KERBAU di dalam KEBUDAYAAN NUSANTARA

(CENTRUM VAN BUFFECULTUS – ALS MASGISCHE KRACHBRON)

 

Kerbau merupakan jenis hewan ternak yang memiliki peran dalam kehidupan masyarakat Nusantara, sejak Megalithicum. Periode (Megalitik) yang menandai tumbuh dan berkembangnya suatu konsepsi keyakinan terhadap kerbau dan binatang suci dan sumber kekuatan magis yang mampu mengusir dan menolak kekuatan jahat, sehingga kerbau banyak digunakan sebagai kurban hubungannya dengan berbagai upacara. Mengingat peran dan fungsinya yang sangat meluas di seluruh Nusantara dan sangat penting dalam kedudukan sosial-ekonomi dan religius kulturil Nusantara, Nusantara pernah dijuluki sebagai “Centrum van Buffecultus”.

Kecuali dianggap sebagai binatang suci yang kerap bertaut dengan upacara kurban dalam upacara keagamaan, penyembelihan kerbau dimaksudkan sebagai binatang kurban dalam upacara-upacara tertentu khususnya pada upacara kematian, dan upacara2 suci lainnya yang berhubungan dengan peristiwa perubahan tanah khususnya hidup pada budaya Agraris di Nusantara.

Kurban kerbau dipandang sebagai sumber magis (als magische krachbron) juga dihubungkan dengan kultur untuk menghormati nenek moyang dan upacara kesuburan (kemakmuran). Bersamaan dengan keadaan itu, maka mulailah dididrikan bangunan-bangunan Megalitik seperti yang kerap dijumpai pada upacara-upacara trdisional etnis Nusantara, seperti di Nias, Flores, Sumba dan lainnya yang meyakini bahwa kerbau merupakan binatang suci dan keramat.

Sebagai sumber kekuatan magis, sekaligus pula, kerbau dianggap mengandung kekuatan penolak terhadap gejala-gejala kekuatan jahat. Kemudian kerbau dianggap pula sebagai kendaraan bagi arwah nenek moyang yang telah meninggal dunia. Dalam kaitan ini kerbau termasuk pula sebagai suatu unsure di dalm system dualisme (bipartite system), dimana alam semesta itu dibagi atas dua yaitu dua golongan yang saling berhubungan satu sama lainnya – dunia atas dan dunia bawah; laki2 dan perempuan, tanah dan air dan lain sebagainya. Konsep kepercayaan kerbau telah berkembang di dalam cita-ciata Nusantara dan sangat mempengaruhi upacara keagamaan dari masa ke masa.

Di Bali, misalnya, yang mengenal upacara Panca Yadnya (5 macam upacara utama). Diantaranya pada peristiwa Ngaben disertai upacara titimamah, berbgai sesajen(upakara)nya menyertakan kulit, kepala, organ kaki dan organ tangan kerbau yang dibiarkan utuh, maksudnya tiada lain sebagai titian (jembatan) atau tumpuan upacara Sekah, simbol sang Atma dari yang telah meninggal – sebelum dinaikkan ke balai-balai yag membawa Sekah untuk dihanyutkan ke laut.

Demikian pula pada peristiwa upacara besar “Manca-wali-krama” bagi Pura Agung Besakih disertai pula serangkaian upacara “Mapulang-pakolem” ke laut, dan ke danau dengan memaka kerbau; selain itu di Bali ada jimat untuk menjaga keselamatan tanh dan ladang disebut “Kebomakale”. Jimat itu dibuat dari lempengan logam yang di dalamnya telah dipahatkan seekor kerbau beserta mantra-mantra magis selanjut-nya di tanam dalam tanah – lading yang bersangkutan.

Kerbau juga dipakai dalam upacara Piodalan (ulang tahun Pura) diantaranya di Pura Tegeh Koripan di Sukawana – Kintamani, selalu mempergunakan kerbau pada piodalan biasa yang diperingati setahun sekali cukup diberi sajen seekeor kerbau; sedangkan pada upacara piodalan besar yang dilaksanakan 10 tahun sekali biasanya menyertakan kurban empat ekor kerbau. Selanjutnya pada akhir upacara piodalan yang disebut upacara “Mekelem” atau “Bakti penyineb” – tulang belulang kerbau dan kepala kerbau ditanam di halaman pura penerajon dilengkapi dengam sesajn keben-kebenan (palawija).

Sejumlah prasasti-prasasti Jawa Kuno khususnya masa Mataram Kuno Jawa Tengah (abad 8-11 Masehi), yang berkaitan dengan memperingati peristiwa Sima. Peristiwa sacral sehubungan perubahan status tanah dengan seluruh kandungan (penduduk, tanah dan isinya), diresmikan melalu upacara keagamaan dan diantara sesajen persaratan resmi adalah menanam kepala kerbau; yang didalam prasasati kepala kerbau ini disebut “hadangan”.

Selain di Bali, paling mencolok peranan kerbau hingga kini masih lekat dijumpai di Tana Toraja. Kerbau, selain dianggap sebagai pokok harta benda (karena tremasuk jenis hewan ternak itu) yang menjadi pangkal penilaian dalam pembagian warisan juga untuk keperluan upacara-upacara keagamaan. Sesuai kepada fungsi dan peran kerbau tersebut, maka masyarakat kebudayaan Toraja membedakan jenis-jenis kerbau yang bisa dikurbankan, antara lain disebutkan, bahwa:

- untuk upacara yang bersifat persembahan Aluk Rambu Tuka (=Aluk Rampe Mataallo) yaitu mengormati Puang Matua (leluhur) hanya dipergunakan jenis kerbau yang hitam pekak yang dijuluki Tedong (kerbau) Puduk atau Tedong Pesuruh Aluk
- untuk upacara kematian/penguburan (Rambu Solok) digunakan jenis kerbau yang disebut Tedong Penuka
-
Pilihan dasar atas kerbau-kerbau yang dipilih dan ditetapkan untuk keperluan upacara tersebut disertai ketentuan tanda-tanda yang terdapat pada tubuh kerbau. Diantaranya warna kulit, ukuran berat, umur dan bentuk tanduk kerbau adalah yang paling penting. Masyarakat Tana Toraja menentukan bahwa kerbau yang dianggap bernilai terbaik yang kulitnya belang-belang putih seluruh tubuhnya; sedangkan kerbau dengan nilai terendah adalah kerbau bule. Jenis kerbau berkulit bule ini samasekali dilarang (pantang) dipergunakan dalam upacara apapun.

Dasar penilaian terhadap kerbau sebagai binatang kurban bagi upacara keagamaan tersebut dilatari kepercayaan setempat yang telah berlangsung turun temurun, dengan dasar anggapan tadi bahwa kerbau selain merupakan binatang suci dalam upacara-upacara juga dianggap memiliki unsure magis yang sangat kuat sekaligus merupakan kendaraan bagi perjalanan roh leluhur menuju alam arwah.

Pengaruh konsep kepercayaan tersebut juga ditampilkan secara nyata ked ala, berbagai aspek dan perangkat budaya masyarakat Tana Toraja. Pada bagian banguna rumah Toraja – Tongkonan – terutama bagian atap dihiasi susunan tanduk-tanduk kerbau, jumlah tanduk yang disusun tersebut menggambarkan “prestige” keluarga Tongkonan yang memilikinya. Tanduk kerbau juga dipakai sebagi hiasan pada gerbang pemamakan (Batu Tumoga).

Kerbau juga masih dipergunakan pada kelompok masyarakat Kalang (Yogyakarta) untuk upacara kematian dengan dasar kepercayaan yang sama yaitu menghormati dan sebagai kendaraan si mati menuju alam arwah.

Keyakinan tentang kerbau juga hingga kini terpatri sebagai sebutan masyarakat Sumatra Barat – Minangkabau” tetapi bukan artinya “menang adu kerbau” melainkan harus diterjemahkan dengan MA INANG KERBAU > beribu kepada kerbau adalah ungkapan simbolis – kognitif bahwa masyarakat kebudayaan Sumatra Barat menghormati DEWI IBU (inang-ibu-bunda – mande) yaitu Tanah tumpah darah tempat mereka lahir khas sifat masyarakat AGRARIS! hingga kini pun sifat dan konsep masyarakat M-inang – kerbau berpangkal pada keluarga ibu (matrilineal) – Ninik Mamak!

 

Cag heula
AMBU

Published in: on 31 Januari 2012 at 18:24  Tinggalkan sebuah Komentar  

Lahirnya HA-NA-CA-RA-KA

 

 

Konsepsi Tradisional dan Ilmiah

 


Oleh:

Richadiana Kadarisman Kartakusuma M.Hum

 

Secara garis besar, ada dua konsepsi tentang kelahiran ha-na-ca-ra-ka. Dua konsepsi itu masing-masing mempunyai dasar pandang yang berbeda. Konsepsi yang pertama berdasarkan pandang pada pemikiran tradisional, dari cerita mulut ke mulut sehingga disebut konsepsi secara tradisional. Konsepsi yang kedua berdasar pandang pada pemikiran ilmiah sehingga disebut konsepsi secara ilmiah.

 

Konsepsi secara tradisional.

Konsepsi secara tradisional mendasarkan pada anggapan bahwa kelahiran ha-na-ca-ra-ka berkaitan erat dengan legenda Aji Saka. Legenda itu tersebar dari mulut ke mulut yang kemudian didokumentasikan secara tertulis dalam bentuk cerita. Cerita itu ada yang masih berbentuk manuskrip dan ada yang sudah dicetak. Cerita yang masih berbentuk manuskrip, misalnya Serat Momana, Serat Aji Saka, Babad Aji Saka dan Tahun Saka lan Aksara Jawa. Cerita yang sudah dicetak misalnya Kutipan Serat Aji Saka dalam Punika Pepetikan saking Serat Djawi ingkang Tanpa Sekar ( Kats 1939 ) Lajang Hanatjaraka ( Dharmabrata 1949 dan Manikmaya ( Panambangan 1981 )

 

Dalam manuskrip Serat Aji Saka ( Anonim ) dan kutipan Serat Aji Saka ( Kats 1939 ) misalnya diceritakan bahwa Sembada dan Dora ditinggalkan di Pulau Majeti oleh Aji Saka untuk menjaga keris pusaka dan sejumlah perhiasan. Mereka dipesan agar tidak menyerahkan barang-barang itu kepada orang lain, kecuali Aji Saka sendiri yang mengambilnya. Aji Saka tiba di Medangkamulan, lalu bertahta di negeri itu. Kemudian negari itu termasyhur sampai dimana-mana. Kabar kemasyhuran Medangkamulan terdengar oleh Dora sehingga tanpa sepengatahuan Sembada ia pergi ke Medangkamulan. Di hadapan Aji Saka, Dora melaporkan bahwa Sembada tidak mau ikut, Dora lalu dititahkan untuk menjemput Sembada. Jika Sembada tidak mau, keris dan perhiasan yang ditinggalkan agar dibawa ke Medangkamulan. Namun Sembada bersikukuh menolak ajakan Dora dan memperhatankan barang-barang yang diamanatkan Aji Saka.

 

Akibatnya, terjadilah perkelahian antara keduanya, oleh karena seimbang kesaktiannya meraka mati bersama. Ketika mendapatkan kematian Sembada dan Dora dari Duga dan Prayoga yang diutus ke Majeti, Aji Saka menyadari atas kekhilafannya. Sehubungan dengan itu, ia menciptakan sastra dua puluh yang dalam Manikmaya, Serat Aji Saka dan Serat Momana disebut sastra sarimbangan. Sastra Sarimbangan itu terdiri atas empat warga yang masing-masing mencakupi lima sastra, yakni :

 

1. Ha-na-ca-ra-ka

2. Da-ta-sa-wa-la

3. Pa-dha-ja-ya-nya

4. Ma-ga-ba-tha-nga

 

Sastra Sarimbangan itu, antara lain terdapat dalam manuskrip Serat Aji Saka, pupuh VII- Dhandhanggula bait 26 dan 27 sebagai berikut :

Dora goroh ture werdineki (Dora bohong ucapannya yakin)

Sembada temen tuhu perentah (Sembada jujur patuh perintah)

Sun kabranang nepsu ture (Ku emosi marah ucapannya)

Cidra si Dora iku (Ingkar si Dora itu)

Nulya Prabu Jaka angganggit (Lalu Prabu Jaka Menganggit)

Anggit pinurwa warna(Anggit dibuat macam)

Sastra kalih puluh(Sastra dua puluh)

Kinarya warga lelima(Dibuat warga lelima)

Wit Ha-na-ca-ra-ka sak warganeki(Dari Ha-na-ca-ra-ka itu sewarganya)

Pindho Da-ta-sa-wala(Dua Da-ta-sa-wala)

Yeku sawarga ping tiganeki(Yaitu sewarga ketiganya)

Pa-dha-ja-ya-nya ku suwarganya(Pa-dha-ja-ya-nya sewargane)

Ma-ga-ba-tha-nga ping pate(Ma-ga-ba-tha-nga keempatnya)

Iku sawarganipun(itulah sewarganya)

Anglelima sawarganeki(Lima-lima satu warganya)

Ran sastra sarimbangan(Nama sastra sarimbangan)

Iku milanipun(Itulah sebabnya)

Awit ana sastra Jawa(Mulai ada huruf Jawa)

Wit sinungan sandhangan sawiji-wiji(Mulai diberi harakat satu per satu)

Weneh-weneh ungelnya(Macam-macam lafalnya)

 

Teks diatas mirip teks yang terdapat dalam Manikmaya jilid II (Panambangan 1981 : 385) kemudian untuk memberikan kesan yang menarik lagi bagi anak-anak yang sedang belajar aksara ha-na-ca-ra-ka, dalam Lajang Hanatkaraka jilid I dan II ( Dharmabrata, 1948:10-11 : 1949:65-66 ) dihiasi dengan gambar kisah Dora dan Sembada. Hiasan yang menggambarkan kisah kedua tokoh itu menandai lahirnya ha-na-ca-ra-ka.

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa legenda Aji Saka hingga beberapa generasi mengilhami dan bahkan mengakar dalam alam pikiran masyarakat Jawa. Dikatakan oleh Suryadi ( 1995 : 74-75 ) bahwa mitologi Aji Saka masih mengisi alam pikiran abstraksi generasi muda etnik Jawa yang kini berusia tiga puluh tahun keatas. Fakta pemikiran tersebut menjadi bagian dari kerangka refleksi ketika mereka menjawab perihal asal-usul huruf Jawa yang berjumlah dua puluh.

 

Selain Aji Saka sebagai tokoh fiktif, nama kerajaannya yakni Medangkulan masih merupakan misteri karena secara historik sulit dibuktikan. Ketidakterikatan itu sering menimbulkan praduga dan persepsi yang bermacam-macam. Misalnya praduga yang muncul dari Daldjoeni (1984: 147-148 ) yang kemudian diacu oleh Suryadi ( 1995 : 79 ) bahwa kerajaan Medangkamulan berlokasi di Blora, sezaman dengan kerajaan Prabu Baka di ( sebelah selatan ) Prambanan, yakni sekitar abad IX. Berdasarkan praduga itu, aksara Jawa ( ha-na-ca-ra-ka ) diciptakan pada sekitar abad tersebut.

 

Praduga Daldjoeni tentang lokasi Medangkamulan memang sesuai dengan keterangan dalam sebuah teks lontar ( Brandes, 1889a : 382-383 ) bahwa Medangkamulan terletak di sebelah timur Demak, seperti berikut :

Mangka wonten ratu saking bumi tulen,

arane Prabu Kacihawas.

Punika wiwitaning ratu tulen

mangka jumeneng ing lurah Medangkamulan,

sawetaning Demak,

sakiduling warung.

 

Demikianlah ada raja dari tanah tulen, namanya Prabu Kacihawas. Itulah permulaan raja tulen ketika bertahta di lembah Medangkamulan, sebelah timur Demak sebelah selatan warung.

 

Akan tetapi , penanda tahun kelahiran ha-na-ca-ra-ka diatas berbeda dengan yang terdapat dalam Serat Momana. Dalam Serat Momana disebutkan bahwa ha-na-ca-ra-ka diciptakan oleh Aji Saka yang bergelar Prabu Girimurti pada tahun ( saka ) 1003 ( Subalidata 1994 : 3 ) atau tahun 1081 Masehi. Tahun 1003 itu dekat dengan tahun bertahtanya Aji Saka di Medangkamulan, yakni tahun 1002 yang disebutkan dalam The History of Java jilid II ( Raffles 1982 : 80 ) pada halaman yang sama dalam The History of Java itu disebutkan pula bahwa Prabu Baka bertahta di Brambanan antara tahun 900 dan 902, yakni seratus tahun sebelum Aji saka bertahta.

