Majati oleh Ajisaka Purwawisesa, yaitu ajaran lokal/ nilai-nilai lokal/ ‘bahasa’ lokal, atau boleh jadi mengandung makna tentang “datang dan kembalinya jati diri bangsa Nusantara setelah dirusak/ ditipu/ dijajah oleh Dewata Cengkar”.

Kesimpulan dari legenda Ajisaka Purwawisesa dan Dewata Cengkar ini adalah memberitakan tentang kejadian di masa lalu, yaitu:

-          Melihat runtun kejadian sejak datangnya ‘Dewata Cengkar’ ke pulo Jawa hingga ‘Ajisaka’ (Sanjaya) menjadi raja Medang Kamulan (Raja Bumi Mataram ke I) maka dapat diartikan (di duga) bahwa kejadian itu berlangsung pada jaman Kerajaan Ka-Lingga masa pemerintahan Ra-Hyang Sena / Sanna / Bratasenawa putra Ra-Hyang Ta Mandiminyak (Sang Amar / Sang RAMA).

-          “Medang Kamulan” atau pulo Jawa sering diartikan / disetarakan sebagai Bumi Mataram (kuno) yaitu Ibu Kota Kemaharajaan Nusantara. Kerajaan Mataram (I) / Mataram ‘Hindu’ / Mataram Jati / Mataram pra-Islam dibangun pada abad ke VIII Masehi oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya atau sering disebut sebagai “Sang Taraju Jawadwipa” menggantikan kerajaan Ka-Lingga.

-          Aji Saka Purwa Wisesa, adalah simbol “inti ajaran” paling tua di dunia yang menjadi pilar utama Bumi Nusantara, yaitu ajaran Matahari (Sunda) bangsa Galuh yang dibawa oleh Ra-Hyang Sanjaya dari wilayah Rama yang pada saat itu dipimpin oleh Ra-Hyang Ta Mandiminyak Sang Amara / ‘S(e)mar’ / Sang Rama beliau berkedudukan di pusat Ibu Pertiwi (Ka-Ambu-Uyut-an = Kabuyutan) yaitu Pa-Ra-Hyang (wilayah RAMA)

-          Di jaman Mataram Kuno pulo Jawa merupakan gudang makanan atau lumbung padi yang sangat besar (Medang Kamulan). Rakyat hidup tentram dan damai sebelum kedatangan ‘Dewata Cengkar’.

-          Pusaka Ibu Pertiwi (di Majati) sesungguhnya adalah “AJARAN MATAHARI (Sunda)” yang menjadi pilar penjaga Kesuburan dan Kemakmuran (Sembada) yang harus dijaga dan tidak boleh diserahkan kepada siapapun, apalagi kepada “pembohong” (Dora).

-          Pulo Jawa (dan Nusantara) pada awalnya diperintah oleh Maharaja (RATU) yang bijaksana (Juru Masak), di duga sejak jaman Ratu Sima (kerajaan Ka Lingga), namun setelah kedatangan ‘tamu’ dari negeri gersang (Dewata Cengkar) kekuasaan RATU diambil alih (telunjuk terpotong).

-          Ajisaka Purwawisesa dari Pa-Ra-Hyang (Majati) datang membawa kabar kebohongan / penipuan (Dora) tentang ‘tamu’ dari padang pasir itu (Dewata Cengkar) yang sebenarnya gemar memangsa manusia (suka berperang).

-          Keberadaan ‘Dewata Cengkar’ yang masih ‘menetap’ di Tanah Air pada prinsipnya disimbolkan dengan “Buaya” yang hidup di lumpur (Tanah-Air) dan menyamar / berkedok “kesucian” (Putih).

-          Medang Kamulan (representasi dari Nusantara) dapat diselamatkan dari kehancuran jika masyarakatnya ‘kembali’ kepada ajaran para leluhur Negara, kembali mempelajari nilai-nilai luhung yang dianut oleh leluhur Ibu Pertiwi, yaitu ajaran Sunda / agama Negeri Matahari.

-          HA-NA-CA-RA-KA ialah simbol nilai-nilai ajaran leluhur yang bertujuan untuk “mengingatkan” bangsa Nusantara tentang adanya “kebohongan” yang kelak berakibat kehancuran di negeri maha subur (DORA dan SEMBADA).

 

Berdasarkan kajian tanda pola perlambangan yang termaktub pada legenda Ajisaka Purwawisesa di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kisah tersebut sesungguhnya bukan cerita tanpa makna yang sekedar dongeng hiburan, melainkan dokumentasi penting atas sebuah peristiwa kejadian yang diberitakan secara simbolik dan dikemas dalam bentuk cerita berjudul AJISAKA PURWAWISESA.

Ahuuung,,,

Published in: on 30 Juli 2010 at 01:09  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.