 

Sementara itu, dalam Manikmaya ( salinan Panambangan, 1981 : 295 ) disebutkan bahwa Aji Saka – dengan sebutan Abu Saka mengembara ke tanah Arab. Di negeri itu ia bersahabat dengan Nabi Muhammad (hidup akhir abad VI – pertengahan abad VII ). Setelah pergi ke pulau Jawa, dengan sebutan Aji Saka akbibat berselisih paham dengan Nabi Muhammad ( Graff 1989 : 9 ) ia yang menciptakan aksara ha-na-ca-ra-ka. Penciptaan aksara itu diperkirakan pada sekitar abad VII ( sesuai dengan masa kehidupan Nabi Muhammad ) karena di dalam teks tidak disebutkan secara eksplisit.

 

Warsito (Ciptoprawiro, 1991: 46) dalam telaah Serat Sastra Gendhing berpendanpat bahwa syair ha-na-ca-ra-ka diciptakan oleh Jnanbhadra atau Semar. Dengan demkian, saat kelahiran ha-na-ca-ra-ka sulit ditentukan karena Semar merupakan tokoh fiktif dalam pewayangan.

 

Pendapat lain dikemukan oleh Hadi Soetrisno(1941 ). Dalam bukunya yang berjudul Serat Sastra Hendra Prawata dikemukan bahwa aksara Jawa diciptakan oleh Sang Hyang Nur Cahya yang bertahta di negeri Dewani, wilayah jajahan Arab yang juga menguasai tanah Jawa. Sang Hyang Nur Cahya adalah putra Sang Hyang Sita atau Kanjeng Nabi Sis (Soetrisno, 1941: 6). Disamping aksara Jawa, Sang Hyang Nur Cahya juga menciptakan aksara Latin, Arab, Cina dan aksara-aksara yang lain. Seluruh aksara itu disebut Sastra Hendra Prawata (Soetrisno, 1941: 3 – 6)

 

Di kemukakan pula bahwa berdasarkan bentuknya, aksara Jawa merupakan tiruan dari aksara Arab, mula-mula aksara itu berupa goresan-goresan yang mendekati bentuk persegi atau lonjong, lalu makin lama makin berkembang hingga terbentuklah aksara yang ada sekarang (Soetrisno 1941 : 10 ). Lebih lanjut dijelaskan bahwa Aji Saka yang dianggap sebagai pencipta aksara Jawa itu sebenarnya bukan penciptanya, melainkan sebagai pembangun dan penyempurna aksara tersebut sehingga terciptalah bentuk aksara dan susunan atau carakan ( ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya ) seperti sekarang ini ( Hadi Soetrisno, 1941 : 7 ). Terciptanya bentuk aksara dan carakan itu melibatkan kedua abdinya, Dora dan Sembada yang menemui ajalnya secara tragis.

 

Selian yang telah diuraikan di atas, ada dugaan bahwa kisah tragis Dora dan Sembada dalam legenda Aji Saka merupakan simbol perang saudara untuk memperebutkan tahta Majapahit. Perebutan ia mengakibatkan hancurnya kedua belah pihak, menjadi bangkai dengan ungkapan ma-ga-ba-tha-nga. Tentu saja kisah simbolik yang melahirkan aksara ha-na-ca-ra-ka itu muncul setelah hancurnya kerajaan Majapahit, antara abad XVI dan XVII ( Atmodjo, 1994 : 26 )

 

Dugaan lain adalah bahwa peristiwa tragis yang menimpa Dora dan Sembada merupakan simbol gerakan milenarianisme, yakni gerakan yang mengharapkan datangnya pembebasan atau ratu adil, dengan ungkapan ha-na-ca-ra-ka ( Atmojo, 1994 : 26 ). Namun kapan datangnya pembebasan dan siapa yang dimaksud dengan ratu adil, apakah Raden Patah yang berhasil naik tahta setelah Majapahit runtuh atau Sutawijaya yang mampu menyelamatkan negeri ( Pajang ) dari rongrongan Arya Penangsang ataukah tokoh lain, masih merupakan tanda tanya yang sulit untuk memperoleh jawaban secara ilmiah atau nalar.

 

Praduga-praduga di atas mencerminkan keragaman pendapat, keragaman itu sulit dapat timbul dari persepsi yang berbeda-beda sehingga sulit untuk menentukan persamaan waktu atas kelahiran ha-na-ca-ra-ka. Kesulitan itu dapat disebabkan oleh sifat legenda yang fiktif sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan antara sumber yang satu dan sumber yang lain, sesuai dengan kehendak pengarang atau penulis masing-masing. Perbedaan praduga pertama ( Daldjoeni ) dengan praduga kedua ( dalam Serat Momana ) dan praduga ketiga ( dalam The History of Java ) misalnya terletakpada selisih waktu dua abad, sedangkan praduga kedua dengan praduga ketiga hanya mempunyai selisih satu tahun. Perbedaaan ketiga praduga tersebut akan lebih beragam jika menyertakan perkiraan hidup Aji Saka dalam Manikmaya, pendapat Warsito dan Hadi Soetrisno serta kisah-kisah simbolik di atas. Selain itu masih terbuka kemungkinan yang dapat menimbulkan perbedaan yang berasal dari teks-teks lain yang belum sempat diungkapkan di sini, termasuk misteri pencipta aksara tersebut.

 

Konsepsi secara Ilmiah

Kelahiran pada perkembangan aksara Jawa erat hubungannya dengan kelahiran dan perkembangan bahasa Jawa. Secara alami, mula-mula bahasa Jawa lahir sebagai alat komunikasi lisan pemakainya. Bahasa Jawa yang dilisankan itu, seperti bahasa ragam lisan pada umumnya, terikat oleh waktu dan tempat ( lihat Molen, 1985 : 3 ) untuk melepaskan diri dari keterikatannya, sesuai dengan pola pikir pemakainya dan sejalan dengan tantangan zaman akibat pengaruh lingkungan serta perkembangan ilmu dan teknologi, sarana yang nyata dan kekal, berupa aksara diciptakan. Aksara yang dipakai etnik Jawa muncul pertama kali setelah orang-orang India datang ke pulau Jawa. Diperkirakan bahwa sebelum itu etnik Jawa belum mempunyai aksara ( Poerbatjaraka, 1952 : vii ) sehingga masih berlaku tradisi kelisanan. Dengan munculnya aksara, mulailah tradisi keberaksaraan untuk menciptakan bahasa ragam tulis, meskipun tradisi kelisanan tetap berlangsung.

 

Hasil teknologi baru yang berupa tulisan memang memainkan peranan yangamat penting dalam sejarah manusia, dalam kehidupan sehari-hari di bidang ilmu pengetahuan, politik dan sebagainya. Ada perbedaan mendasar antara peradaban yang tanpa tulisan dan peradaban yang mempunyai tulisan ( Molen, 1985 : 3 ) peradaban yang mempunyai tulisan setidaknya mempunyai kelebihan setingkat lebih maju daridapa peradaban tanpa tulisan.

 

Dalam sejarah peradaban etnik Jawa, atas dasar data arkeologis, tulisan tertua yang ditemukan dalam bentuk prasasti dengan menggunakan aksara Pallawa menunjukkan penanda waktu sebelum tahun 700 Masehi ( Casparis, 1975 : 29 ) jauh sesudah bahasa Jawa yang tertua dugunakan secara lisan. Setelah ditemukan beberapa prasasti yang lain, secara berangsur-angsur dilakukan studi paleografi. Dari beberapa prasasti yang dijadikan bahan studi, diperoleh hasil deskripsi yang menggembirakan ( lihat Molen 1985 : 4 ). Namun hingga kini masih sedikit jumlah karya tulis yang membicarakan paleografi Jawa. Karya tulis tentang paleografi Jawa baru dimulai pada awal abad XIX, seperti yang dilakukan oleh Raffles ( 1871 ) Stuart ( 1863 ) dan Keyzer ( 1863 ). Hanya sayang bahwa contoh aksara yang ditampilkan menurut Stuart ( 1864 : 169 – 173 ) lihat Molen, 1985 : 4 ) bukan jiplakan yang asli, melainkan aksara Jawa baru yang dituliskan dengan bentuk dan gaya aksara Jawa kuna, contohnya : dibawah ini dikutipkan dari The History of Java Jilid I, karya Raffles ( 1982 : 370 )

Ada juga Ajaran filsafat hidup berdasarkan aksara Jawa yang sebagai berikut :

 

Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada ” utusan ” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan )

 

Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ” saatnya ( dipanggil ) ” tidak boleh sawala ” mengelak ” manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan

 

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh, cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif.

 

Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

 

***

Published in: on 6 Februari 2011 at 16:26  Tinggalkan sebuah Komentar  

Kearifan lokal Makhluk Mistik

 

Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern, westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya, dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama/ajaran tertentu (kesadaran “kulit”). Manakala mendengar istilah mistik, akan timbul konotasi negatif. Walau bermakna sama, namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan, terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit. Itulah manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat. Selama puluhan tahun, kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism, westernisme dan agamisme.

 

Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit, irasional, dan primitive. Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum tertentu sebagai paham sesat dan sumber kemusrikan. Rasanya Pandangan itu tidak objektif ! Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah. Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri, kepentingan rezim, dan kepentingan egoisme (keakuan). Penilaian juga rentan terkontaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan, diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan, ela-elu, iilueun, tuturut munding, dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah mistis yang sesungguhnya. Untuk itu, perlulah kiranya saya ingin berbagi kepada semua saUDARA, mengenai makna yang sejatinya akan istilah mistis. Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana, selalu hati-hati terutama dalam menilai seseorang atau suatu kelompok, golongan dan cara pandang masyarakat tertentu. Jika perilaku hidup dan pola pikir kita tidak eling dan waspada, kita akan melebur ke dalam roda “wolak-waliking jaman” di mana orang salah akan berlagak selalu benar. Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh. Emas dianggap Loyang (besi). Besi dikira emas. Burung bangau dianggap dandang (alat menanak nasi). Yang asli dianggap palsu, yang palsu dibilang asli. Semua serba salah kaprah, kacau-balau, chaos, dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan. Eksistensi Mistik dapat dipahami sebagai eksistensi tertinggi kesadaran manusia, di mana ragam perbedaan (“kulit”) akan lenyap, eksistensi melebur ke dalam kesatuan mutlak hal ikhwal, nilai universalitas, alam kesejatian hidup, atau ketiadaan. Kesadaran tertinggi ini terletak di dalam batin atau rohaniah, mempengaruhi perilaku batiniah (bawa) seseorang, dan selanjutnya mewarnai pola pikir nya. Atau sebaliknya, pola pikir telah dijiwai oleh nilai mistisisme yakni eksistensi kesadaran batin.

 

Meskipun demikian, eksistensi mistik yang sesungguhnya tidaklah berhenti pada perilaku batin (bawa) saja, lebih utama adalah perilaku jasad (solah). Artinya, mistik bukanlah sekedar teori namun lebih kearah manifestasi atau mempraktikkan perilaku batin ke dalam aktivitas hidup sehari-harinya dalam berhubungan dengan sesama manusa dan makhluk lainnya. Apakah anda ingin menjadi seorang agamis, yang hanya terpaku pada simbol-simbol agama/ajaran berupa penampilan fisik, jenis pakaian, cara bicara, bahasa, gerak-gerik, bau minyak wanginya atau atribut tertentu. Ataukah sebaliknya anda ingin menjadi seorang praktisi (penghayat) akan teori-teori tersebut sehingga tidak hanya sekedar berbicara. Hal itu menjadi hak setiap orang untuk memilih, masing-masing akan membawa dampak yang berbeda-beda. Dalam menjabarkan istilah mistik, saya sangat sepakat dengan guru besar Filsafat UGM Prof. Dr. Damarjati Supadjar, bahwa cirri-ciri mistikisme adalah sbb ;

1. Mistisisme adalah persoalan praktek.

2. Secara keseluruhan, mistisisme adalah aktifitas spiritual.

3. Jalan dan metode mistisisme adalah cinta kasih sayang.

4. Mistisisme menghasilkan pengalaman psikologis yang nyata.

5. Mistisisme sejati tidak mementingkan diri sendiri.

 

Jika kita cermati dari kelima ciri mistikisme di atas dapat ditarik benang merah bahwa mistik berbeda dengan sikap klenik, gugon tuhon, bodoh, puritan, irasional.

 

Sebaliknya mistik merupakan tindakan atau perbuatan yang adiluhung, penuh keindahan, atas dasar dorongan dari budi pekerti luhur atau akhlak mulia. Mistik sarat akan pengalaman-pengalaman spiritual. Yakni bentuk pengalaman-pengalaman halus, terjadi sinkronisasi antara logika rasio dengan “logika” batin. Pelaku mistik dapat memahami noumena atau eksistensi di luar diri (gaib) sebagai kenyataan yang logis atau masuk akal. Sebab akal telah mendapat informasi secara runtut, juga memahami rumus-rumus yang terjadi di alam gaib.

Sebagai contoh ;

Kenapa simpanan uang di Bank tidak ada yang hilang di curi makhluk pesugihan ? Atau perhiasan emas di toko emas tidak bisa hilang digondol sejenis jin atau pun siluman pesugihan ?

Secara logis-rasional, makhluk pesugihan yang sering mencuri uang atau perhiasan di rumah-rumah penduduk seharusnya bisa mencuri uang dan perhiasan di kedua tempat tersebut. Namun kenyataannya kedua jenis harta kekayaan tersebut tidak bisa dicuri oleh makluk gaib sejenis pesugihan manapun. Hal ini jarang sekali terfikirkan atau buat apa dipikirkan !

 

Agama/Ajaran sebagai sarana menggapai tataran spiritual. Spiritual adalah kesadaran tinggi akan nilai-nilai transenden atau “ketuhanan”. Mistisisme adalah wujud kesadaran dalam laku perbuatan konkrit. Dengan adanya kesadaran yang cukup memadai akan bagaimana sesungguhnya yang terjadi di alam gaib hal itu membuka pola pikir kita sehingga mampu memahami noumena kegaiban secara logis. Hal ini menjadikan para pelaku spiritual memiliki kemantapan tidak hanya sekedar yakin, tetapi dapat dikatakan bisa menyaksikan sendiri bagaimana “rumus-rumus halus” akan bekerja, antara pengetahuan spiritual dengan tindakan nyata seiring dan seirama. Bagaikan lirik dengan syairnya. Aransemen dengan nada-nada musiknya. Sastra dengan gendhingnya. Sinergis dan harmonis antara pengetahuan spiritual dengan perbuatannya. Menjadikan para pelaku spiritual justru terkesan lebih santun dan memiliki sense on humanity yang tinggi, memiliki kepekaan social, solidaritas dan toleransi, kepedulian lingkungan social dan alam yang sangat mendalam. Perilaku-perilaku yang menunjukkan sikap arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan ini ketimbang orang-orang bergaya “suci” (kesadaran symbolic) yang terkadang perilakunya lepas kendali, sewenang-wenang dan beringas, emosional dan reaksional. Karena merasa diri menjadi sangat kuat telah menjadi orang yang memegang hak istimewa (privilege) di hadapan Sang Maha. Penjelasan singkat mengenai arti harfiah dan maknawiah tentang mistik, dapat diambil benang merah bahwa “mistik local” adalah laku spiritual berdasarkan pandangan hidup atau falsafah hidup Jawa. Atau disebut jawaisme (javanism). Yang paling utama dalam laku spiritual, adalah perilaku didasari oleh cinta kasih dan pengalaman nyata. Maka, bagi siapapun yang mengaku menghayati falsafah hidup local namun perangainya masih mudah terbawa api emosi, angkara murka, reaksioner, sektarian, dan primordialisme, kiranya belum memahami secara baik apa itu nilai-nilai dalam falsafah hidup. Mistik lokal merupakan bagian dari ribuan mistik yang ada di bumi ini. Setiap masyarakat, bangsa dan budaya biasanya memiliki nilai-nilai tradisi mistik yang dipegang teguh sebagai pedoman hidup. Sekedar contoh, misalnya mistik Islam, dikenal dengan tradisi tasawuf, orang-orang yang mendalami disebut orang-orang zuhud, dan para sufistik. Mistik Budha atau Budhisme, mistik Hindu atau Hinduisme, dan masih terdapat ratusan bahkan ribuan lagi banyaknya mistik-mistik di dunia ini. Mistik lebih fleksibel jika dibandingkan dengan agama/ajaran, sebab mistik tidak mempersoalkan apa latar belakang ajaran, agama, budaya orang yang ingin menghayati. Hal itu tidak menimbulkan resiko terjadinya benturan nilai-nilai, karena dalam tradisi mistik yang sesungguhnya, keberagaman “kulit” akan dikupas, lalu mengambil sisi maknawiahnya yang bersifat hakekat atau esensial. Orang Jawa, Hindu, Kristen dan Budha, bisa saja mempelajari ilmu tasawuf. Demikian pula sebaliknya, umat Islam bisa pula mempelajari falsafah hidup Jawa. Hanya saja, kecenderungan kekuasaan akan membuat batasan-batasan tegas kepada para penghayat mistik dengan mistik itu sendiri. Bahkan sering terjadi prejudis, pencitraan secara subyektif, dan punishment yang berdasarkan kepentingan. Jangankan terhadap lintas budaya dan agama, kita ambil contoh sederhana saja misalnya, sebagian umat Islam melarang sesama umat Islam lainnya masuk ke dalam wilayah mistik Islam. Pelarangan dilakukan dengan dalih agama pula, sehingga pelarangan seringkali bekerja secara efektif membelenggu dinamika kesadaran umat, yang terjadi adalah umat yang terkesan “agamis” tetapi sangat miskin pencapaian spiritualnya.

 

Tentang kearifan mistik local

1. Kepercayaan/ajaran lokal tentu saja tidak memiliki kitab suci sebagaimana layaknya semua agama-agama yang ada. Karena bukanlah agama melainkan pandangan hidup yang sudah turun temurun ribuan tahun, melalui proses asimilasi dan sinkretisme dengan nilai-nilai agama yang pernah ada di bumi nusantara. “Kitab Suci” nya adalah hidup itu sendiri. Hidup yang meliputi jagad gumelar. Terdiri dari kehidupan sehari-hari, kesejati di dalam diri, dan apa yang ada di dalam lingkungan alam sekitarnya. Semua itu disebut sebagai “kitab satra jendra”. Cara membacanya bukan dengan ucapan lisan, melainkan dengan perangkat ngelmu titen yang berlangsung turun-temurun. Membaca “kitab sastra jendra” dengan menggunakan elmu titen, indera yang digunakan adalah indera keenam (six-sense) atau indera batin. Keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam mengolah rahsa-pangrasa yakni rasajati atau rahsa sejati.

 

2. Di samping nilai-nilai kearifan local yang adiluhung, menjadikan nilai-nilai “impor” yang dinilai berkualitas sebagai bahan baku yang dapat diramu dengan nilai kearifan local. Keuntungannya justru terjadi proses penyempurnaan seperangkat nilai dalam pandangan hidup orang Jawa. Jika definisikan, mistik Kepercayaan/ajaran lokal merupakan hasil dari interaksi nilai-nilai kearifan local yang terjadi sejak zaman kuno pada masa kebudayaan spiritual animisme, dinamisme, dan monotesime hingga saat ini. Sikap terbuka, menghargai dan toleransi, serta dasar spiritual cinta kasih sayang membuat mudah menerima anasir asing yang positif. Nilai-nilai dalam falsafah hidup Jawa bersifat fleksibel dan selalu berusaha mengolah nilai-nilai kebudayaan asing yang masuk ke nusantara misalnya Budha, Hindu, Islam, Kristen, dan sebagainya. Yang terjadi bukanlah kebangkrutan nilai-nilai falsafah Jawa itu sendiri, sebaliknya justru mengalami penyempurnaan seiring perjalanan waktu. Hingga terdapat anekdor, kalau nilai agama masuk sampai mendarah- daging, pandangan hidup Jawa bahkan mbalung-sungsum sehingga tidak pernah lapuk dan selalu eksis. Tidak hanya pada usia tua, bahkan masyarakat usia muda banyak pula yang diam-diam menghayati dan mengakui fleksibilitas dan kedalaman falsafah lokal. Seperti kekuatan misterius, terkadang semangat penghayatan dirasakan tiba-tiba muncul dengan sendirinya seperti panggilan darah.

 

3. Ritual, yang dilakukan oleh penghayat falsafah hidup Jawa. Walaupun latar belakang keagamaan masyarakat Jawa berbeda-beda, namun memiliki unsur kesamaan dalam tata laksana ritual Jawaisme. Bedanya hanyalah pada bahasa yang digunakan dalam doa atau mantra.

Namun hakekat dari ritual adalah sama saja yakni bertujuan untuk selamatan. Selamatan adalah tata laku untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sebagai upaya mendekatkan diri kepada yang Mahasuci. Maka dalam ritual banyak terdapat ubo rampe, atau syarat-syarat sesaji, di dalamnya banyak sekali mengandung maksud permohonan doa kepada sang pencipta. Misalnya pada saat bulan Ruwah merupakan bulan arwah dilaksanakan acara selamatan nyadran. Bulan ruwah tepatnya satu bulan menjelang bulan puasa, hendaknya orang memuliakan para arwah leluhurnya, mendoakannya agar mendapat tempat yang mulia, luhur, dan suci. Dibuatlah ketan, kolak dan kue apem, berarti sedaya kalepatan nyuwun pangapunten. Mohon ampunan atas segala kesalahan semasa hidup. Apem berarti affuwwun, adalah lambang permohonan ampunan kepada Tuhan. Dilanjutkan acara nyekar atau ziarah dan gotong royong bersih-bersih serta merawat makam para leluhurnya sebagai wujud tindakan nyata rasa berbakti dan memuliakan pepundennya yakni para leluhurnya. Karena bagi masyarakat mistik Jawa, berbakti kepada orang tua, dilakukan tidak saja selama masih hidup, namun saat sudah meninggal dunia pun anak turun tetap harus berbakti padanya. Tidak ketinggalan pula acara bersih desa, sungai, hutan, sawah, ladang, sebagai bentuk kesadaran diri untuk selalu menghargai alam semesta sebagai anugrah terindah Tuhan yang Mahapemurah.

 

4. Istilah ritual seringkali diartikan secara kurang proporsional, dianggap hanya sekedar menjadi basa-basi tradisi yang irasional. Kadang malah dianggap pula sebagai kegiatan buang-buang waktu, beaya dan tenaga alias mubazir. Secara ekstrim ritual dikonotasikan sebagai kegiatan yang melenceng dari kaidah atau norma. Tuduhan sepihak, karena tentunya hanya terucap oleh orang-orang yang tidak mampu memahami apa makna yang sesungguhnya dari mistik dan ritual. Padahal, ritual adalah tata laku yang melekat tidak bisa dipisahkan dari setiap agama, ajaran, tradisi dan budaya manapun di dunia ini. Dalam Budhisme dan Hinduisme, Islam, Yahudi, Nasrani, Kong Huchu, Sakura, dll banyak sekali terdapat berbagai ritual keagamaan. Mulai dari peringatan hari besar keagamaan hingga berbentuk tradisi agama. Bahkan masyarakat modern, tradisi Barat, masyarakat akademik, masyakarat medik, semua memiliki ritual-rutual khusus yang dutujukan untuk meraih kesuksesan termasuk keselamatan.

Dalam masyarakat Jawa ritual selamatan atau slametan menjadi main stream penghayatan perilaku mistik. Di dalamnya terdapat simbol-simbol atau perlambang berupa sesaji, mantera, ubo rampe, syarat-syarat tertentu. Semua ubo rampe sesaji mengandung makna yang dalam. Adalah keliru besar mengartikan makna sesaji sebagai pakan setan. Bagi masyarakat Jawa sangat mengenal bahwa “setan” atau makhluk halus bukan untuk diberi makan, tetapi harus diperlakukan secara adil dan bijaksana karena disadari bahwa mereka semua adalah makhluk ciptaan Tuhan juga. Manusia lantas tidak boleh bersikap negatif dan destruktif dengan mentang-mentang, semena-mena, takabur, arogan atau sombong kepada makhluk halus. Karena sikap negatif itu hanya akan membuat manusia jatuh pada derajat yang hina. Itulah keluhuran pandangan hidup manusia yang sering dituduh sebagai masyarakat engan kesadaran primitif dan tidak masuk akal.

 

5. Sesaji merupakan bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi baik secara vertikal maupun horisontal. Karena dasar dari mistik adalah tindakan nyata, sebagai konsekuensinya harus menghindari tabiat buruk tong kososong berbunyi nyaring, tetapi enggan menghayati dalam perbuatan sehari-hari. Maka dalam berdoa pun tidak cukup diucapkan melalui mulut. Rasanya kurang afdhol atau kurang besar tekadnya dalam berdoa apabila tidak diwujudkan dalam berbagai simbol yang terdapat dalam sesaji. Misalnya; doa yang beragam hendaknya dilakukan secara tulus, suci, hati yang “putih bersih” tidak terpolusi nafsu duniawi, dan ditujukan hanya kepada Hyang Widhi atau Yang Mahatunggal. Maka hal itu diwujudkan dalam bentuk tumpeng nasi putih berbentuk kerucut, besar di bawah, runcing di bagian atas. Bubur merah dan bubur putih dalam bancakan weton sebagai lambang ibu dan bapa. Hendaknya anak selalu ingat pada pengorbanan orang tua sejak ia di dalam kandungan ibu, lalu dilahirkan dan diasuh hingga dewasa dan mandiri. Bubur merah silang bubur putih, merupakan gambaran hubungan ibu dengan bapa diikat dengan tali cinta kasih yang tulus, sampai membuahkan anak sebagai anugrah buah cinta, dilambangkan dalam bubur baro-baro, yakni bubur putih ditumpangi parutan kelapa dan gula merah. Masih banyak lagi contoh yang dapat kita pelajari satu persatu maknanya secara esensial. Ilmu “Kesaktian” Sejati Kesimpulan dari semua itu, merupakan ilmu metafisika yang transenden dan bersifat terapan. Perilaku mistik merupakan upaya yang ditempuh manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Mendekatkan diri, atau upaya manunggal jati diri dengan kehendak “Tuhan” (sumarah). Sikap sumarah merupakan wujud dari sikap manembah kepada YME. Sikap manembah inilah yang menjadi pedoman utama dalam menghayati mistik lokal. Muara dari perjalanan spiritual pelaku mistik tersebut, tidak lain untuk menemukan “lautan” rahmatNya, berupa manunggaling kawula kalawan Gusti, atau sifat roroning atunggil (dwi tunggal). Eneng ening untuk masuk ke alam sunya ruri. Meraih nibbana menggapai nirvana, jalan wushul menuju wahdatul wujud. Dengan pencapaian pamoring kawula-Gusti, akan menciptakan ketenangan batin sekalipun menghadapai situasi dan kondisi yang sangat gawat. Karena antara manusia sebagai mahluk dengan “Tuhan” sebagai Sang Pencipta terjadi titik temu yang harmonis. Batin manusia selalu tersambung dengan getaran energiNya, menjadi dasar atas segala tindakan yang dilakukannya. Atau diistilahkan sebagai sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair.

Sesotya adalah ungkapan yang mengandikan sang pencipta bagaikan permata yang tiada taranya. “Permata” yang menyatu ke dalam embanan. Embanan sebagai ungkapan dari jasad manusia, yang “bersemayam” di dalam batin (immanen), melimputi seluruh yang ada “being” di dunia ini. Jika manusia berhasil manembah, otomatis ia akan menjadi manusia yang sekti mandraguna. Kesaktian sejati, bukan berasal dari usaha yang instan hanya dengan rapal wirid semalam suntuk, atau membeli dengan mahar. Namun kesaktian itu diperoleh seseorang apabila berhasil menghayati sesotya manjing embanan, ing batin amengku lair. Seseorang selalu manembah dalam setiap perbuatannya. Cirikhas orang yang kesaktiannya berkat manembah (kesaktian sejati) apabila perilaku dan perbuatan sehari-harinya selalu sinergis dengan sifating Gusti; Welas tanpa alis (kebaikan tanpa pamrih jasad/nafsu/duniawi), tidak menyakiti hati, tidak mencelakai, dan merugikan orang lain. Dilakukan dalam kurun waktu lama, tidak angin-anginan atau plin-plan, dilakukan secara konsisten, teguh, dan penuh ketulusan serta kasih sayang tanpa pilih kasih.

 

Semoga bermanfaat.

_/\_

Salam semesta alam,,,,

Published in: on 28 Mei 2010 at 17:06  Tinggalkan sebuah Komentar  

Dinamika Kepribadian Budaya

 

Nenek Moyang Bangsa Indonesia (NUSANTARA)

 

Oleh:

Richadiana Kadarisman Kartakusuma M.Hum

 

1. Manggala

Salah satu faktor menguntungkan Indonesia adalah tatanan (tata) letak geografisnya yang strategis diantara Samudra Hindia dan Pasifik tepat pada titik persilangan jalur lalu lintas menghubungkan anak benua India, Cina, Eropa dan Timurjauh, layaknya titian yang menjembatani bangsa-bangsa di belahan bumi Asia dan Australia. Aroma rempah-rempah dan keramahan penduduk yang mendiami gugusan pulau-pulau membentang ujung barat sampai ke timur telah menarik perhatian bangsa-bangsa belahan bumi lainnya untuk bertandang.

Sejak awal Masehi bangsa-bangsa dari berbagai negri melakukan kontak harmonis dan selama berabad-abad terjalin persahabatan dalam untaian budaya yang saling mengaliri. Tidak heran jika seorang Kalidasa yang hidup pada masa pemerintahan Chandragupta II, 381-413 Masehi, dalam kakawin Raghuwamsa menuturkan “Dwipantara atau Nusantara adalah negri subur dan makmur serta sangat populer di Benua Asia karena kaya rempah-rempah dan hasil bumi, telah menjalin kontak dengan bangsa-bangsa di Asia”.

Daerah-daerah pesisir kepulauan Indonesia berperan sebagai kota-kota pelabuhan letaknya tidak jauh dari Semenanjung Malaka yang ramai sejak awal abad I Masehi hingga mencapai puncaknya abad VIII Masehi banyak dikunjungi para pedagang Arab, Parsi, Turki, India dan Cina.

Sumber Arab (Ferrand 1922:69) dan Berita Cina (Dinasti T’ang, 674) menceritakan bahwa sepanjang jalan perdagangan Asia Tenggara terutama di pantai barat Sumatra dihuni koloni-koloni pedagang Arab, India, Cina dan bangsa-bangsa lain di daratan Asia (Khmer, Mon, Campa dan lainnya).

Kendati tidak sepenuhnya, kiranya, peristiwa perdagangan adalah yang paling signifikant diiringi pertukaran kebudayaan. Ditengarai bahwa kebudayaan asing yang datang ke Indonesia pun berlangsung dalam proses pengaruh dan mempengaruhi melalui berbagai peristiwa yang disebut akulturasi.

Paradigma umum menyatakan bahwa kekunaan/sejarah kebudayaan kebudayaan suatu bangsa hampir selalu diukur dengan permulaan adanya berita tertulis dengan corak budaya Hindu-Budha yang berasal dari India. Maka pembicaraan sejarah kuna Indonesia selalu dimulai dengan penetrasi kebudayaan yang kerap disebutkan dengan istilah masa Hindu-Budha.

Dalam proses pemengaruhan kebudayaan Indonesia itu sedikit-dikitnya nampak pada enam unsur: 1) bahasa; 2) teknologi; 3) organisasi sosial; 4) sistem pengetahuan 5) agama; 6) kesenian dan 7) sistem mata pencaharian. Namun sangatlah perlu dicatat, kehadiran unsur pengaruh yang akrab disebut Hindu-Budha (India) dan kelengkapan konseptualnya bersifat a less extreme acculturation. Namun tidak memusnahkan budaya-budaya tradisional dan perangkat kepribadiannya yang khas Nusantara (Indonesia).

Meskipun diakui implikasinya memang telah menurunkan kemahiran kemahiran tertentu namun yang terjadi sebenarnya adalah justru lebih mem-pertegas dan menonjolkan kreavitas dan dayacipta setempat. Sebelum terjadi kontak dengan pengaruh asing, ketika itu bangsa Indonesia telah memancangkan tonggak peradaban dalam tubuh kebudayaannya yang bernilai tinggi dan mantap, maka inovasi luar tidak lebih merupakan zat penyubur saja.

Disebutkan bahwa secara garis besar periode abad ke-4 sampai abad ke-10 Masehi di (Nusantara) Indonesia terdapat dua tipe kerajaan. Tipe pertama adalah kerajaan-kerajaan pantai dengan berdasarkan aktivitas perdagangan yang berkembang sekeliling kota-kota pantai (pelabuhan) dan yang berorientasi pada kebudayaan maritim. Kerajaan tipe pertama tidak mempunyai wilayah atau daerah pedesaan luas dengan mata pencahari penduduk petani yang besar jumlahnya, tetapi juga memiliki perangkat armada perdagangan besar dengan perahu-perahu layar dan bercadik.

Diantaranya kerajaan Sri Vijaya, berdasarkan warisan aktivitas budaya (data tekstual-kontekstual) kerajaan ini tumbuh dan berkembang sekitar abad ke-7 Masehi. Kota-kotanya terdiri dari bangunan kayu dan bambu yang dihiasi ukiran-ukiran indah dengan warna merah dan emas. Namun tentu saja bangunan tersebut kini telah hilang tiada berbekas disebabkan kondisi cuaca dan iklim tropikal yang berpotensi lembab. Ibukota kerajaan Sri Vijaya beberapa kali pindah tempat namun kuat dugaan letaknya pusat kekuasaannya meliputi Semenanjung Melayu dan bagian barat kepulauan Indonesia.

Tipe kerajaan yang kedua di kepulauan Indonesia adalah kerajaan yang di daerah pedalaman, lembah-lembah atau dataran-dataran tinggi di lingkungan kompleks gunung-gunung api yang sangat subur. Masyarakat hidup dari kegiatan dan pertanian dengan orientasi kepada kebudayaan agraris. Dalam tipe kebudayaan ini berkembang konsep khusus mengenai sifat raja yang dianggap sebagai penjelmaan (titisan) dewa gunung atau dewa alam. Mereka memiliki tugas dan kewajiban menjaga keselarasan kosmos dengan meniru susunan alam semesta kerajaannya, kedudukannya melambangkan rajadewa di pusat alam semesta. Konsepsi tersebut di dalam suatu kerajaan kuno memungkinkan untuk memantapkan pemerintahan kerajaannya dengan landasan keyakinan dan kepercayaan rakyatnya.

Kemunculan kerajaan-kerajaan ditandai prasasti-prasasti yang meng-gunakan aksara dan bahasa yang dikenal di India pada abad ke-4 dan ke-5. Diantaranya prasasti Kutei pada tujuh tonggak (Yupa) beraksara Pallava dan berbahasa Sanskerta ditemukan di Bakulapura (Kalimantan Timur) isinya putra Kundungga bergelar Mulawarman, berputra Aswawarman. Mulawarman adalah seorang pendiri dinasti yang mengadakan kenduri besar bernilai emas sangat banyak terdiri segunung minyak kental, lampu, malai bunga, 20.000 ekor sapi dipersembahkan kepada para brahmana yang bagaikan api yang memberi kekuatan hidup.

Pada abad yang sangat berdekatan, aksara Pallava dan bahasa Sanskrta ditemukan pada tujuh batu di Jawa Barat dikeluarkan oleh Purnawarman dari Kerajaan Taruma (Tarumanagara 450 M). Salah satu prasastinya (Tugu) menerangkan bahwa pada pemerintahannya yang ke-22 tahun ia melakukan karya-karya besar, membuat saluran Gomati dan Candrabhaga guna memperlancar kegiatan pelayaran, dan berfungsi sebagai benteng pertahanan pendirian pusat kerajaan (benteng air).

Keistimewaan prasasti-prasasti kerajaan Taruma disusun berupa syair (Sloka) ke dalam tatanan metrum anustubh dan ada juga yang bermetrum sragdhara. Susunan sloka dan bentuk metrumnya begitu sempurna dan hanya mampu dibuat oleh si pendukung atau pemilik budayanya langsung. Kondisi yang ditunjang oleh peran, kedudukan atau posisi Tarumanagara, kerajaan tertua membutuhkan kekuatan sosial-politik bertaraf internasional untuk memperkuat kekuasaan dan kharismatik raja.

Demi kemantapan pemerintahan dan negaranya menyebabkan timbul kepentingan dan permintaan bantuan konsultasi internasional, selain mengundang para cendekiawan dan para agamawan Hindu (India) yang dikala itu tengah mencapai pamor tertinggi di kawasan internasional di Asia. Sehubungan dengan pengumuman tentang keberadaannya kerajaan Taruma dikabarkan mengirimkan utusan ke Cina tahun 435, 528, 535, 666 dan 669 M.

Kerajaan Kutei dan Taruma adalah pusat pemerintahan sekaligus pusat kebudayaan yang menandai awal proses akulturasi pengaruh India di Nusantara Raya meskipun terjadi hanyalah di kalangan minoritas para bangsawan istana dan kaum brahmana. Agaknya peran konsultan Hindu itu pun hanya berlangsung sementara saja, karena ternyata terbuti bahwa orang-orang Indonesialah kemudian melaksanakan proses akulturasi tersebut. Kaum cerdik-cendekiawan, kaum agamawan, arsitek, sastrawan serta segenap masyarakat melakukan penyesuaian unsur-unsur pengaruh yang hadir tersebut menurut keperluan kebudayaan mereka sendiri dengan menghasilkan dayacipta kepribadian Indonesia yang mandiri.

Proses penyesuaian pemengaruhan atas unsur-unsur budaya dari luar itu mencapai puncaknya pada abad IX Masehi, antara lain adanya pengembangan sistem aksara India (Siddhamatrka, Pallawa-Grantha) dengan penguasaan bahasa Sanskerta yang lebih canggih dan disusun secara terencana dengan perangkat peristilahan tata bahasanya. Suatu tanda atas peristiwa nyata atas kemampuan dan kegeniusan bahwa kaum pribumi setempat sebenarnya yang berperan sebagai media penuangan pengetahuan ajaran-ajaran keagamaan.

 

 

2. Sambandha: Dinamika Kepribadian Nenekmoyang Bangsa Indonesia

Sejak masa Prasejarah masyarakat Indonesia telah mampu membuat arca-arca dan bangunan-bangunan besar, maka tidak sukar jikalau mendiri-kan candi atau kuil. Lagipula telah dibuktikan bahwa bentuk dan wujud candi di India tidak ada yang merupakan prototype candi-candi di Nusantara. Candi-candi India memiliki ruangan-ruangan luas, sedangkan candi-candi di Indonesia ruangan-ruangannya sempit sehingga secara konseptual fungsi candi pun sangat berbeda.

Di Indonesia candi yang dibangun ditujukan untuk menghormati nenek-moyangnya (pendharmmaan) dengan diberi bentuk dewa (tokoh si mati yang telah diperdewa). Representasi yang didasarkan kepercayaan Indonesia asli yang menjadi ciri telah dimiliki sejak Prasejarah, arca perwujudan atau monolith yang kerap disebut menhir lalu transformasi dengan busana baru, diberi istilah baru – lingga- di ruang pusat candi, tidak lain adalah kelanjutan (continuity) atau bentuk lain dari konsep menhir tersebut.

Dewa, bagi masyarakat pribumi Nusantara sekedar meminjam istilah saja tetapi konsep yang melatarinya tetap konsep asli mereka. Lebih dari itu, jikalau konsep dewa di India adalah superhuman being dalam kaitan antara sang pencipta dan yang dicipta. Maka candi dalam konsep India bahwa candi-candi benar-benar untuk para dewa. Sedangkan di Nusantara, dewa dilandasi kepercayaan yang berkembang pada masa prasejarah, dewa hanya istilah “wadah” sejalan konsep yang melatari menhir (batu tegak) dalam kebudayaan megalitik semata-mata simbol tempat persemayaman (sthana) sementara roh nenekmoyang.

Demikianla candi Borobudur merupakan bangunan perpaduan punden berundak tradisi budaya megalitik (zigurat) dan stupa dari Indianism, Bangunan Budha Mantrayana yang sangat megah ini merupakan representasi ajaran agama (keagamaan) yang tertera di dalam karyacipta agung cendekiawan Nusantara, Sanghyang Kamahayanikan, abad IX Masehi. Sebuah karyasastra yang dituliskan bilingual (dua bahasa) Sanskerta dan Jawa Kuno, dirumuskan dan disusun cerdik-cendekiawan dari kaum agamawan Indonesia. Kesempurnaan menata, menempatkan relief-relief pada dinding-dinding bangunan menampilkan paduan sangat harmonis yang dijalin dalam Mahakarmmawibhangga, Jatakamala, Awadanajataka, Lalitawistara, Gandawyuha merupakan gambaran tahap-tahap melaksanakan Paramitayana-Mantrayana yang direpresentasikan melalui lima arca Tathagata, pencapaian tingkatan-tingkatan kebudhaan yang melambang-kan Dharmacakramudra.

Borobudur tiada lain lambang kosmos (mandala) berbentuk “zigurat” dibangun berundak makin keatas makin kecil hakekatnya merupakan replika gunung, perlambangan tahta persemayaman nenek-moyang. Oleh karena itu Prasasti Kayumwungan (746 Saka/824 Masehi); prasasti Plaosan Lor (764 Saka/842 Masehi) yang berisi informasi tentangnya, menyebut bahwa candi Borobudur sebagai kamulan i bhumi sambhara, tempat- ka-mula-an atau sang mula-mula (sang awal) “arwah leluhur yang abadi di alam kalanggengan’ Menurut hukum tatabahasa Nusantara, istilah kamulan berasal dari ka-mula-an dengan kata dasar mula artinya umbi, asal, dalam arti seluas-luasnya sang pemula atau leluhur, rumuhun.

Masyarakat Nusantara masa pra-Hindu kerap dipandang animis sebenarnya sangat bertentangan dengan studi-studi kebudayaan (etnis) yang membuktikan bahwa suku-suku yang hidup di pedalaman Indonesia ternyata telah lebih awal melandasi diri mengenal dewa-dewa di lingkungan organisasi yang teratur. Seperti kelompok masyarakat Toraja menyeru Boeriro, istilah asli Toraja menyebut dewa yang berbentuk raksasa dan dipercaya sebagai tokoh “sakral” yang memberikan api kehidupan dan makanan. Simbol kepercayaan serupa yang juga berkembang di kawasan kepulauan Pasifik (a.l. Hawaii). Termasuk arca-arca berbentuk dinamis di Nusantara yang kerap dipertautkan dengan pengaruh Hindu itu pun sebenarnya adalah arca asli pribumi, suatu proses kontinuitas unsur kepercayaan sejak masa Prasejarah.

Sejumlah prasasti Sri Vijaya yang dikenal imprecation formula (dokumen persumpahan) hampir selalu diawali seruan kepada Tandrun Luah atau Tandang Luah, dewa yang diyakini melindungi dan menjadi saksi atas sumpah dan segala perbuatan manusia. Demikian pula sejumlah prasasti bertema sima pada masa Mataram Kuno (Jawa Tengah da Jawa Timur) tentang upacara peresmian sebidang tanah, sawah, kebun, rawa dan lain-lainnya yang menjadi bagian bumi menjadi perdikan (otonom). Disertai sumpah, laknat dan kutukan untuk men-syahkan peristiwa upacara itu dengan menyeru roh-roh leluhur, roh raja-raja yang memerintah sebelumnya. Roh-roh para pendahulu yang diyakini secara langsung melindungi dengan merasuk ke dalam jiwa.

Salah satu ungkapan seruan itu dimuat dalam prasasti Mantyasih (907 Masehi): “Sakwaih ta Rumuhun Rahyang ta i Mdang i Bumi Mataram … umasuki ning ngwang kita kabaih” disusul dewa-dewa yang sebenarnya merupakan personifikasi gejala-gejala alam kemudian bahasanya telah dibusanai dengan di-Sanskerta-kan. Seruan atas dewa-dewa lokal sebagai saksi dalam upaya mensyahkan segala aspek dan gerak kehidupan hampir selalu dimuat di dalam katagori prasasti-prasasti bertema sima, terutama pada pemerintahan Mataram kuno di Jawa (Tengah dan Timur).

Karena itu, segala sesuatu yang berkaitan dengan gejala perubahan atas lingkungan alam khususnya, objek utama upacara peresmian sima disimbolkan oleh bentuk lumpang batu (lisung) yang diberi honorefic prefic (ungkapan hormat) Sanghyang Watu Kulumpang simbolisasi persatuan bumi-pertiwi (mandala) atau mikrokosmos dengan pasangannya yang berupa gandik disebut Sanghyang Teas (halu) tiada lain adalah lambang jagat semesta, makrokosmos.

 

Dikenalnya masyarakat berlapis di Indonesia, caturwarna, (kasta) yang dianggap pengaruh Hindu-Budha (India). Tetapi Soejono (l974) membukti-kan bahwa sebelum kedatangan orang-orang India, Indonesia merupakan stratified society, kenyataan ini antara lain dibuktikan hasil analisis sistem penguburan di Bali. Adanya beragam sistem penguburan antara lain kubur tempayan, dalam sarkopagus tanpa wadah. Keragaman bekal kubur tersebut adalah fakta yang menegaskan telah dikenalnya keragaman dalam susunan masyarakat. Dimana kelompok lebih tinggi dikuburkan dalam tempayan (sarkopagus) disertai bekal kubur yang banyak dan beranekaragam, sedang-kan masyarakat umum dikuburkan tanpa wadah. Soejono membuktikan bahwa Gilimanuk (Bali) adalah situs nekropolis yang telah mengenal aktivitas dan kelompok pedagang. Kelompok inilah yang pada saat hadir inovasi Hindu-Budha (India) kemudian dinamai atau diberi istilah baru dari pengaruh India (Sanskerta) dengan istilah ksatrya, waisya, brahmana dan sudra.

Menurut R.von Heine Geldern (l982) kota dan kerajaan-kerajaan di Nusantara-Indonesia dan Asia Tenggara umumnya disusun berdasarkan konsep Hindu-Budha (India):“pusat dunia dikelilingi tujuh benua dan tujuh lautan yang membentuk cincin” dengan dasar kota dan kerajaan tiada lain adalah replika kosmos susunannya pun meniru kosmos. Anehnya, kota-kota awal di Asia Tenggara justru berpola segiempat, bukan seperti cincin. Menurut William Alkire (cf. John Miksic 1982) orang Austronesia (non-Hindu) telah memiliki konsep kosmos dengan bentuk segiempat. Konsep yang didasarkan pengetahuan astronomi yang kini tersisa di Mikronesia, tampak konsep Austronesia asli inilah yang mendasari dan melandasi susunan kota dan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara.

Salah satu kelompok etnis Indonesia yang setia memeluk kepercayan Klasik adalah Bali, agamanya memang disebut Hindu Dharmma tetapi tetap saja tatanan kosmisnya memegang konsep leluhur, hasil pemikiran local development dan berlandaskan kepada keyakinan:

1) atita-nagata-warttamana: setiap perubahan yang terjadi terjalin erat antara masa masa lampau, kini dan masa yang akan datang;

2) desa-kala-patra: setiap perubahan disesuaikan dengan lingkungan/ tempat (desa), waktu (kala) dan suasana/keadaan (patra);

3) tri-hita-karana: setiap perubahan perkembangan berpegang kepada pokok yang tiga (tri), hita (baik), karana (sebab), faktor pawongan (manusia), pallemahan (tanah dan lingkungan hunian), parhyangan (candi atau bangunan suci).

Pengaruh India dalam bidang kesenian dan bahasa juga nampak tidak lebih dari sebatas kulit, dijelaskan oleh Stutterheim, seorang sejarahwan (berkebangsaan Belanda), ketika meneliti epic Ramayana Indonesia mem-buktikan, meski ceritanya berasal dari (pengaruh) India menyatakan namun betapa dominannya unsur-unsur cerita rakyat Nusantara Indonesia di dalamnya.

Ramayana epic antara lain ditemukan dalam pahatan relief-relief candi Prambanan, ternyata isinya adalah riwayat hidup raja yang di-dharmmakan di sana (Rakai Pikatan). Begitu pula relief Ramayana dan Mahabharata yang dipahatkan pada candi-candi di Jawa Timur meng-gambarkan Arjuna yang dianggap sebagai Mintaraga, bahkan Pandawa diidentifikasi sebagai nenek-moyang raja-raja Jawa (Koentjaraningrat l963).

Sejarah mencatat bahwa senisastra yang menjadi sumber inspirasi atas pemahatan relief-relief yang pada dipahatkan bangunan–bangunan candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur digubah para pujangga pribumi. Sebagaimana kegeniusan seorang Mpu Kanwa meramu dan menggubah bagian-bagian kakawin Mahabharata dan Arjunabhigama, di Indonesia dikenal dengan Parthayajnya Wirataparwan dan Niwatakawacaparwa yang selanjutnya menjadi karyasastra baru atau yang disebut gubahan Arjunawiwaha.

Sejak awal masyarakat kepulauan Indonesia telah memiliki dan mengenal alat komunikasi, lingua-franca, yakni bahasa k’wun-lun (Kunlun). Jenis bahasa pergaulan antar bangsa atau bahasa Malayu yang diwarnai interferensi bahasa Sanskerta dan berkembang di dalam perbendaharaan bahasa Malayu pergaulan. Itu membuktikan bahwa tatkala munculnya prasasti pertama, masyarakat Nusantara sebenarnya telah sejak awal melek baca dan tulis bahkan memahami bahasa-bahasa yang dipakai di dunia “international” (a.l. Sanskerta). Tentu saja tulisan-tulisan yang dikenal waktu itu dan digoreskan pada bahan-bahan yang sangat mudah lapuk (ron [/daun]Tal, bambu, kulit kayu) kenyataan bahwa etnis Batak, Aceh juga etnis-etnis lain di Nusantara memiliki sistem aksara sendiri yang berbeda dengan gaya aksara India.

Sebelum dapat menulis dan membaca mereka sudah mengenal sistem organisasi, dimana ada seorang pemimpin didampingi pendeta, upacara-upacara dalam sistem kepercayaan pribumi, dukun dalam soal magi dan obat-obatan, pasukan tentara, arsitek rumah, kapal dengan para pandai atau ahli cor logam, pemahat, petani dan nelayan yang telah menghasikan komoditi pangan. Ketika terjadi kontak dengan kebudayaan India, raja, pemimpin dan sebagian kecil masyarakat memakai busana atau dandanan baru dengan istilah-istilah Sanskrta (India), dan seakan-akan didominasi kebudayaan India, padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Raja-raja dengan gelar abhisekanama (nama tahbis) bahasa Sanskrta pun telah melalui serangkaian upacara dengan bantuan para brahmana tiada lain demi wibawa dan gengsi internasional bagi kawan maupun lawan, tetap saja sifat kesakralannya dianggap memiliki kekuatan sakti “mana” yang dikenal dalam kebudayaan Austronesia. Religi dalam kebudayaan Indonesia berlandaskan pada keyakinan bahwa si pemimpin masyarakat adalah keturunan langsung dari nenekmoyang yang pertama mendirikan individu atau kelompok masyarakat bersangkutan serta dianggap hidup sebagai dewa di dunia roh.

Pangkal kepercayaan berkembangnya konsepsi rajadewa dalam kerajaan-kerajaan Indonesia tipe kedua adalah bentuk pemerintahan yang berlandaskan kebudayaan agraris. Pada masa Hindu religi asli berpusat pada pemujaan roh nenek moyang dan kepercayaan pimpinan kelompok masyarakat merupakan keturunan langsung nenekmoyang yang telah menjadi roh disebut penjelmaan dewa. Konsepsi yang dilandasi fungsi sosial-politik untuk mengkukuhkan dan memantapkan karismatik dari kekuasaan raja berdasarkan agama. karena dalam wadah itulah ekonomi lebih men-dapatkan peluang untuk berkembang.

Menangani kepercayaan asli yang telah sejak awal berkembang di dalam masyarakat, Herman Kulke menuturkan bahwa raja-raja membentuk pasukan tentara khusus dari kelompok-kelompok masyarakat tersebut guna melindungi dewa pribumi. Diantaranya di kawasan Lebak (Banten, Jawa Barat), terdapat sejumlah situs yang bercorak (tradisi) megalitik juga terdapat prasasti (insitu) di tepi Ci Danghiyang, digoreskan pada bongkah batu alam beraksara Pallava dan bahasa Sanskrta menyatakan kawasan ini berada dalam kekuasaan Purnawarman penguasa kerajaan Taruma sebagai panji segala raja-raja. Simbol-simbol yang dipuja oleh masyarakat pribumi tersebut didudukkan sebagai dewa keluarga dan dewa resmi kerajaan. Sikap kerajaan sebagai pelindung kepercayaan pribumi tiada lain ditujukan memperkokoh kekuasaan dan kedudukan sebagai penguasa yang sah.

Dalam kebudayaan Jawa dan Bali mengenal Tirtha (Toya) Amerta (air kehidupan) yang di India disebut Bhimasena as giver of fertility and rain. Di Indonesia Bima adalah justru tokoh utama di dalam cerita Dewaruci yang justru mencari air kehidupan dengan berbagai istilah seperti tirta nirmala, tirta kamandalu, toya pawitra, toya marta, banyu panguripan, atau amrtanjiwani.

Kronogram pada masa Gupta (IV-VII Masehi) tidak lebih dari deretan kata-kata tanpa memiliki arti tertentu. Di Indonesia kronogram menjadi sengkalan yang terdiri dari kata-kata tetapi disusun sedemikian rupa berupa untaian kalimat yang indah dan luwes serta langsung memaknai peristiwa yang terjadi. Salah satu contoh, pada tahun 1250 Saka (1328 M) ketika raja Jayanagara wafat dibunuh oleh dokter bedahnya yang bernama Tanca, dan Tanca lantas dibunuh oleh Gajah Mada pada tahun “bhasmi [angka 0] bhuta [angka 5] nangani [angka 2] ratu [angka 1]” (hancur lebur siapa berani membunuh penguasa/raja); keruntuhan dan kehancuran kerajaan Majapahit pada tahun 1400 Saka (1487 Masehi) diungkapkan dalam kronogram “sirna [0] ilang [0] kerta [4] ning bhumi [1]” (hilang lenyap makmur negara); juga kubur panjang di Gresik berbunyi “kaya[3] wulan [1] putri [3] iku [1]” (= kecantikan putri itu bagaikan bulan) lambang wafatnya putri Cerme pada tahun 1313 Saka (1391 Masehi).

Tradisi sengkalan berlanjut hingga pengaruh Islam dalam tulisan bahasa Arab dan Sunda (dialek Banten) untuk mem-peringati pemindahan meriam Demak (Ki Jimat) ke Banten (Ki Amuk) “akibat ul khair salawat al iman” (pangkal kebaikan adalah keselamatan iman) lambang angka tahun 1450 Saka (1528/1529 Masehi).

Islam yang hadir setelah India juga ternyata hanya berfungsi sebagai pembungkus (busana) luar dari kebudayaan asli. Dikenalnya sistem pemakaman pada bukit atau bangunan berundak pada beberapa makam Islam mencerminkan konsep keagamaan Indonesia asli yang merupakan sinkretisme ajaran asli dengan ajaran Islam. Dalam ajaran Islam tidak pernah diperkenankan membuat hiasan pola mahluk hidup, tetapi ternyata di Indonesia pola hiasan banyak ditemukan hiasan-hiasan pada makam meski telah dalam bentuk stilir.

Proses akulturasi menunjukkan bahwa kepribadian masyarakat bangsa Indonesia tetap berperan, kebudayaan dari luar tidaklah ditelan menta-mentah tetapi diserap guna memperkaya kebudayaan asli. Proses penyerapan yang berlangsung di dalam peristiwa akulturasi tersebut justru memancarkan daya gerak (stimulus-response) atas kebudayaan pra-Hindu di dalam local development, guna menguatkan dan mendandani (busana) konsep-konsep yang telah ada sebelumnya.

Kekuatan atas kemandirian kreativitas sejak paling awal telah tampil sangat mencolok, diantara pengaruh India yang seakan-akan nampak “kental” itu memperlihatkan adanya suatu ciri pemikiran pribumi yang tidak berubah, pemakaian tarikh Saka dari India pada prasasti-prasasti di Nusantara ternyata dilengkapi sejumlah unsur-unsur pertanggalann pribumi (unsur stempat) yang kemudian dipertahankan hingga ke masa-masa sesudahnya. Unsur pertanggalan yang tidak ada dan tidak pernah dikenal di India.

Semuanya mencerminkan kesiapan mental (self determination) dari bangsa Indonesia yang dilandasi oleh kemampuan untuk menerima dan sekaligus mencernanya secara selektif terhadap unsur asing itu. Budaya yang dihasilkan semata merupakan dayacipta dari kemampuan luar biasa para cendekiawan Indonesia dalam usaha merumuskan serta merealisasi-kannya ke bentuk-bentuk karyaseni. Setelah diseleksi (filter) dan sesuai per-ubahan bentuk serta sifatnya sesuai citarasa kepribadian Nusantara-Indonesia (F.D.K.Bosch 1952). Sejarah membuktikan, penyerapan substansi-substansi baru atau asing terhadap kebudayaan di kawasan Asia Tenggara telah menghasilkan ekspresi budaya dengan karakter kepribadian bangsa. Keanekaragaman ekspresi budaya yang berpegang pada prinsip-prinsip dasar sebagai filter pertahanan kuat bagi warisan budaya yang telah dimiliki. Pengaruh asing tidak pernah mampu menggusur tatanan kebudayaan yang dimiliki sebelumnya, melainkan tetap berakar kuat dan tidak pernah kehilangan identitasnya.

 

Unsur-unsur asing yang bertandang ke kawasan Nusantara sebenar-nya tidak membawa perubahan kebudayaan secara kwalitatif atau yang disebut morphogenesis, melainkan cenderung secara kwantitatif (morphostatis), hanya sekedar memperkaya kebudayaan asli. Kemampuan yang semata-mata berlandaskan nilai terbuka selektif, sikap yang dicerminkan dengan adanya unsur kebudayaan bangsa lain yang pernah saling berinteraksi dengan bangsa Indonesia di dalam kebudayaan Indonesia seperti Hindu dan Islam.

 

3. Pamungkas

Keseluruhan faset kebudayaan yang dipaparkan tersebut sangat erat hubungannya dengan sikap dan kemandirian yang membentuk kepribadian bangsa. Semua materi yang terkandung dalam kebudayaan, diperoleh manusia Indonesia secara sadar lewat proses belajar. Di dalam kegiatan belajar inilah kebudayaan diteruskan dari dan oleh generasi satu ke generasi dan dari waktu ke waktu. Kebudayaan yang telah lalu bereksistensi di masa kini, kebudayaan masa kini disampaikan ke masa datang, hakekatnya kebudayaan memiliki kemampuan mengikat waktu. Jikalau tanaman mengikat bahan-bahan kimiawi dengan akar-akarnya, hewan mengikat ruang, maka hanya manusialah yang mampu mengikat waktu melalui kebudayaan.

Cag.

Acuan Kepustakaan

F.D.K.Bosch

l952 “Local Genius en Oud Javaanse Kunst” dalam Mededeelingen der

Koninklijke Academie voor Wetenschappen.

J.G.de Casparis

l950 “Inscripties uit de Cailendra-tijd”, Prasasti Indonesia I. Bandung: Masa Baru- A.C.Nix.

Edi Sedyawati

1977 “Tarumanagara: Penafsiran Budaya”, dalam HM.Joesoef dan TA. Soebrata Wiriamihardja (Penyunting), Laporan Diskusi Panel: Menggali Kembali Sejarah Kebudayaan Tarumanagara Sebagai Sumbangsih Universitas Tarumanagara Kepada Nusa dan Bangsa. Jakarta: UPT. Universitas Tarumanagara.

G. Ferrand

1913-1914

Relations de Voyages et texte Geographiques Arabes, Persians et Turks Relatifs á l’Extréme- Orient du VIIIe au XVIIIe siecle, Paris, 2 Jilid

R.von Heine Geldern

1982 Konsepsi Tentang Negara dan Kedudukan Raja di Asia Tenggara.

Rajawali Press

Miksic, John

l982 “Perubahan Kebudayaan dan Kronologi Arkeologi di Indonesia”,

Makalah Ceramah Himpunan Mahasiswa Arkeologi UGM.

Koentjaraningrat

l963 Guna Antropologi untuk Historiografi Indonesia”, Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia (MISI), Indonesian Journal of Cultural Studies, Djilid I, No.1. Diterbitkan oleh Penerbit Bhratara dalam Kerdjasama Ikatan Sardjana Sastra Indonesia.

K.C.Kruq

1889 “De Geschiedenis van Heilige Kanon te Banten”, T.B. G. 78

 

H.G.Quaritch Wales

l948 “The Making of Greater India: A Study of Southeast Asia Culture Change”, dalam Journal of the Asiatic Society.

W.W. Rockhill

l915 “ Notes on the Relations and Trade of China with Eastern

Archipelago and the Coast of the Indian Ocean in the Fourteenth

Century” T’ung Pao, XVI.

Sartono Kartodirdjo

1977 “Agrarian Unrest and Peasant Mobilization of Java in the Nineteen

Sixties”, Topic I: Modern Asia : Problem and Prospects, Seventh IAHA Conference Bangkok, 22-26 August7, (Proceedings) Volume 1. Chulangkorn University Press, Bangkok–Thailand. Halaman 21-52.

R.P.Soejono

l977 Sistem-sistem Penguburan Pada Akhir Masa Prasejarah di Bali. Disertasi Universitas Indonesia.

M.M.Soekarto K Atmodjo

1983 “Arti Air Penghidupan di dalam Masyarakat Jawa”, Proyek

Javanologi.

l983 “Short Notes on Agricultural Data from Ancient Balinese Inscriptions”, The Fourth Indonesia-Dutch History Conference, Yogyakarta, Juli 24-29.

l986 “Pengertian Local Genius dan Relevansinya dalam Modernisasi” di

dalam Ayatrohaedi (Penyunting.), Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Pustaka Jaya

Published in: on 10 April 2009 at 23:17  Tinggalkan sebuah Komentar  

AKSARA NUSANTARA DWIPANTARA

 

 

1. Manggala

Aksara merupakan pinjaman kata (istilah) bahasa Sanskrta, akshara. Aksara juga disebut huruf-abjad (bahasa Arab) adalah suatu lambang bunyi atau ujaran (fonem); sedangkan bunyi adalah lambang pengertian. Secara umum aksara adalah suatu tanda-tanda grafis yang dipakai manusia sebagai salah satu alat komunikasi yang mewakili suatu ujaran, alat untuk mencatat setiap ujaran secara sistematis. Ke dalam pengertian aksara merupakan media untuk menyampaikan ide-ide, gagasan-gagasan, maksud seseorang kepada orang lain yang tidak dapat disampaikan melalui pembicaraan lisan atau ujaran.

Berbicara tentang aksara tidak terlepas dari kedudukannya sebagai sumber tertulis (data tekstual). Pada masa paling awal bukti otentik aksara ditandai oleh hadirnya prasasti. Di sini prasasti memiliki kedudukan sebagai data utama, karena sebagian besar prasasti hampir selalu kontemporer masanya. Dibuat dan dikeluarkan atas wewenang raja, penguasa tertinggi suatu pemerintahan resmi, negara atau kerajaan berdaulat. Isi-pesannya berkenaan dengan titah atau anugrah raja/penguasa kepada seseorang yang berjasa atau dalam rangka memutuskan sesuatu perkara hukum (perdata). Prasasti adalah Surat Keputusan (SK) atau dokumen resmi pemerintah. Kehadiran suatu prasasti di masa lalu selalu diiringi upacara resmi dengan mellibatkan pemerintah langsung sebagai pembuat keputusan hukum. Itu sebabnya prasasti dipandang sangat sakral dengan sebutan hormat Sanghyang Ajna Prasasti.

Suatu prasasti ketika diputuskan untuk dibuat dan dikeluarkan sama artinya dengan dikukuhkannya keputusan resmi pemerintah. Oleh karena itu suatu prasasti tidak hanya dibuat satu, prasasti asli digoreskan pada media bahan yang lebih kuat dan permanen, biasanya dipilih bahan batu. Sedangkan copy atau tembusan (tinulad) digoreskan pada lempeng atau lembar tembaga – tamra prasasti – lebih mudah dibawa dan dipindahkan. Jumlah copy atau tembusan disesuaikan kepada pejabat desa yang diundang hadir sebagai (tatra) saksi. Prasasti merupakan dokumen otentik tentang gambaran bunyi (aksara) yang sarat mengandung sumber dan record – yang berbicara atas bukti-bukti langsung warisan budaya Nusantara di masa lalu.

Dari bukti prasasti yang telah berhasil ditemukan hingga kini, media menggoreskan aksara meliputi batu, logam (emas, perunggu, tembaga), kayu, juga bahan-bahan lain yang lebih lunak seperti daun tal (ron-tal), atau nipah. Sedangkan alat menggores atau memahat aksara, disesuaikan kadar kekerasan bahan yang dipergunakannya semacam tatah/pisau kecil, yang pada bagian ujungnya dibentuk melengkung, pipih, sangat tajam. Selain untuk menorehkan aksara, alat ini juga digunakan untuk mengiris dan menghaluskan bahan (daun) menjadi lempiran-lempiran dengan ukuran yang diperlukan panjang, lebar dan ketebalan tertentu yang siap pakai. Sementara bahan-bahan keras seperti batu atau jenis logam tertentu (perunggu, tembaga emas) dipakai karena dianggap lebih tahan lama. Tentu saja, pilihan bahan (media) dipakai selaras kepentingan dan sumber daya yang diperoleh di lingkungan budayanya. Sesuai alat dan bahan dipakainya kala itu, maka aksara yang nampak lebih memperlihatkan “hasil” goresan berkaitan erat dengan memahat. Alat yang memerlukan ketrampilan ketekunan dan keahlian khusus. Karenanya seorang yang ditugaskan menggores atau memahat aksara (naskah karyasastra atau naskah prasasti) diperani pemahat yang disebut citralekha.

Aksara-aksara yang hadir diwujudkan ke dalam data sumber tertulis merupakan rekaman gambaran bunyi yang telah mengandung karakter dan makna penciptanya. Dicirikan oleh jenis dan gaya pahatan atau goresan pada setiap prasasti yang hadir, bentuk tebal, tipis, posisi tubuh tegak, agak tegak, miring, bentuk persegi, bulat, pipih memanjang, melebar, tambun, dan kokoh tegak. Inilah yang menyebabkan setiap prasasti adalah unicum.

Jikalau naskah prasasti merupakan dokumen resmi, tegas dikeluarkan oleh suatu pemerintahan berdaulat, sehingga isi dan pesannya menyangkut kepada hal-hal yang resmi “berbau istana”. Berbeda dengan karya(/su)sastra (manuscript), sebagian besar isi pesannya merupakan data kemasyarakatan yang kental pertaliannya dengan unsur-unsur kearifan lokal. Berdasarkan katagori, naskah prasasti adalah dokumen peristiwa yang benar-benar terjadi dan dituliskan oleh seorang citralekha istana.

Sementara naskah karyasastra merupakan karya pujangga (kavya), isi dan pesannya mengenai peristiwa-peristiwa, tetapi belum berarti bahwa peristiwa itu yang pernah benar-benar terjadi. Kalimat-kalimat yang dipakai dalam suatu karyasastra secara khusus dirangkai sesuai emosi dan citra pengarang atau penggubahnya. Di dalam upaya menuangkan peristiwa sejarah menjadi kisah sejarah itu, diupayakan unsur-unsur keindahan bahasa dan kesejukan kata-kata yang diharapkan mampu mengajak pembaca larut ke dalam cerita dengan jalinan sedemikian rupa.

Berdasar kepada sifat isi pesannya, prasasti dan karyasastra dikatagori sesuai lingkungan kebudayaan yang menghasilkannya. Prasasti benar-benar produk dengan latar kebudayaan istana (pusat), bersumber kepada kegiatan negara atau pemerintahan. Bersifat lebih halus dengan sofistikasi tinggi, dengan selera dan gaya penuh kerumitan; sedangkan karyasastra umumnya lebih menampil-kan karya masyarakat yang mengandung vitalitas, sarat dengan bakat dan kekayaan terpendam. Tapi pada gilirannya justru dari karyasastra inilah acapkali ditimba hal-hal yang masih gelap dan yang mampu mengisi lorong-lorong peristiwa sejarah.

Aksara, baik yang tampil pada prasasti atau karyasastra (manuscript) dengan ciri kekhasannya masing-masing, keunikan sebagai jejak dan tapak atas pemahaman pengetahuan dan pengalaman pemangku budaya. Aksara merupakan mental template karyaseni budaya, pencerminan kualitas empiris individu/ kelompok masyarakat yang kontemporer dengan masanya “Jiwa Zaman.

 

2.2. Sambhanda

2.1. Aksara-Aksara di Nusantara

Sebelum inovasi Arab dan Latin, aksara yang lazim dipergunakan di kawasan Asia Tenggara (kecuali Vietnam dan sebagian kalangan penduduk Cina Selatan) diperkirakan ada pengaruh India. Begitu pun di Nusantara para sarjana (pribumi dan asing) hampir selalu mengajukan pendapat senada bahwa aksara di Nusantara hadir sejalan dengan berkembangnya “Hindu-Buda” India yang datang dan menetap. Melangsungkan kehidupan dengan menikahi penduduk setempat. Beberapa asumsi tentang kehadiran aksara sebagai pengaruh inovasi India di Asia Tenggara.

Pakar epigrafis Prancis terkemuka, Louis-Charles Damais (l951;1955) menyatakan bahwa peng-aruh India “Hindu-Buda” berkembang di Nusantara yang diajukan para ahli itu, sebenarnya tidak pernah disertai penjelasan tuntas. Lagipula pendapat atau asumsinya itu belum benar-benar menegaskan apa, darimana, bagaimana awal kehadiran dan mengalirnya arus kebudayaan India ke Nusantara?

Dari sejumlah data yang telah dihimpun, hadir gaya aksara yang “konon inovasi India” ditengarai tidak berasal dari satu tempat, melainkan dari berbagai tempat, bahkan cukup rumit bila ditelusuri dan ditentukan darimana sebenar-benarnya pengaruh India tersebut. Namun juga pendapat atau asumsi yang terutama dilontarkan beberapa penulis Belanda itu dilandasi temperamen dengan tingkat pemahaman yang berbeda-beda itu selalu “seenaknya” menggunakan ungkapan atau istilah-istilah yang masih terlalu kabur. Diantaranya gejala kebiasaan mengistilahkan dan menamai bentuk yang diduga pengaruh India olehnya, dan ditemukan di Nusantara dengan istilah Hindoeisch; Koloni Hindu, Raja-raja Hindu Majapahit, Pulau Hindu untuk menyebut Pulau Bali tanpa disertai alasan dan penjelasan tuntas. Termasuk menilai semua bangunan pusat upacara keagamaan dengan istilah Candi, istilah yang benar-benar Hindu-India yang sebenarnya jauh berbeda dengan wujud dan kenyataan yang disebut candi itu.

Sarjana kolonial Belanda lainnya yakni J.L.A.Brandes, N.J. Krom dan W.F. Stutterheim. Kendati sarjana ini menonjolkan sifat-sifat asli peradaban Nusantara, namun selalu diembel-embeli istilah “yang memekakkan telinga” atas penyebutannya yakni Masyarakat Hindu-Buda Nusantara dan segala kekaburan maknanya”. Istilah yang mengesankan seakan-akan masyarakat Nusantara di dalam segala aspek sangat berhutang budi kepada orang-orang India (baca Hindu-Buda). Padahal sejauh telah dilontarkannya asumsi-asumsi tersebut, kenyataannya tidak satupun bukti tertulis yang pernah mencantumkan atau merekam peristiwa adanya dominasi Hindu-Buda baik di dalam penggunaan bahasa sehari-hari, bahasa pergaulan maupun komunikasi – interaksi sosial antara sesamanya.

Satu-satunya asumsi yang agak sesuai kenyataan tetapi berkesan “agak dipaksakan” adalah bahwa Indianisasi di Asia Tenggara antara lain disebabkan oleh kehadiran guru-guru agama Buda dan agama Hindu (terutama aliran Siwa, Wisnu dan Brahma), yang memang dari semula berasal dari wilayah India. Namun dari data arkeologis yang ada lebih membuktikan bahwa yang penyebab utama hadirnya pengaruh India di Nusantara adalah karena peran penduduk asli dari berbagai daerah Asia Tenggara kembali ke negri asalnya setelah lama berada di India.

Dalam hal ini George Coedes dalam Les Etats Hindouises d’Indochine et d’Indonesie yang dengan jujur dan objektif mengutarakan tentang kecenderungan adanya persamaan atas beberapa pengaruh Hindu-Buda di kawasan Asia Tenggara (terutama Indocina dan Nusantara) dengan berbagai ragam daerah di daratan India. Bahwa pengaruh India atas pemakaian sistem perlambangan atau gambaran bunyi (aksara) yang berkembang di Asia Tenggara, penerapannya tidak disebabkan sikap orang-orang asing. Melainkan hubungan interaksi antara guru-guru asing dan segolongan elite lokal, kemudian terjadi penyesuaian.

Fakta tidak dipungkiri bahwa kosakata Sanskrta merupakan pengaruh India telah turut memperkaya bahasa-bahasa Melayu, Jawa, Sunda dan Bali. Namun penerapannya di kawasan Asia Tenggara, sama-sekali bukan disebabkan penguasaan politik India di Asia, melainkan melalui proses penyesuaian antara guru-guru. Dengan kata lain merupakan hasul kesepakatan dari segolongan elite lokal di dalam menentukan pemakaian perlambangan (aksara) menuliskan bunyi-bunyi bahasa. Lagipula bukti-bukti pemengaruhan bahasa dan aksara unsur pengaruh India itupun sebagian besar terbatas penggunaan istilah-istilah teknik, karena memang semula dilatari maraknya peristiwa perdagangan yang secara tegas signifikant selalu mengiringi pertukaran kebudayaan. Namun sekali lagi, “tidak pernah ada penaklukan” atau “kolonisasi” bangsa India seperti yang terjadi sekarang.

Bukti tertua aksara pengaruh India itu, antara lain aksara Pallava yang kemudian disinyalir meng- iringi perkembangan Pasca-Pallava hingga abad VII Masehi di Nusantara barat. Hadirnya jenis aksara tersebut merupakan hasil seleksi kepiawaian genius lokal yang tiada lain merupakan diferensiasi aksara-aksara lokal, dan kaitannya dengan Pallava terlampau jauh. Lagipula persebaran aksara pengaruh India di Nusantara (Asia Tenggara umumnya) dan berbagai variantnya itu, dijumpai hanya pada sejumlah dokumen kuno (a.l. Fu-nan, Campa, Kamboja, Negri Mon, Sunda (Jawa Barat), Jawa Tengah Jawa Timur, dan Kalimantan Timur) dengan alasan utama penyebaran agama Buda (India selatan). Jenis aksara jenis ini ditemukan dan hanya dipakai untuk kepentingan politik yang bersifat nasional-international. Diantaranya aksara Siddham[-matrika] yang benar-benar terpatri untuk menulis teks-teks ajaran dan mantra-mantra suci keagamaan. Pula sangat terbatas pada media-media tablet, materai, stupika (terracotta/tanah liat bakar), tanpa disertai pertanggalan, dan sulit ditentukan periodenya secara tepat.

Menurut catatan sejarah, aksara Pallava atau Pasca Pallava hanya bertahan lebih lama di kawasan Sumatra (terutama masa Sri Vijaya) dan di Semenanjung Malayu pada dokumen-dokumen (prasasti) abad II hingga abad VII Masehi (A.D.). L. Malleret menemukan bukti di Oc-Eo (kerajaan Fu-nan) diantara dokumen-dokumen tertua terdapat keterangan pada mata cincin.

Ditengarai pengaruh India terhadap aksara di Nusantara terutama di bagian barat, dengan catatan tidak/bukan sepenuhnya dominasi kebudayaan India. Karena nyata dan tegas, ditemukan pula aksara-aksara dari etnis-etnis Nusantara yang juga dikatagori archais. Dengan menampilkan ciri dan gaya kemandirian daerah budaya bersangkutan, khususnya kawasan etnis yang “konon” sedikit sekali sentuhan inovasi India, yakni Nusantara bagian timur.

Keterlibatan aksara dengan dayacipta cendekiawan setempat (lokal) yang telah turut secara aktif ambil bagian dalam kancah pergaulan internasional dapat dijelaskan bahwa secara logika seseorang yang “berani” terjun ke pergaulan internasional, tentu saja disertai bekal kemampuan, sekurang-kurangnya telah memiliki alat/media komunikasi sejalan kepentingan dan kebutuhan interaksi sosial dengan bangsa-bangsa lain di kalangan internasional. Dalam pengertian “melek baca tulis bahasa dan aksara”. Maka aksara-aksara yang ada di Nusantara dengan aneka ragam ciri, meskipun gaya dan jenis bentuknya nampak ada unsur inovasi, tetapi pada klimaksnya yang meramu dan menentukan unsur-unsur asing dari berbagai aliran merupakan kesepakatan cendekiawan Nusantara secara langsung menjaring, mencerna dan menyesuaikan- nya dengan unsur kepribadian setempat.

Nyatanya pada periode sekurang-kurangnya abad VIII Masehi, di tiap wilayah di kawasan Asia Tenggara Daratan dan kepulauan/Nusantara telah berkembang bentuk aksara yang pada prinsipnya sama tetapi memiliki corak-corak khusus dan tersendiri. Gaya dan jenis aksara sebagian besar mirip sejumlah dokumen di Sumatra dan Jawa memakai jenis bahasa pengantar di masing-masing daerah pendukung budaya (a.l. Malayu, Jawa, Sunda dan Bali).

Batas antara gaya aksara yang satu (lebih tua) dengan yang hadir kemudian sangat sulit ditentukan, karena besar kemungkinannya jenis-jenis aksara itu berkembang secara overlapping, hampir bersamaan. Mungkin pula gaya yang telah ada agak tersilih sementara oleh kehadiran gaya dan jenis aksara yang baru, namun proses peralihan dan pergantiannya sesuai perkembangan zaman seperti munculnya aksara pegon dan latin. Yang baru telah berkembang lebih meluas sedangkan yang lama berkembang secara lokal saja. Inilah bukti atas kuatnya daya cipta kepribadian budaya bangsa (local genius) yang menjadikan ciri aksara Nusantara.

Perlu diterangkan bahwa sejak awal terjadinya proses pemengaruhan di dalam beberapa hal memang ada masalah, namun luwesnya sistem fonetik bahasa-bahasa etnis Nusantara tidak menimbulkan kesulitan besar menuliskan aksara India. Ketika menuliskan atau mengalihaksara vokal (tanda bunyi diakritis) yang disebut pepet (tanda yang menyatakan bunyi è; é; ê; æ; ë) dan hiatus (bunyi peralihan dua monoftong yang berdampingan dan membentuk dua suku berurut tanpa jeda atau konsonan antara – sia – sya – sya; dua – duwa – dwa). Unsur-unsur bunyi tersebut benar-benar hanya dikenal di dalam kosakata bahasa-bahasa daerah di Nusantara yang tidak dikenal di dalam kosakata bahasa ataupun pengaruh India. Ketiadaan komponen inilah yang justru menjadi ciri pembeda sangat signifikan antara aksara pengaruh India dan aksara Nusantara.

Oleh karena itu tatkala peristiwa inovasi berlangsung dan berkembang (difusi) kesulitan untuk menyesuaikan diri tidaklah terasa benar karena pihak yang dipengaruhi (Asia/Nusantara) telah memiliki dasar-dasar mengenal tanda-tanda bunyi. Kiat cendekiawan Nusantara sedapat-dapatnya tidak menuliskan pepat pada akhir suku kata pertama suatu pokok kata; konsonan permulaan sukukata tersebut dirangkap dengan konsonan permulaan dari sukukata kedua seperti terjadi pada dmakan, wdihan, si kbo, lmah, wdus, wkas, kdung pluk dan seterusnya. Namun juga harus diakui jikalau kerap terjadi, dimana sang citralekha (penulis prasasti) tidak selalu konsekwen pada sukukata yang sulit atau yang tidak mungkin dirangkap, misalnya tanda [ĕ] pepat diganti bunyi [a] seperti suket–sukat; mangagem–mangagam; mapeken- mapekan dan seterusnya.

Inovasi aksara Pallava yang ditemukan pada dokumen-dokumen prasasti memiliki kecenderungan tidak menyertakan unsur pertanggalan. Dijumpai pada prasasti tujuh Yupa (tugu peringatan kurban) dari Kerajaan Kutei (Kalimantan Timur) secara palaeografis diperkirakan sekitar 400 Masehi; dan sejumlah prasasti masa Tarumanagara (Jawa Barat) sekitar 450 Masehi. Prasasti-prasasti masa Tarumanagara yang berhasil ditemukan seluruhnya digoreskan pada tujuh batu alam. Lima prasasti (Bogor: Ciaruteun, Muara Cianten, Cibungbulang; Jakarta:Tugu; Banten: Cidanghiyang) prasasti sloka berbahasa Sanskrta bermetrum Anustubh dan Sragdhara; dua lainnya bergoreskan pilin, umbi-umbian dan sulur-suluran.

Aksara Pallava hampir sejaman dengan periode Taruma dan Kutei, ditemukan pada prasasti-prasasti di Sumatra dengan gaya lokal memakai bahasa Malayu Kuno. Prasasti-prasasti di Sumatra tertua yang menandai periode Kerajaan Sri Vijaya ini disertai unsur pertanggalan ini mewakili gaya aksara periode abad ke VII (682-686 Masehi). Disusul prasasti-prasasti dari Mataram Kuno diantaranya Prasasti Canggal (732 Masehi), sejaman dengan Prasasti Ligor (775 Masehi) dijumpai di Semenanjung Melayu. Prasasti-prasasti yang disebut dianggap paling mewakili gaya aksara periode abad II-VIII Masehi, sekaligus yang menandai peristiwa keseragaman pemakaian aksara dengan pengaruh Dinasti Pallava India Selatan di asia Tenggara. Seiring pengaruh Pallava nampak corak-corak stabil pada aksara-aksara setiap kebudayaan dengan menam-pilkan corak khas aksara Asia Tenggara dengan memperlihatkan perbedaan-perbedaan kecil pada tampilan bentuk dan gaya goresan yang ditengarai sebagai hasil daya cipta kepribadian lokal (local genius) dengan tanda khas yang sangat khusus. Tanda yang sangat khas itu adalah kuncir (serif) dipakai sebagian besar aksara-aksara di Nusantara bagian barat. Tanda pada aksara-aksara tertentu dan menjadi ikon yang tidak dijumpai pada aksara-aksara pengaru India dan tempat manapun. Melainkan menjadi gaya aksara standar, selanjutnya populer disebut aksara Kavi atau aksara Jawa yang pada prinsipnya menjadi signifikan di Asia Tenggara. J.G.de Casparis (l975) menerangkan bahwa aksara Kavi atau aksara Jawa ini disebut standard form of early kawi mengembangkan sayap ke masa sesudah abad VIII Masehi:

 

“. . . the script is functional without embellishment but has a certain grace owing to its perfect regularity and the balance achieved in correct spacing. The letter are are slighty sloping . . . the use of serif is systemized that some letters are always withot serif (thus i-, na, da, ja), some others are double-serifed (thus pa, sa, da, a- and ya; in the last case the second and the third verticals are serifed), most of remaining letters have a single serif which is liable to disappereance if an ulu is put on top. Two aksaras, ka and ta, invariably lose their serifs if they have a virama…”

 

Sejumlah dokumen aksara Kavi ada yang tidak bertanggal ditemukan pada mantra-mantra suci yang digoreskan pada lembaran (tipis) emas, perak, yang biasanya ditanam dalam peripih-peripih bangunan pada tiap-tiap arah mata angin. Gaya dan jenis aksara ini menjadi acuan ke periode selanjutnya setelah melalu adaptasi lingkungan setempat dan perkembangan waktu hingga abad X Masehi.

Sejak abad XI Masehi terjadi perubahan seiring perpindahan pusat kekuasaan Mataram Kuno ke Jawa Timur (menurut tatanan gegografis kini) Oleh karena itu gaya aksara periode abad XI Masehi kerap disebut Later Kavi Script berlangsung hingga abad XII Masehi, periode peralihan Mataram Kuno –Kadiri dipengaruhi gaya Bali. Jikalau gaya aksara bulat lonjong adalah pakem Kavi Mataram Kuno Jawa Tengah, tatkala pusat politik Mataram bergeser lebih Timur berkembang variant aksara dengan gaya tegak, agak bersiku-siku, namun cirinya masih agak sederhana namun sangat bergaya dan dekoratif. Gaya aksara yang hadir karena pengaruh Airlangga (putra mahkota Bali keturunan Raja Jawa) ini selanjutnya menjadi kreativitas ragam dan gaya aksara, antara satu dan lainnya silih berganti dengan keunikan masing-masing selama masa dinasti raja-raja Kadir.

Diantara gaya aksara-aksara dinasti Kadiri itu melanjutkan perjalanannya hingga pemerintahan dinasti Singhasari- Majapahit, serta dianggap mewakili gaya aksara periode abad XIII – XVI Masehi. Pada gaya aksara Singhasari-Majapahit, goresannya teratur dan anggun, ada yang dihiasi pahatan suluran yang sangat raya. Akibatnya tanda serif yang menjadi ciri karakter aksara Kavi tidak begitu nampak, terselimuti rayanya dekorasi yang variatif. Aksara gaya Kadiri merupakan puncak kreativitas seniman dengan hadirnya aneka variasi yang menadai fenomena kembalinya kekuatan pribumi (millenarisme). Kian ditegaskannya kekuatan lokal yang dicirikan oleh maraknya berbagai gaya aksara produk masyarakat luas yang dikatagori tradisi kecil (Little Tradition), diantara aksara produk istana yang dikatagori tradisi besar (Great Tradition).

Gejala Millenarisme mempengaruhi dan menjiwai aksara-aksara pahatan timbul, tebal dan kaku, yaitu jenis aksara Sukuh pada prasasti-prasasti di Candi Sukuh dan sejumlah prasasti pendek di Gunung Penanggungan (Jawa Timur). Juga hadir jenis aksara yang secara khas disebut gaya Aksara Paku dengan bentuk kaku, dimana komponen tiap karakter aksara nampak dipahatkan “terputus-putus”. Diantaranya pada Prasasti Pasru Jambe (Rabut Macan Petak), prasasti-prasasti di Tatar Sunda (Jawa Barat) seperti Prasasti Kawali, Prasasti Kebantenan, Prasasti Batutulis dan Prasasti Hulu Dayeuh dan diantaranya dipakai pada manuscript Galunggung.

Variasi lain dari abad XIV-XV Masehi adalah aksara prasasti di kawasan Gunung Merbabu; ada juga yang disebut Aksara Buda atau Aksara Gunung, secara khusus dipakai dan digoreskan pada manuscript, Merbabu-Merapi Scriptoria. Gaya aksara yang berkembang dipakai pada naskah-naskah Jawa Kuno antara abad XV-XVI Masehi hingga awal abad XVIII Masehi. Jenis aksara hampir serupa, ditemukan di kawasan Sumatra, antara lain prasasti- prasasti dari Sumatra Barat (Adityawarman), prasasti-prasasti di kawasan Lampung (Sumatra Selatan), juga di daerah Aceh dimana aksara dipakai dengan menggunakan dua bahasa (bilingual), bahasa Malayu dan bahasa Arab. Gaya aksara Sumatra Kuno dianggap bukan hasil perkembangan langsung atau bahkan terlepas dari pengaruh Jawa, tetapi lebih menampilkan kekentalan adaptasi lokal dengan pengaruh aksara Pallava. Pada saat yang sama, aksara prasasti-prasasti di daerah Lampung justru lebih menampilkan gaya paku (Prasasti Ulubelu; Prasasti Dadak/Batara Guru), dengan keunikan sentuhan Batak. Gaya aksara yang menjadi cikal-bakal aksara Lampung pada manuscript kulit (dalung), sejak abad XVIII-XIX Masehi hingga sekarang.

 

Paling menarik adalah aksara Bali terutama karena hampir selalu digoreskan pada daun Tal dan bahan logam. Beberapa prasasti pendek yang ditemukan secara khusus “prasasti mantra” digoreskan pada tanah liat, masih menampilkan aksara Prenagari atau Sidhhamtrika seiring dengan misi keagamaan Buda. Kenyataan ini melahirkan asumsi bahwa aksara Bali di masa lalu dipengaruhi Brahmi Kuno, dengan unsur kemiripan gaya aksara yang berkembang di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara Daratan. Sebelum abad XI Masehi, aksara Bali mendapat pengaruh Jawa Kuno dengan bahasa Jawa Kuno. Tetapi setelah itu di Jawa Timur diemukan satu-satunya prasasti yang erat kaitannya dengan Bali, yakni Prasasti Pucangan atau Calcutta dan sangat terkenal itu. Dikeluarkan oleh seorang pangeran berdarah Bali dan Jawa tahun 963 Saka/1041 Masehi. Namun sebagian besar prasasti-prasasti yang dijumpai di Bali pada masa lebih muda memperlihatkan unsur pengaruh Singhasari-Majapahit (XIII-XVI Masehi). Gaya aksara dengan teknik goresan sangat indah yang berkembang abad XII Masehi, Tribhangga. Gaya pahatan yang sangat indah da terus ditampilkan manuscript-manuscript Bali sekarang.

Pada periode sesudah Klasik, sesudah abad XVI-XVII Masehi, di Nusantara ada aksara-aksara dengan istilah dan penamaan khusus dengan mengacu kepada latar dan budaya etnisnya. Aksara yang diakui oleh sang pemangku budaya ‘aksara asli” etnis, di Sumatra (aksara Aceh, Batak, Kerinci, Rejang, Lampung); di Jawa (aksara Jawa, Sunda); di Sulawesi (aksara Makasar dan Bugis); dan di Kalimantan; Aksara-aksara pengaruh luar yang pemakaiannya disesuaikan dengan kebutuhan etnis yang bersangkutan yakni aksara Arab. Aksara yang ketika Islam bertandang di Nusantara ini disebut Aksara Jawi, Aksara Pegon, Aksara Arab-Melayu. Ada juga yang disebut Aksara Arab “gundul” karena aksara-aksaranya tidak diberi penanda vokal atau penanda konsonan (diakritis); dan Aksara Latin yang merupakan pengaruh inovasi Eropa.

Aksara di Sumatra bagian utara pada umumnya membentuk sudut-sudut lancip yang secara umum mirip dengan aksara Aceh, sudut-sudut lancip tersebut kemudian agak menghilang pada aksara di Sumatra bagian selatan. Pemakaian Jawa dan aksara Sunda menunjukkan kecenderungan hasil perkembangan jaman kuno. Namun pada dasarnya aksara-aksara yang terdapat di berbagai etnis di Nusantara hampir selalu ditampilkan sesuai ‘ego’ pemakainya.

Kendati mungkin aksara Bugis dan aksara Makasar memperlihatkan adanya unsur pengaruh gaya aksara-aksara Sumatra, seperti yang digunakan pada aksara Batak bertaut penyesuaian kepada kebutuhan perlambangan fonem (induk aksara) pemangku budaya daerah bersangkutan. Demikian aksara Lampung dipakai guna melambangkan dua dialek bahasa mereka yakni dialek pesisir dan dialek pedalaman, yang di dalam beberapa hal bentuk dan gayanya tidak berbeda kecuali pada tanda vokalisasi. Sementara aksara Kerinci kerap disebut aksara rencong, penamaan sesuai bentuk dan gayanya aksara.

Perlu dicatat! aksara-aksara yang dikenal di dunia oleh para sarjana diklasifikasi ke empat katagori: 1) Piktograph (berbentuk gambar seperti Hieroglyph Mesir, dan aksara Cina Kuno); 2) Ideograph (setiap aksara melambang-kan obyek, seperti halnya aksara Cina kini); 3) katagori Silabik (melambangkan suku kata seperti aksara India, Jepang, Arab dan aksara-aksara di Nusantara); 4) Fonetik (terdiri dari fonem-fonem seperti halnya aksara Latin).

Ada asumsi berkembangnya aksara-aksara yang ada di dunia, diawali dari Piktograf, namun disesal-kan hingga kini belum ditemukan bukti yang berkenaan kepada asumsi itu. Kecuali ditengarai adanya perkembangan kategori ideografik yang menapaki silabik diwujudkan berupa sukukata. Kategori aksara ideografik agaknya tertancap sebagai ciri aksara Tiongkok kuno, dengan satu dan lain hal tidak sempat menancapkan pengaruh di Nusantara. Meski secara jelas sejarah mencatat para musafir Cina termasuk yang kerap berkunjung ke Nusantara dengan tujuan keagamaan bagi pengetahuan mereka sendiri, yakni mencatat dan menterjemahkan teks-teks agama Buda di Nusantara. Setelah selesai mengerjakannya naskah dibawa pulang kembali ke negerinya. Itu sebabnya aksara Tiongkok Kuna tidak pernah memasyarakat di Nusantara seperti aksara pengaruh India.

Sekurang-kurangnya abad II Masehi dianggap tonggak ditemukannya bukti tertulis Nusantara (bagian barat) hadir aksara katagori silabik, telah memicu dayacipta ”local genius” dengan kekhasannya serta ragam variasinya dalam kancah perkembangan lokal itu, mencapai puncaknya pada abad VIII Masehi. Perkiraan batasan periode sepenuhnya didasarkan analisis dengan metode palaeografis karena sebagian besar data sumber tertulis umumnya tidak bertanggal, antara lain dituliskan pada lempeng atau lembaran kertas emas atau perak yang isinya berupa teks mantra berbahasa Sanskerta. Teks- mantra untuk ditanam pada sumuran-sumuran bangunan suci (peripih).

Pada pertengahan abad VIII Masehi ditemukan beberapa teks-teks berbahasa Jawa Kuno dengan pertanggalan, dengan kekhasan gaya aksara yang cenderung agak membulat dan miring ke kanan 15°. Abad IX –X Masehi perlahan-lahan gayanya membulat lebih tambun menuju persegi sehingga pertemuan garis yang membentuk sudut-sudut pada bagian-bagian aksara tertentu nampak menjadi menonjol. Aksara yang selanjutnya mendasari gaya aksara-aksara di Jawa Timur (abad XI-Masehi) dan berbagai variasinya. Baik yang dipahatkan tipis dan halus, bahkan berpadu dengan inovasi gaya Bali sekalipun yang dipahatkan menonjol ke luar, sangat tebal dengan ukuran cukup besar acapkali raya dengan hiasan (sulur-suluran) sehingga bentuk aksaranya sulit dipahami yakni aksara Kwadrat, khusus dipakai menuliskan semboyan-semboyan tertentu, prasasti yang beraksara kwadrat lebih sering dipahatkan pada prasasti-prasasti pendek dan sangat khas pada masa Kadiri.

Gaya dasar menuju perkembangan aksara abad IX Masehi dengan penanda utama hadirnya serif (kuncir) ditemukan di bagian kepala aksara-aksara khusus aksara terbuka ke atas. Tampaknya remeh dan sepele namun kehadiran kuncir justru petunjuk penting yang secara tegas ikon aksara-aksara di kawasan Asia Tenggara yang bukan milik India dan tidak pernah dipakai ataupun ditemukan pada aksara-aksara di India.Pemakaian serif (kuncir) mendominasi gaya dan jenis aksara prasasti prasasti di Sumatra, Jawa dan Bali bahkan menjadi ciri khas hingga masa Singhasari-Majapahit. Di Asia Tenggara Daratan tanda kuncir dikenal hampir serempak pada aksara-aksara yang berkembang di Asia Tengara Daratan seperti Campa, Birma, Kamboja juga Muangthai (Siam), kecuali Filipina. Maka dikatakan aksara senantiasa tidak terlepas dari landasan pengetahuan pemangku budaya suatu etnis (bangsa manusia)- tapak walas.

 

2.2. Aksara: Karyaseni Budaya Adiluhung

Paradigma selalu diajukan para sarjana bahwa bukti tertulis (data tekstual) menandai berlangsungnya masa sejarah, sementara itu sebagian besar bukti tertulis dijumpai di Nusantara bagian barat. Bagaimana dengan kenyataan Nusantara timur yang sangat minim ditemukan sumber tertulis, apakah hal itu harus dipersepsikan masyarakat yang tidak mengalami masa sejarah? Kenyataannya bahwa Nusantara sangat kaya bahasa daerah, tetapi tidak semua etnis memiliki atau meninggalkan bukti tertulis.

Dikenalnya ragam hias indegenous pada beberapa wilayah di kawasan Nusantara timur, antara lain “Garonto Passura” di Sulawesi. Keistimewaan dayacipta setempat yang telah sangat tua didasari kemapanan kreativitas sesuai kondisinya. Namun juga sangat complicated, dimana individu/kelompok masyarakat suatu lingkungan kebudayaan memiliki konsep tersendiri di dalam cara mengembangkan gaya dan bentuk aksara selanjutnya melahirkan tipe-tipe khas pendukung budaya. Dengan kata laingaya dan jenis suatu aksara di Nusantara memiliki Style yang mencerna unsur motif, unsur hubungan, dan unsur kualitas yang seluruhnya itu berakar pada inti budaya (hoe) sarat ide-ide atau gagasan pendukung budayanya. Keberadaan sesuatu yang dipahatkan atau apa yang digoreskan pada suatu bahan yang disebut naskah dengan kategori-kategori prasasti, karya(/su)sastra secara keseluruhan disebut sumber tertulis dalam kategori data tekstual.

Sejauh yang telah dibuktikan, aksara tertua di Nusantara adalah prasasti-prasasti Tarumanagara. Dicirikan bentuk pilin, pilin gandha ataupun sulur-suluran merupakan citra gaya seni geometris yang paling tua dikenal di belahan dunia termasuk Nusantara. Sementara itu, sepanjang berlangsung periode Klasik, di Nusantara bagian timur tidak begitu banyak menghasilkan bukti-bukti secara tertulis apalagi pengaruh India dengan cap Indonesia Hindu atau jaman Hindu seperti diistilahkan sarjana Belanda Melainkan tetap mem-pertahankan kepribadian corak ”ASLI” pribumi. Corak kepribadian yang akrab sejak nenekmoyangnya (periode prasejarah), corak kehidupan budaya yang merupakan kontinuitas budaya perundagian akhir masa Epipaleolitik sampai awal Neolitik. Kepribadian yang menyiratkan bahwa masyarakat Nusantara timur mengenal gambaran bunyi sebagai alat komunikasi dalam rangka melaksanakan interaksi sosial.

Nyatanya di wilayah ini terdapat lukisan cadas -rock art -(dengan pengecualian Sumatra dan Jawa) antara lain di Sulawesi Selatan, Muna, Seram, Kei kecil, Flores, Lomblem, Papua, Kalimantan timur dan barat yang secara kronologis motifnya menunjukkan runutan yang dapat ditelusuri. Lukisan gambar tersebut ada yang dipahatkan dengan disemprot sesuatu cairan berwarna (negatif), ada yang dicap (positif ) dan digores (dipahat). Tema yang tampil dalam rock-art berupa simbol kognitif yang erat kaitannya kepada budaya agraris yang berpatokan kepada unsur kesuburan, lambang persatuan sesama, keselarasan dan keseimbangan terhadap alam dan Sang Cipta.

Gambar, lukisan, goresan yang dipahatkan pada cadas menampilkan citra khusus sebagai visualisasi verbal di dalam upaya berkomunikasi ke generasi sesudahnya diungkapan melalui sentuhan estetika oleh seniman zamannya. Sebab apa yang digambarkan bukan sesuatu yang ganjil terhadap hal-hal atau objek di luar gagasan masyarakat pendukung budaya, melainkan gagasan dari pengalaman empiris dituangkan ke dalam motif-motif lukisan secara langsung dimengerti dan dipahami keturunannya masa kemudian sebagai bagian kebudayaanya. Maka lukisan cadas adalah alat transformasi yang tiada berbeda peran dan fungsi bahasa tertulis atau aksara. Gambar atau lukisan dengan anekaragam motif-motifnya adalah bukti paling awal pola aksara, konsep komunikasi yang disepakati dan secara efektif mampu menjalin interaksi sesama.

Nusantara timur yang oleh bagi sebagian pendapat dianggap “tidak mengenal budaya tulis” justru realitas yang melandasi pengetahuan budaya yang paling awal, dituangkan melalui lukisan cadas (rock art) Adanya lukisan cadas (rock art) tersebut, tentu saja disertai maksud dan tujuan tertentu, selain merupakan simbol pengetahuan empiris juga harapan kepada generasi akan datang agar merasakan makna komunikatif dirinya dan leluhurnya yang telah melampui perjalanan waktu berabad-abad. Lukisan cadas (rock art) itu adalah gambar, lukisan ataupun pahatan yang dapat dikategori piktografik seperti yang dikenal peradaban Mesir Purba dan Tiongkok kuno merupakan gambar atau lukisan konkrit melalui perkembangan waktu beralih kepada Ideografik berbeda hal dengan Nusantara yang mengambil bentuk Silabik (suku kata).

Lukisan cadas (rock art) adalah perwujudan karyaseni manusia sejak masa prasejarah yang sarat simbol dan lambang; media komunikasi budaya yang sifatnya kognitif serta membuka peluang untuk dapat dipahami. Sarat makna setara yang membuktikan kemampuan manusia protosejarah mengeksternalisasikan gagasan pengetahuan ke dalam keahlian karyaseni menggores dan memahat. Maka sesungguhnya rock art adalah prototipe aksara Nusantara yang melanjutkan perkembangannya ke masa-masa kemudian sebagai kekuatan dasar atas kemampuan yang dimiliki masyarakat Nusantara dengan segenap kekayaan etnisnya.

Dikembalikan kepada definisinya, aksara yang sebenarnya pinjaman atau interferensi kata bahasa Sanskrta, yakni akshara. Didifinisikan sesuatu yang imperishable letter, words syllable, the sacred syllable, sound letter, document, epistle. Istilah yang awalnya ditujukan sebagai sebutan khusus dan hormat kepada the supreme deity, a supreme creational principle, a term used equivalently to bija. Oleh karena itu senarai dengan difinisinya, maka semula aksara dicipta dan hadir dalam wacana teks, ditujukan khusus kepada segala sesuatu hal yang bersifat keagamaan (mantra-mantra suci).

Demikian juga tatkala aksara hadir sebagai teks menggunakan bahasa daerah atau wilayah, di dalam rangka menuliskan segala sesuatu yang “keramat” sesuai dengan keyakinan dan unsur kepercayaan para pemangku budayanya. Dikala itu mungkin belum ada gejala pengaruh atau inovasi luar, sehingga belum diperlukan menyerap kosakata atau istilah bahasa lain. Ketika mobilitas sosial menyeruak dan marak mewarnai kehidupan mulai merasa perlu serapan serapan bahasa yang berada di luar kebudayaan. Unsur-unsur luar itu diadaptasi dan diserap sesuai kebutuhan budaya yang dipengaruhinya. Maka sesungguhnya aksara bukan sekedar gambaran bunyi yang berkaitan kepada konsep azasi manusia sebagai mahluk sosial, Animal Simbolicum; melainkan gift of the supreme deity kepada dayacipta manusia, karena itu pada awalnya digunakan menuliskan segala sesuatu bersifat sakral, yang imperishable letter. Lambat laun fungsinya menjadi pragmatis sebagai media pokok menjembatani komunikasi antar manusia sebagai makhluk sosial.

Dalam kaitan ini tatanan geografis Nusantara telah membuka peluang hubungan terjadinya inovasi sebagai peristiwa (proses) interaksi sosial. Dalam proses interaksi sangat wajar bilamana terjalin komunikasi saling membutuhkan antara unsur yang mempengaruhi dan unsur yang dipengaruhi. Apakah pengaruh tersebut terjadi searah atau dua arah (secara timbal balik), tergantung faktor-faktor peranan pemakainya dan peranan hubungan diantara para pemangku budaya.

Ditemukannya aneka ragam motif lukisan cadas (rock art) merupakan bertahannya konsep dasar gaya seni tersebut, yang diimposisi ulang sebagai motif dasar baik menggambar atau menggores panil-panil pada bangunan suci yang merupakan unsur dan komponen bangunan, alat atau benda-benda upacara, peralatan sehari-hari, juga motif-motif yang ditemukan pada kain (tenun ikat, batik).

Salah satu tradisi menggambar dan menggores, di dalam rangka menuangkan pengalaman empiris hingga kini ditemukan antara lain naskah yang disebut prasen masyarakat Bali. Digoreskan pada daun tal atau kain (fabric), isinya berkenaan dengan hal-hal yang bersifat pujasastra. Oleh karena itu kerap dijumpai prasen bergambar Mahabharata, Ramayana dan Bharatayuddha dan cerita-cerita yang bertaut kepada ajaran-ajaran suci tentang kehidupan dunia dan akhirat atau semacam kalender yang di dalam istilah lokal disebut Palintangan. Bukti lainnya adalah corak pada kain tenun, baik tenun ikat ataupun batik seperti adanya motif flora, fauna, unsur alam yang dipersonifikasi dan diadaptasi ke bentuk modifikasi sedemikian rupa. Sebenarnya representasi wujud atas pemahaman simbol atas makna budaya di lingkungan kehidupannya.

 

Diantara motif motif flora adalah pohon dengan komponennya mengacu simbol pohon kehidupan, tree of life yang kerap dipahat sebagai relief utama bangunan-bangunan suci, seperti kalpawreksa, kalpadaru, kalpadruma, kalpavalli. Lambang kalpa ”keinginan, masa dunia, harapan”; wreksa, daru, druma atau valli dengan kesataraan arti pohon atau kayu. Maka kalpawreksa, kalpadaru, kalpadruma, kalpavalli adalah simbol bermakna pohon pengharapan, pohon masa dunia, pohon yuga (jaman), atau pohon keinginan.

Pohon adalah unsur kayu (Jawa: kekayon) dengan pusatnya gunung, maka pohon, kayu dan gunung bermakna setara yang melambangkan ke-ESA-an sebagai simbol kesatuan jagat semesta. Termasuk motif meru yang melambangkan tingkatan surgawi, karena itu di dalam pengggabaran pohon kehidupan kerap disertakan unsur fauna. Kiranya pula pada tenun ikat juga ditemukan motif-motif manusia (bagian-bagian tubuh seperti badan, genital telapak tangan, atau telapak kaki) manusia tengah memegang senjata dengan posisi berperang, binatang (lipan, babi, anoa, ikan, cumi-cumi), kuda (adakala tampil penunggang), perahu, dan lambang-lambang lainnya.

Aksara karya seni kesenian dalam berbagai pengertian, aktivitas yang terjadi oleh proses “cipta-rasa-karsa” tidak sama tetapi tidak seluruhnya berbeda dengan science dan teknologi. Cipta bidang kesenian mengandung pengertian terpadu antara kreativitas (invention), inovasi yang dipengaruhi rasa (emotion, feeling). Namun logika, daya nalar, mengimbangi emosi dari waktu ke waktu dan terkadang dalam kadar cukup tinggi; rasa, timbul karena dorongan kehendak naluri yang disebut karsa, bersifat personal (kolektif), bergantung kepada lingkungan kebudayaan (But Muchtar dan Soedarsono 1987:01; cf., I Made Bandem 1991:49). Aksara berkait kepada kesenian (sistem) dengan melibatkan bahasa, organisasi sosial, ekonomi, teknologi, kepercayaan dan pengetahuan. Penampilan ekspresif kesenian inilah yang berhubungan erat dengan kebudayaan yang dinyatakan melalui goresan, pahatan gambaran-gambaran tertentu.

Suatu karya dan kesenian adalah kreativitas senantiasa berkembang selaras kreativitas zaman. Maka tiap-tiap jenis dan gaya aksara tampak dengan memiliki keunikan tersendiri merupakan representasi yang diproyeksi sesuai masa, zaman dan lingkungan, tempat dimana individu/kelompok pemangku budaya itu hidup. Di dalam mekanisma menampung dua sektor terpenting kehidupan manusia yang selalu mengalami perluasan berbagai bidang kegiatan. Sektor kebutuhan teknologi dan kebutuhan sektor ilmu pengetahuan. Maka perkembangan gaya dan bentuk aksara berkaitan kepada upaya penyesuaian terhadap perubahan lingkungan dan ilmu pengetahuan teknologi.

Semua gambar yang dipahatkan, dilukiskan dan digoreskan pada berbagai media media, dengan hiasan motif dan gaya aksara, tiada lain berpangkal kepada konsep dasar yang dikenal sejak masa proto sejarah yakni ragam hias geometris (geometrical ornament) dengan dasar ungkapan garis tidak beraturan, pola segitiga (tumpal) a.l. (anyam)-kepang, pilin-(berganda), double spiral, medallion (bulatan), meander dan swastika. Rangkaian pola inilah yang mendasari konsep pengalaman pengetahuan manusia secara kognitif tatkala mewujud bentuk aksara Piktograf –Ideograph- Silabik – Fonetik. Sebagaimana fungsi bahasa, aksara memiliki fungsi alat komunikasi dengan tingkat mutu tertentu. Dalam hal efektivitas penyampaian pesan dalam jangka waktu lebih panjang, juga kemampuan secara langsung berbicara melampaui waktu tentang aspek-aspek kebudayaan tanpa kecuali. Dalam pengertian, aksara adalah pencerminan kebudayaan setelah melalui proses penyesuaian yang lebih sempurna.

 

3. Pamungkas: Aksara “Tat Tvam Asi”

Aksara merupakan karya agung yang merefleksikan kualitas diri manusia sebagai animal simbolicum dalam tataran fenomenologis. Aksara bukan sekadar gambaran bunyi ke dalam wujud simbol angka, tulisan, dan gambar, juga bukan sekadar karya seni budaya. Melainkan seutuhnya penampilan tertinggi kesadaran manusia, kreativitas manusia menangkap struktur kehidupan dengan keberadaan dunia sebagai-mana dianugrahkan Yang Maha Tinggi (Gift). Representasi aksara dalam berbagai aspeknya, secara induktif manusia menyimpulkan esensi kehidupan menjadi bermakna; dan secara abstraktif (nirsadar) membedakan hal-hal yang essensial dan hal-hal yang tidak essensial.

Secara sistematik, aksara berada pada tataran filsafat (imperishable letter), manusia mengetengahkan kodrat (gift of the supreme deity) atas subyektifitasnya, yakni manusia dalam dimensi subyek (Aku). Yang mencakupi ontologik, Fungsional dan Mitik. Aku Ontologik mendasari dimensi ketika Aku me-ngambil jarak pada objek, meneliti dan menguasai secara instrumental–teknologik, penerapan sistematikal akal budi (dayacipta) kolektif di dalam lingkup kebudayaan. Proses pembudayaan yang berlangsung secara dialektik, yakni subyek yang merujuk kepada obyek dan pada saat yang sama berlangsung obyek merujuk kepada subyek. Aku Fungsional adalah manusia melihat dirinya secara intensioanalitas bersumber kepada subyek. Dimana Aku manusia adalah makhluk dinamika secara abstrak menangkap dan memaknai warna-warna kehidupan. Di sini yang dimaksud makna adalah persepsi atau ekspresi internal (gagasan) yang dipresentasi ke bentuk aksara dan bahasa (langue – parole).

Aksara(dan bahasa) sebagai dayacipta akalbudi manusia dalam tatanan Aku Mitik. Proses dimana Aku manusia melebur (sublim) dengan kekuatan alam tiada lain adalah sikap religius dengan kekuatan transedensi nya mengatasi kesadaran dirinya sebagai makhluk yang mewujud karena gift tadi (Aku adalah dirinya, Aku ada karena tiada, tiada yang ada jika tidak ada yang tiada).

Aku ontologik, Aku Fungsional, Aku Mitik merupakan proses pengejawantahan manusia dengan segenap unsur biologisnya menempatkan, menyeimbangkan dan menyatukan dirinya ke dalam tatanan unsur-unsur dan energi-energi alam semesta. Sebab manusia sebagai organisme dengan struktur yang subsisten, artinya secara biologis selalu memperbaharui diri (bermakna), dimana Aku sebagai subyek bukan sekedar tindakan melainkan subyek dari pemikiran yang refleksif yang membawa kepada pengenalan diri ”ego-cogito”. Aksara merupakan wujud pengenalan diri dengan menjalin hubungan terhadap alam, disamping kelangsungan menghayati diri sebagai hakikat ”transedensi” yang bereksistensi. Sebagaimana dikemukakan oleh M. Marleau-Ponty, bahwa:

 

”… at the root off all our experiences and all our reflections, we find then , a being which immediately recognize itself, because it is knowledge both of itself and all the things, and which knows its own existence, not by observation and as a given fact, not by inference from any idea itself, but through direct contrast with that existence…”. Aksara adalah eidos, mitik simbolik dari fungsi-fungsi somatik keberadaan dan keunggulan karyaseni budaya manusia sebagai makhluk historis Aku Dalam Budaya ” Cogito Ergo Sum” atau ”Tat Tvam Asi”.

 

Cag-Peun

Tlas sinurat ing Bintaro

Richadiana Kadarisman Kartakusuma M.Hum

 

Published in: on 10 April 2009 at 16:14  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.